KHAMENEI.ID– Ada masa ketika manusia mengira kebenaran hanya dapat dijaga oleh logika. Segala sesuatu harus diukur dengan argumentasi, data, dan penalaran. Emosi dianggap mengganggu kejernihan berpikir. Namun sejarah menunjukkan kenyataan yang berbeda: banyak gagasan besar bertahan bukan semata karena benar, melainkan karena dicintai.
Di situlah letak salah satu rahasia besar dalam perjalanan panjang tradisi Syiah. Sejak awal kemunculannya hingga hari ini, ada satu unsur yang terus mengalir dan menjaga keberlangsungannya: arus cinta. Bukan cinta yang kosong, bukan pula emosi yang membutakan, melainkan cinta yang bertumpu pada kebenaran.
Al-Qur’an sendiri menyinggung hal ini dalam sebuah ayat yang sangat terkenal:
قُل لَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ أَجْرًا إِلَّا الْمَوَدَّةَ فِي الْقُرْبَىٰ
“Katakanlah: Aku tidak meminta imbalan apa pun atas risalah ini kecuali kasih sayang kepada kerabat dekatku” (QS. Asy-Syura: 23)
Ayat ini sering dibaca sebagai seruan untuk mencintai keluarga Nabi saw. Namun jika direnungkan lebih dalam, ia mengandung pesan yang jauh lebih luas. Risalah tidak hanya diwariskan melalui hukum, ajaran, dan pengetahuan. Ia juga diwariskan melalui ikatan hati. Kebenaran yang tidak menyentuh perasaan sering kali berhenti di kepala. Sebaliknya, kebenaran yang berhasil memasuki hati mampu bertahan lintas generasi.
Karena itu, merusak atau melemahkan kecintaan kepada Ahlul Bait bukan sekadar persoalan emosional. Ia berarti memutus salah satu jembatan paling kuat yang menghubungkan manusia dengan nilai-nilai yang mereka perjuangkan.
Menariknya, sejarah para imam menunjukkan kenyataan yang kadang luput diperhatikan. Di sekitar Imam Baqir a.s dan Imam Ja’far Shadiq a.s terdapat banyak ulama besar, ahli hadis, dan pakar hukum yang luar biasa. Nama-nama seperti Zararah dan Muhammad bin Muslim dikenal sebagai penjaga ilmu yang setia. Mereka meriwayatkan ajaran, menjelaskan hukum, serta mendokumentasikan berbagai aspek agama dengan ketelitian yang mengagumkan.
Namun di samping para ilmuwan itu, para imam juga memberikan perhatian khusus kepada para penyair.
Mengapa?
Bukankah seorang ahli fikih lebih penting daripada seorang penyair?
Pertanyaan itu tampaknya logis. Tetapi sejarah memberi jawaban yang mengejutkan.
Ilmu mengajarkan manusia apa yang benar. Sementara puisi membuat manusia mencintai kebenaran itu.
Keduanya tidak saling menggantikan.
Keduanya saling melengkapi.
Karena itulah nama-nama seperti Di’bil al-Khuza’i, Sayyid Himyari, dan Kumait bin Zaid memiliki tempat yang istimewa dalam sejarah Syiah. Mereka bukan sekadar penyair yang pandai merangkai kata. Mereka adalah penjaga memori kolektif umat. Melalui bait-bait puisi, mereka mengubah ajaran menjadi getaran perasaan, mengubah sejarah menjadi pengalaman batin.
Kisah Di’bil al-Khuza’i menjadi contoh yang sangat menarik. Suatu ketika ia menemui Imam Ridha a.s di Khurasan. Ia membawa sebuah deretan syair yang telah lama disusunnya dan berjanji dalam hati bahwa syair itu tidak akan dibacakan kepada siapa pun sebelum dibacakan kepada sang imam.
Ketika syair itu selesai dibacakan, Imam Ridha a.s sangat tersentuh. Beliau kemudian mengirimkan sejumlah dinar sebagai hadiah perjalanan. Namun Di’bil menolaknya. Ia menjelaskan bahwa dirinya tidak datang demi uang. Ia tidak menulis syair itu untuk mendapatkan imbalan materi.
Yang ia minta justru sesuatu yang jauh lebih sederhana: sehelai pakaian milik sang imam.
Permintaan itu menunjukkan bahwa hubungan yang terbangun bukan hubungan antara penyair dan patron. Bukan pula hubungan antara seniman dan pemberi hadiah. Yang ada adalah hubungan cinta dan penghormatan yang tulus.
Dalam pandangan Di’bil, pakaian itu lebih berharga daripada ratusan dinar. Ia adalah simbol kedekatan hati.
Kisah serupa tampak pada Sayyid Himyari. Imam Ja’far Shadiq a.s pernah memujinya dengan kalimat yang sangat istimewa. Beliau menyebutnya sebagai “pemimpin para penyair”. Sebuah penghormatan yang tidak diberikan karena keindahan bahasa semata, melainkan karena arah yang ditempuh oleh puisi-puisinya.
Sayyid Himyari menggunakan syair untuk membela nilai-nilai yang diyakininya. Ia tidak menjadikan puisi sebagai alat mencari keuntungan dari penguasa. Ia menjadikan puisi sebagai bentuk kesaksian.
Dalam salah satu baitnya, ia menggambarkan perbedaan antara memuji raja demi hadiah dan memuji keluarga Nabi saw karena cinta. Yang pertama lahir dari harapan memperoleh sesuatu. Yang kedua lahir dari keyakinan.
Perbedaan itu tampak sederhana, tetapi sesungguhnya sangat mendasar.
Di zaman modern, fenomena ini masih relevan. Kita hidup di era informasi yang melimpah. Ceramah tersedia di mana-mana. Buku dapat diakses dengan mudah. Pengetahuan agama tersebar dalam jumlah yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Namun mengapa banyak orang tetap merasa hampa?
Salah satu jawabannya mungkin karena pengetahuan tidak selalu diiringi keterikatan emosional. Kita mengetahui banyak hal, tetapi tidak selalu mencintainya. Kita memahami berbagai konsep, tetapi tidak selalu merasakannya.
Padahal manusia bukan hanya makhluk yang berpikir. Ia juga makhluk yang mencintai.
Karena itu, sepanjang sejarah, syair, kisah, elegi, pujian, dan berbagai bentuk ekspresi seni memiliki peran yang sangat besar dalam menjaga kehidupan spiritual masyarakat. Mereka menghubungkan akal dengan hati. Mereka membuat nilai-nilai yang abstrak menjadi hidup dan terasa dekat.
Di sinilah makna penting dari “arus emosional yang bertumpu pada kebenaran”. Emosi tidak dipandang sebagai lawan logika. Sebaliknya, ia menjadi kendaraan yang membawa logika menuju kedalaman jiwa.
Kebenaran yang hanya dipahami mungkin akan diingat. Tetapi kebenaran yang dicintai akan diperjuangkan.
Mungkin itulah sebabnya sejarah tidak hanya mengingat para ahli ilmu yang mencatat ajaran para imam. Sejarah juga mengingat para penyair yang membuat ajaran itu berdenyut dalam hati manusia. Sebab pada akhirnya, sebuah peradaban tidak bertahan hanya karena memiliki argumen yang kuat. Ia bertahan karena ada orang-orang yang mencintainya dengan sepenuh jiwa.
Dan selama cinta itu tetap berakar pada kebenaran, ia tidak akan menjadi emosi yang membutakan. Ia justru menjadi cahaya yang menjaga arah perjalanan manusia.







