Jangan Serahkan Jalanmu kepada Janji Orang Lain 

KHAMENEI.ID– Ada kalanya masalah terbesar dalam sebuah hubungan bukan terletak pada kerasnya perbedaan, melainkan pada hilangnya kepercayaan. Dua pihak boleh berbeda kepentingan, bahkan saling berhadapan sebagai lawan. Mereka masih mungkin duduk satu meja selama ada keyakinan bahwa kata-kata yang diucapkan hari ini tidak akan disangkal esok pagi.

Negosiasi, dalam pengertian paling sederhana, memang lahir dari perbedaan. Ia mengandaikan dua pihak yang sama-sama memiliki kepentingan, lalu mencari titik temu melalui pertukaran: sesuatu diberikan, sesuatu diterima. Karena itu, persoalannya bukan semata-mata apakah kita harus berbicara dengan lawan atau tidak. Persoalannya jauh lebih mendasar: apakah lawan itu dapat dipercaya ketika telah membuat janji?

Pengalaman perjanjian nuklir Iran dengan negara-negara Barat, dalam sebuah pidato yang disampaikan Ayatollah Sayyid Ali Khamenei qs, menjadi salah satu pelajaran tentang pertanyaan tersebut. Perjanjian, pada akhirnya, tidak hanya diuji oleh tanda tangan dan dokumen. Ia diuji oleh kesediaan para pihak untuk mematuhi apa yang telah disepakati.

Di sinilah politik bertemu dengan sesuatu yang sangat manusiawi: janji.

Seorang musuh sekalipun, jika ia dikenal memegang perkataannya, masih memungkinkan diajak berbicara. Perselisihan tidak otomatis menutup pintu diplomasi. Bahkan sejarah menunjukkan bahwa banyak konflik besar berakhir justru karena pihak-pihak yang bertikai bersedia duduk berhadapan.

Namun meja perundingan kehilangan maknanya ketika salah satu pihak datang bukan untuk mencari kesepakatan, melainkan untuk mengambil keuntungan sepihak. Lebih buruk lagi, ketika janji yang sudah diberikan dapat dibatalkan tanpa rasa bersalah, sementara pelanggaran itu kemudian dibungkus dengan senyum, bahasa diplomatik, dan berbagai alasan.

Pada titik itu, masalahnya bukan lagi sekadar isi perjanjian. Masalahnya adalah kepercayaan.

Sebab negosiasi bukanlah sekadar pertemuan, percakapan, tawa, atau jabat tangan. Di balik meja perundingan selalu ada pertukaran kepentingan. Ada sesuatu yang diberikan dan sesuatu yang diharapkan sebagai imbalan. Jika satu pihak terus-menerus memperoleh konsesi sementara pihak lain tidak pernah menerima apa yang dijanjikan, maka negosiasi berubah menjadi permainan satu arah.

Baca Juga  Belajar dari Sejarah: Hikmah Perang dan Pentingnya Mengambil Ibrah

Yang satu menyerahkan sesuatu yang nyata. Yang lain menjanjikan sesuatu yang belum tentu pernah datang.

Dalam bahasa yang lebih sederhana: keuntungan diambil sekarang, sementara janji pembayaran dibiarkan menggantung.

Gagasan itu membawa kita pada persoalan yang lebih luas tentang hubungan antara kekuatan dan janji. Sebuah negara besar dapat memiliki ekonomi, teknologi, militer, dan pengaruh diplomatik yang jauh lebih kuat. Tetapi kekuatan material tidak dengan sendirinya membuat sebuah janji menjadi bermartabat. Justru ketika sebuah kekuatan merasa dapat melanggar kesepakatan hanya karena memiliki kemampuan untuk melakukannya, persoalan yang muncul bukan lagi soal diplomasi, melainkan soal watak kekuasaan.

Dalam tradisi Islam, gambaran tentang janji yang palsu memiliki akar yang lebih tua daripada politik modern. Al-Quran menggambarkan bagaimana setan kelak berkata kepada para pengikutnya:

إِنَّ اللَّهَ وَعَدَكُمْ وَعْدَ الْحَقِّ وَوَعَدْتُكُمْ فَأَخْلَفْتُكُمْ

“Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepada kalian janji yang benar, sedangkan aku menjanjikan kepada kalian lalu aku mengingkarinya” (QS. Ibrahim: 22)

Lalu datang kalimat yang mungkin terasa lebih getir:

فَلَا تَلُومُونِي وَلُومُوا أَنْفُسَكُمْ

“Janganlah kalian mencela aku, tetapi celalah diri kalian sendiri” (QS. Ibrahim: 22)

Ayat itu bukan sekadar kisah tentang kehidupan akhirat. Ia juga mengandung sebuah peringatan tentang mekanisme tipu daya: janji yang terdengar indah dapat membuat manusia menyerahkan pertimbangan kritisnya. Seseorang bisa mengikuti sebuah janji bukan karena janji itu terbukti benar, melainkan karena ia ingin mempercayainya.

Di titik ini, persoalan politik berubah menjadi persoalan manusia.

Mengapa manusia terus percaya kepada pihak yang berkali-kali mengecewakannya? Mengapa pengalaman tidak selalu cukup untuk membuat seseorang belajar? Mengapa janji yang telah berkali-kali patah masih mampu membius ketika dikemas dengan bahasa yang meyakinkan?

Baca Juga  Persatuan Islam Dalam Ketaatan Kepada Rasulullah saw

Barangkali karena manusia memang mudah terpikat oleh kemungkinan. Masa depan selalu tampak lebih indah ketika dibicarakan sebagai janji.

Itulah sebabnya pengalaman politik tidak semestinya hanya menjadi arsip para pejabat. Ia harus menjadi pengetahuan publik. Terutama bagi generasi muda, yang kelak akan mewarisi keputusan-keputusan hari ini.

Syahid Ali Khamenei dalam pidatonya menyerukan agar anak-anak muda tidak sekadar menerima begitu saja pernyataan tentang kebijakan besar sebuah negara. Mereka diminta duduk, berpikir, menganalisis, dan membaca pengalaman. Sebab kebijakan luar negeri bukan hanya urusan diplomat. Ia menyangkut masa depan masyarakat yang akan menanggung akibatnya.

Gagasan ini penting bahkan di luar konteks hubungan Iran dan Amerika Serikat. Dunia hari ini dipenuhi janji: janji investasi, janji perdamaian, janji kerja sama, janji bantuan, janji perubahan. Negara membuat janji kepada negara lain. Pemerintah membuat janji kepada rakyat. Perusahaan membuat janji kepada konsumennya. Pemimpin membuat janji kepada para pemilih.

Karena itu, ukuran kedewasaan politik bukanlah seberapa pandai kita mempercayai janji, melainkan seberapa cermat kita menilai siapa yang mengucapkannya.

Kepercayaan tidak seharusnya diberikan secara buta. Ia dibangun oleh rekam jejak.

Pada akhirnya, politik yang sehat bukan politik yang menolak percakapan dengan siapa pun. Politik yang sehat justru tahu kapan harus berbicara, dengan siapa harus berbicara, apa yang dapat dipertukarkan, dan kapan sebuah janji telah kehilangan nilainya.

Ada perbedaan besar antara keberanian berdiplomasi dan ketergantungan pada diplomasi. Yang pertama lahir dari posisi yang sadar akan kepentingannya. Yang kedua dapat membuat seseorang terus berharap kepada pihak yang tak pernah sungguh-sungguh berniat memenuhi harapan itu.

Mungkin karena itu sebuah bangsa perlu memiliki jalannya sendiri. Bukan karena dunia tidak membutuhkan kerja sama, melainkan karena kerja sama hanya mungkin berlangsung dengan baik jika setiap pihak memiliki pijakan.

Baca Juga   Panggilan Haji Nabi Ibrahim: Seruan yang Tak Pernah Berhenti untuk Seluruh Umat Manusia

Jangan sampai sebuah bangsa terlalu sibuk mengejar janji orang lain hingga lupa membangun kekuatannya sendiri.

Sebab pada akhirnya, yang membuat seseorang mampu berdiri di meja perundingan bukan hanya kemampuan berbicara. Ia adalah kemampuan untuk berkata tidak ketika diperlukan, dan tetap berjalan ketika janji yang ditawarkan ternyata hanya bayangan.

Di dunia yang penuh kata-kata, mungkin pelajaran paling berharga dari sebuah perjanjian yang gagal adalah ini: jangan menilai sebuah janji dari indahnya ucapan, melainkan dari keberanian orang yang mengucapkannya untuk menepatinya.

Bagikan:
Terkait
Komentar