KHAMENEI.ID– Di dunia politik, kecerdikan sering kali diukur dari kemampuan seseorang memenangkan permainan. Semakin lihai menyusun strategi, semakin piawai memanipulasi opini, semakin cakap menyembunyikan niat di balik kata-kata, maka semakin dianggap berhasil. Dalam logika seperti itu, kejujuran sering dipandang sebagai kelemahan. Etika dianggap beban. Integritas dinilai menghambat langkah.
Namun sejarah menghadirkan sosok yang berdiri berseberangan dengan cara pandang tersebut. Ia adalah Imam Ali bin Abi Thalib a.s, pemimpin yang menunjukkan bahwa politik tidak harus dibangun di atas tipu daya. Justru karena memegang teguh ketakwaan, ia menolak menggunakan jalan-jalan yang lazim dipakai banyak penguasa untuk mempertahankan kekuasaan.
Suatu ketika Imam Ali a.s berkata:
لَوْلَا التَّقْوَى لَكُنْتُ أَدْهَى الْعَرَبِ
“Seandainya bukan karena takwa, aku akan menjadi orang Arab yang paling cerdik dan paling lihai.”
Kalimat ini menarik karena mengandung pengakuan yang jarang ditemukan pada seorang pemimpin. Imam Ali a.s tidak mengatakan dirinya tidak mampu berpolitik. Ia tidak mengatakan dirinya tidak memahami strategi. Sebaliknya, ia menegaskan bahwa dirinya mampu memainkan permainan itu. Ia tahu cara memengaruhi orang, memahami siasat lawan, dan mengenali celah-celah kekuasaan.
Tetapi ada satu hal yang membatasi dirinya: takwa.
Di sinilah letak perbedaan mendasar antara politik berbasis moral dan politik berbasis kepentingan. Yang pertama bertanya, “Apakah ini benar?” Sedangkan yang kedua hanya bertanya, “Apakah ini menguntungkan?”
Dalam sejarah Islam, nama Muawiyah sering disebut sebagai sosok yang terkenal dengan kecerdikan politiknya. Banyak orang menganggap keberhasilannya sebagai bukti keunggulan strategi. Namun Imam Ali a.s memberikan penilaian yang sangat tajam terhadap anggapan tersebut.
Beliau berkata:
وَاللهِ مَا مُعَاوِيَةُ بِأَدْهَى مِنِّي
“Demi Allah, Muawiyah tidak lebih cerdik dariku”
Lalu beliau menjelaskan perbedaannya:
“Tetapi ia berkhianat dan melanggar batas. Jika pengkhianatan tidak dibenci, niscaya aku termasuk manusia yang paling cerdik”
Pernyataan ini membuka tabir yang sering tertutup dalam kehidupan politik. Tidak semua kemenangan menunjukkan keunggulan. Kadang seseorang tampak lebih berhasil karena ia bersedia melakukan hal-hal yang tidak ingin dilakukan oleh orang yang berprinsip.
Orang yang tidak terikat oleh nilai dapat dengan mudah menyebarkan fitnah, mengingkari janji, memutarbalikkan fakta, atau memanfaatkan ketakutan masyarakat untuk meraih dukungan. Langkahnya terlihat cepat karena tidak ada rem moral yang menahannya.
Sebaliknya, orang yang bertakwa selalu membawa beban yang tidak terlihat: tanggung jawab di hadapan Tuhan dan nurani. Ia tidak bisa sembarangan berbicara. Ia tidak bisa menghalalkan segala cara. Ia harus memastikan bahwa kemenangan yang diraih tidak dibangun di atas kebohongan.
Karena itu, dalam pandangan Imam Ali a.s, kecerdasan yang tidak dikendalikan oleh moral bukanlah keutamaan. Ia justru dapat berubah menjadi alat perusak yang sangat berbahaya.
Pandangan ini juga terlihat dalam salah satu pidatonya setelah wafatnya Rasulullah saw. Dalam pidato tersebut, Imam Ali a.s memberikan serangkaian nasihat sosial yang terasa sangat relevan hingga hari ini. Ia mengatakan bahwa kelembutan dalam berbicara merupakan bagian dari kemuliaan. Menyebarkan salam adalah bagian dari ibadah. Menutupi aib saudara merupakan akhlak yang harus dijaga.
Lalu ia memperingatkan masyarakat dengan kalimat yang sangat tegas:
إِيَّاكَ وَالْخَدِيعَةَ فَإِنَّهَا مِنْ خُلُقِ اللَّئِيمِ
“Jauhilah tipu daya, karena itu adalah akhlak orang yang rendah”
Di tengah zaman digital yang dipenuhi manipulasi informasi, pesan ini terasa semakin penting. Hari ini tipu daya tidak selalu hadir dalam bentuk konspirasi besar. Ia bisa muncul melalui potongan video yang dipelintir, berita yang sengaja dipotong konteksnya, fitnah yang disebarkan melalui media sosial, atau citra palsu yang dibangun demi kepentingan politik dan ekonomi.
Teknologi berkembang sangat cepat, tetapi godaan untuk menipu tetap sama seperti berabad-abad lalu. Yang berubah hanyalah medianya.
Imam Ali a.s tampaknya ingin mengingatkan bahwa ukuran kemajuan sebuah masyarakat bukan terletak pada kecanggihan alat yang dimilikinya, melainkan pada kualitas moral orang-orang yang menggunakannya.
Di sinilah relevansi besar ketakwaan dalam kehidupan publik. Takwa bukan sekadar urusan ritual pribadi. Ia adalah kemampuan mengendalikan diri ketika memiliki kesempatan untuk berbuat curang. Takwa adalah keberanian mengatakan yang benar ketika kebohongan lebih menguntungkan. Takwa adalah kemampuan menolak jalan pintas meskipun jalan itu tampak menjanjikan kemenangan.
Dalam banyak kasus, orang yang mempertahankan prinsip memang terlihat kalah dalam jangka pendek. Mereka kehilangan jabatan, dukungan, atau popularitas. Tetapi sejarah menunjukkan bahwa kemenangan yang dibangun di atas pengkhianatan sering kali berumur pendek. Sebaliknya, integritas yang dipertahankan dengan susah payah justru bertahan melampaui usia pemiliknya.
Lebih dari seribu tahun setelah wafatnya, orang masih mengenang Imam Ali a.s bukan karena keberhasilannya menguasai panggung politik, melainkan karena keberhasilannya menjaga kehormatan moral di tengah kerasnya pertarungan politik. Ia menjadi simbol bahwa kekuasaan dan etika tidak harus dipisahkan.
Mungkin inilah pelajaran paling penting yang diwariskannya kepada dunia modern: kecerdasan adalah anugerah, tetapi tanpa ketakwaan ia dapat berubah menjadi senjata yang melukai banyak orang. Politik membutuhkan strategi, tetapi strategi tanpa moral hanya akan menghasilkan kemenangan yang rapuh.
Pada akhirnya, sejarah tidak selalu mengingat siapa yang paling licik. Sejarah lebih sering mengingat siapa yang tetap bersih ketika semua orang tergoda untuk mengotori tangannya sendiri.







