Peradaban Tidak Dibangun oleh Amarah: Refleksi tentang Strategi, Kesabaran, dan Perlawanan

KHAMENEI.ID— Ada satu kesalahpahaman yang sering muncul ketika berbicara tentang “perlawanan”. Seolah-olah keberanian cukup diukur dari seberapa keras seseorang berteriak, seberapa cepat bereaksi, atau seberapa nekat menghadapi tekanan. Dalam dunia yang serba impulsif hari ini, di media sosial, politik, bahkan kehidupan sehari-hari, emosi sering dianggap lebih mulia daripada pertimbangan. Padahal sejarah justru berkali-kali menunjukkan: banyak bangsa hancur bukan karena mereka tidak berani melawan, melainkan karena mereka melawan tanpa arah.

Di tengah suasana seperti itulah, muncul gagasan yang menarik: gagasan tentang resistensi yang disertai akal sehat. Bahwa bertahan bukan berarti bertindak membabi buta. Bahwa perjuangan tidak boleh dipisahkan dari ilmu, strategi, dan pertimbangan matang.

Dalam sebuah riwayat, Nabi Muhammad saw berbicara kepada Abdullah bin Mas‘ud, salah satu sahabat dekatnya. Beliau berkata:

یا ابن مسعود! اذا عملت عملاً فاعمل بعلم و عقل

“Wahai Ibn Mas‘ud, jika engkau melakukan suatu pekerjaan, lakukanlah dengan ilmu dan akal”

Kalimat itu terasa sederhana, tetapi justru di situlah kedalamannya. Nabi tidak mengatakan “gunakan akal hanya dalam urusan besar” atau “gunakan ilmu hanya dalam perkara agama”. Tidak ada pengecualian. Semua tindakan manusia harus berpijak pada pengetahuan dan pertimbangan.

Lalu beliau melanjutkan dengan peringatan yang lebih keras:

و ایّاك و ان تعمل عملا بغیر تدبیر و علم

“Jangan sekali-kali melakukan sesuatu tanpa perencanaan dan pengetahuan”

Kata tadbir dalam bahasa Arab tidak sekadar berarti “rencana”. Ia mengandung makna melihat akibat sebelum bertindak, memperhitungkan dampak jangka panjang, memahami medan, dan tidak terjebak pada ledakan emosi sesaat. Dalam bahasa modern, mungkin kita menyebutnya strategi.

Menariknya, Nabi saw kemudian mengutip sebuah gambaran yang sangat puitis dari Al-Qur’an:

Baca Juga  Agama yang Kehilangan Kehangatan: Saat Kesalehan Tidak Lagi Menenangkan

ولا تکونوا کالّتی نقضت غزلها من بعد قوة انکاثا

Janganlah seperti perempuan yang telah memintal benangnya kuat-kuat, lalu ia uraikan kembali hingga rusak” (QS. An-Nahl:92)

Gambaran itu terasa begitu manusiawi. Bayangkan seseorang bekerja keras siang malam, menyusun benang menjadi tenunan yang kuat, tetapi setelah selesai justru merusaknya sendiri. Seluruh tenaga habis sia-sia. Itulah, yang terjadi ketika sebuah masyarakat bergerak tanpa ilmu dan tanpa kebijaksanaan: mereka menghancurkan kekuatan yang sebenarnya sudah mereka bangun sendiri.

Pesan ini terasa sangat relevan dengan dunia modern. Kita hidup di zaman reaksi cepat. Orang berlomba memberi komentar sebelum memahami masalah. Kemarahan lebih viral daripada analisis. Bahkan dalam isu sosial dan politik, banyak orang merasa bahwa semakin emosional sikapnya, semakin tinggi moralitasnya. Akibatnya, ruang publik sering dipenuhi kegaduhan, tetapi miskin arah.

Padahal tidak semua keberanian melahirkan perubahan. Ada keberanian yang justru mempercepat kehancuran.

Dalam teks tersebut ditegaskan bahwa “perlawanan yang disertai perencanaan” merupakan salah satu prinsip penting dalam sistem Islam. Artinya, resistensi bukan sekadar slogan heroik. Ia harus dibangun di atas kajian, musyawarah, dan kerja intelektual yang serius.

Di sinilah letak perbedaan besar antara keteguhan dan kenekatan.

Keteguhan lahir dari kesadaran. Ia tenang, sabar, tetapi tidak menyerah. Sementara kenekatan sering lahir dari ego dan kemarahan sesaat. Ia tampak berani di permukaan, tetapi mudah runtuh ketika berhadapan dengan kenyataan.

Ada satu bahaya lain yang mengintai: propaganda. Disebutkan bahwa musuh sering berusaha menafsirkan setiap langkah secara negatif, lalu sebagian orang tanpa sadar menjadi “corong gratis” yang mengulang narasi tersebut tanpa berpikir mendalam. Kalimat ini terasa sangat kontemporer di era media sosial hari ini. Betapa mudahnya opini dibentuk oleh potongan video, judul sensasional, atau emosi kolektif. Orang membagikan sesuatu bukan karena memahami isinya, tetapi karena sesuai dengan kemarahan yang sedang populer.

Baca Juga  Syarah Hadits Oleh Ayatullah Sayyid Ali Khamenei qs pada Awal Pelajaran Fikih Tingkat Tinggi tentang Tugas Orang-Orang Kaya

Akibatnya, masyarakat kehilangan kemampuan paling penting dalam peradaban: kemampuan berpikir jernih.

Satu hal yang membuat sebuah keputusan memiliki “tingkat kepercayaan” lebih tinggi: ketika ia lahir dari proses berpikir, kajian, konsultasi, dan pertimbangan mendalam.

Ini poin yang sering hilang dalam budaya politik modern. Kita hidup di masa ketika banyak orang menginginkan solusi instan untuk masalah kompleks. Semua harus cepat, sederhana, dan hitam-putih. Padahal urusan masyarakat, negara, bahkan kehidupan pribadi, hampir selalu penuh lapisan. Ada faktor ekonomi, psikologi, sejarah, budaya, dan geopolitik yang tidak bisa dipahami hanya lewat satu unggahan singkat.

Karena itu, resistensi yang cerdas bukan berarti pasif. Justru sebaliknya: ia aktif, tetapi terukur. Ia bergerak, tetapi memahami arah. Ia tidak mudah dipancing emosi, sebab ia tahu bahwa musuh terbesar sebuah bangsa kadang bukan tekanan dari luar, melainkan kepanikan dari dalam.

Mungkin di situlah relevansi terdalam teks ini bagi manusia modern. Bahwa dunia hari ini tidak kekurangan semangat, tetapi kekurangan kebijaksanaan. Kita tidak kekurangan suara, tetapi kekurangan kejernihan berpikir. Banyak orang ingin mengubah dunia, tetapi sedikit yang mau bersabar menyusun strategi.

Padahal peradaban besar tidak dibangun oleh ledakan emosi sesaat. Ia dibangun oleh ketahanan panjang, oleh akal yang bekerja diam-diam, oleh kemampuan menahan diri ketika provokasi datang, dan oleh keberanian untuk tetap berpikir jernih di tengah kebisingan.

Sebab pada akhirnya, perlawanan paling kuat bukanlah teriakan paling keras. Melainkan kemampuan untuk tetap teguh tanpa kehilangan akal sehat.

Bagikan:
Terkait
Komentar