Istighfar dan Keteguhan di Tengah Perjuangan

KHAMENEI.ID– Ada masa ketika manusia merasa bahwa masalah terbesar dalam hidupnya berada di luar dirinya: musuh yang datang, keadaan yang memburuk, jalan yang terasa buntu. Dalam situasi semacam itu, orang biasanya mencari kekuatan dengan memperbesar tenaga, menyusun strategi, atau menghimpun sebanyak mungkin dukungan. Al-Quran menawarkan satu jalan yang tampak sederhana, tetapi justru sering luput: istighfar.

Istighfar kerap dipahami sebagai ucapan untuk menebus dosa pribadi. Seseorang merasa bersalah, lalu berkata astaghfirullah. Setelah itu ia kembali menjalani hidup. Namun Al-Quran menghadirkan gambaran yang jauh lebih luas. Istighfar ternyata bukan hanya perkara membersihkan batin seseorang. Ia juga berkaitan dengan keteguhan ketika menghadapi tekanan, bahkan dengan pertolongan Tuhan dalam perjuangan yang paling berat.

Gambaran itu muncul dalam Surah Ali Imran, ketika Al-Quran menceritakan orang-orang yang berjuang bersama para nabi. Mereka bukan manusia yang memilih berdiam diri ketika keadaan genting. Mereka hadir di medan perjuangan, menghadapi musuh dan menanggung luka. Di sana, Al-Quran menggambarkan keteguhan mereka:

وَكَأَيِّنْ مِنْ نَبِيٍّ قَاتَلَ مَعَهُ رِبِّيُّونَ كَثِيرٌ فَمَا وَهَنُوا لِمَا أَصَابَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَمَا ضَعُفُوا وَمَا اسْتَكَانُوا ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الصَّابِرِينَ


“Betapa banyak nabi yang berperang bersama sejumlah besar pengikutnya yang bertakwa. Mereka tidak menjadi lemah karena musibah yang menimpa mereka di jalan Allah, tidak kehilangan kekuatan dan tidak menyerah. Allah mencintai orang-orang yang sabar” (QS. Ali Imran: 146)

Ada sesuatu yang menarik dari ayat ini. Para pengikut nabi itu mengalami penderitaan, tetapi penderitaan tidak otomatis membuat mereka runtuh. Mereka terluka, tetapi tidak kehilangan arah. Mereka menghadapi ancaman, tetapi tidak menyerahkan kehendaknya kepada ketakutan.

Lalu Al-Quran memperlihatkan doa mereka:

Baca Juga  Sabar Revolusioner: Pelajaran Imam Ali tentang Menahan Diri demi Kemenangan yang Lebih Besar

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَإِسْرَافَنَا فِي أَمْرِنَا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ


“Ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan kami yang berlebihan dalam urusan kami. Teguhkanlah langkah kami dan tolonglah kami menghadapi kaum yang ingkar” (QS Ali Imran: 147)

Urutan doa itu layak direnungkan. Mereka tidak langsung berkata, “Teguhkan kaki kami,” atau, “Menangkan kami.” Mereka lebih dulu memohon ampun. Mereka mengakui dosa, kekeliruan, dan tindakan berlebihan. Setelah itu barulah mereka memohon keteguhan dan pertolongan.

Di titik ini, istighfar memperoleh makna yang lebih dalam. Ia bukan sekadar kalimat yang diucapkan setelah seseorang melakukan kesalahan. Istighfar adalah keberanian untuk mengakui bahwa dalam perjuangan sekalipun manusia dapat keliru, berlebihan, lalai, atau menyimpang. Pengakuan semacam itu membuat seseorang tidak terperangkap dalam kesombongan moral; perasaan bahwa karena berada di pihak yang dianggap benar, segala tindakannya otomatis benar.

Barangkali justru di situlah salah satu kekuatan istighfar. Ia membersihkan hubungan manusia dengan Tuhan sekaligus meluruskan cara manusia melihat dirinya sendiri.

Sebab perjuangan tidak selalu gagal karena musuh terlalu kuat. Kadang-kadang ia gagal karena orang-orang yang berjuang kehilangan kejernihan. Mereka terlalu percaya kepada kemampuan sendiri. Mereka lupa bahwa keberanian tanpa kerendahan hati dapat berubah menjadi kecerobohan, sementara keyakinan tanpa introspeksi dapat menjelma kesombongan.

Al-Quran kemudian menyebut jawaban Tuhan atas doa mereka:

فَآتَاهُمُ اللَّهُ ثَوَابَ الدُّنْيَا وَحُسْنَ ثَوَابِ الْآخِرَةِ


“Maka Allah memberikan kepada mereka pahala dunia dan pahala yang baik di akhirat.” (QS. Ali Imran: 148)

Menarik bahwa “dunia” disebut lebih dahulu. Seolah-olah pertolongan Tuhan tidak selalu harus menunggu kehidupan setelah kematian. Ada jawaban yang diberikan di dunia: keteguhan, keberhasilan, jalan keluar, dan kemampuan untuk melewati keadaan yang sulit.

Baca Juga  Ali dan Ukuran Kebenaran: Ketika Simbol Agama Menjadi Alat Tipu Daya 

Gagasan ini terasa relevan ketika kehidupan modern semakin sering menempatkan manusia dalam medan perjuangan yang tidak berbentuk perang. Ada keluarga yang berusaha bertahan dari krisis. Ada masyarakat yang menghadapi ketidakadilan. Ada seseorang yang mempertahankan prinsip di tengah tekanan lingkungan. Ada orang-orang yang bekerja untuk perubahan, tetapi berulang kali berhadapan dengan kegagalan.

Dalam semua keadaan itu, istighfar dapat dibaca sebagai sebuah sikap batin: berhenti sejenak untuk mengakui keterbatasan diri sebelum kembali melangkah.

Namun jika ditarik lebih jauh, istighfar bukanlah pengganti ikhtiar. Orang-orang dalam ayat tersebut tidak duduk menunggu kemenangan setelah beristighfar. Mereka berada di medan perjuangan. Mereka bergerak, menanggung risiko, dan menghadapi musuh. Istighfar justru menjadi bagian dari perjuangan itu sendiri, cara menjaga agar langkah tidak kehilangan arah.

Karena itu, mungkin kita terlalu sempit memahami istighfar jika hanya menghubungkannya dengan dosa-dosa personal. Ia juga dapat menjadi bahasa spiritual bagi sebuah masyarakat yang sedang berjuang: pengakuan atas kesalahan, koreksi terhadap tindakan yang berlebihan, dan permohonan agar langkah berikutnya lebih teguh.

Pada akhirnya, manusia memang tidak pernah sepenuhnya bersih ketika memasuki sebuah perjuangan. Selalu ada kekurangan, ambisi, kesalahan perhitungan, bahkan ego yang diam-diam menyusup. Yang membuat seseorang tetap berjalan bukan karena ia merasa tanpa cela, melainkan karena ia bersedia mengakui cela itu dan memohon agar Tuhan membantunya memperbaiki langkah.

Mungkin karena itu Al-Quran mempertemukan tiga hal yang sering kita pisahkan: istighfar, keteguhan, dan pertolongan. Sebelum meminta kemenangan, manusia diminta berani bercermin. Sebelum meminta jalan dibukakan, ia diminta mengakui kemungkinan bahwa dirinya sendiri pernah salah jalan.

Dan barangkali, di tengah perjuangan hidup yang panjang, itulah makna istighfar yang paling sunyi sekaligus paling kuat: bukan sekadar meminta agar kesalahan dihapus, melainkan memohon agar setelah menyadari kesalahan, kita masih diberi kekuatan untuk melangkah.

Baca Juga  Ketika Kepemimpinan Tidak Diukur oleh Usia: Pelajaran Meritokrasi dari Penaklukan Makkah
Bagikan:
Terkait
Komentar