KHAMENEI.ID– Di setiap zaman, selalu ada dua kelompok yang berjalan beriringan sekaligus berlawanan arah. Kelompok pertama begitu terpikat pada segala yang baru. Mereka menganggap masa lalu sebagai beban dan tradisi sebagai penghalang kemajuan. Kelompok kedua berdiri di sisi yang berseberangan: mencurigai setiap perubahan, menolak setiap pembaruan, dan menganggap segala sesuatu yang belum pernah ada sebelumnya sebagai ancaman.
Pertarungan antara inovasi dan konservatisme ini bukan fenomena baru. Ia telah menyertai sejarah manusia sejak berabad-abad lalu. Bahkan hari ini, ketika teknologi berkembang lebih cepat daripada kemampuan manusia untuk beradaptasi, perdebatan itu masih terdengar dengan nada yang sama: apakah yang baru selalu baik, atau justru harus ditolak karena belum pernah dikenal sebelumnya?
Menariknya, sebagian orang sering menggunakan dalil agama untuk menolak perubahan. Salah satu ungkapan yang kerap dikutip adalah hadis Nabi saw yang berbunyi:
“seburuk-buruk perkara adalah perkara yang diada-adakan.”
Kalimat ini sering dipahami secara harfiah dan dilepaskan dari konteksnya. Akibatnya, muncul anggapan bahwa setiap hal baru adalah buruk. Setiap inovasi dicurigai. Setiap perubahan dianggap penyimpangan. Padahal, jika makna hadis itu dipahami demikian, maka hampir seluruh perjalanan peradaban manusia harus dianggap salah.
Bayangkan jika manusia sejak awal menolak segala sesuatu yang belum pernah ada. Tidak akan ada tulisan, tidak akan ada percetakan, tidak akan ada kendaraan, tidak akan ada internet, bahkan tidak akan ada banyak bentuk pendidikan dan layanan kesehatan yang hari ini menyelamatkan jutaan nyawa. Sejarah manusia justru bergerak karena keberanian untuk menciptakan sesuatu yang belum pernah ada sebelumnya.
Inovasi sesungguhnya adalah sunnah sejarah. Ia juga merupakan hukum alam. Tidak ada kehidupan yang benar-benar statis. Alam semesta bergerak, tumbuh, berubah, dan bertransformasi. Pohon tumbuh dari benih menjadi batang yang menjulang. Sungai mengubah bentuk daratan yang dilaluinya. Manusia pun berkembang melalui pengalaman, pengetahuan, dan penemuan.
Karena itu, menolak seluruh bentuk pembaruan sama saja dengan menolak salah satu mekanisme dasar kehidupan.
Yang dikritik oleh agama bukanlah inovasi, melainkan bid‘ah dalam pengertian penyimpangan terhadap prinsip-prinsip kebenaran. Ada perbedaan besar antara menciptakan sarana baru untuk kemaslahatan dan mengubah nilai-nilai fundamental yang menjadi fondasi kehidupan.
Hadis yang memuat ungkapan tersebut sebenarnya berada dalam rangkaian nasihat moral yang sangat menarik. Rasulullah saw. bersabda:
الشَّقِيُّ مَنْ شَقِيَ فِي بَطْنِ أُمِّهِ وَالسَّعِيدُ مَنْ وُعِظَ بِغَيْرِهِ وَأَكْيَسُ الْكَيِّسِ التَّقِيُّ وَأَحْمَقُ الْحُمْقِ الْفُجُورُ وَشَرُّ الرَّوِيِّ رَوِيُّ الْكَذِبِ وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَأَعْمَى الْعَمَى عَمَى الْقَلْبِ
“Orang celaka adalah yang memilih jalan kecelakaan sejak awal kehidupannya. Orang berbahagia adalah yang mampu mengambil pelajaran dari pengalaman orang lain. Orang paling cerdas adalah yang bertakwa. Orang paling bodoh adalah yang tenggelam dalam dosa. Seburuk-buruk berita adalah kebohongan. Seburuk-buruk perkara adalah bid‘ah. Dan kebutaan yang paling parah adalah kebutaan hati.”
Jika diperhatikan, seluruh rangkaian hadis ini berbicara tentang penyimpangan moral, bukan tentang kreativitas, ilmu pengetahuan, atau kemajuan peradaban. Kebohongan dicela karena merusak kepercayaan. Kebutaan hati dicela karena menghilangkan kemampuan melihat kebenaran. Demikian pula bid‘ah yang dimaksud adalah penyimpangan yang menjauhkan manusia dari nilai-nilai hakiki, bukan sekadar sesuatu yang baru muncul dalam kehidupan.
Sayangnya, dalam banyak periode sejarah, ketakutan terhadap hal baru sering kali lebih kuat daripada semangat memahami makna yang sesungguhnya. Banyak gagasan besar pada awalnya ditolak hanya karena belum pernah dikenal sebelumnya. Banyak pembaru dicurigai bukan karena salah, melainkan karena terlalu cepat datang dibanding kesiapan masyarakat untuk menerimanya.
Fenomena itu masih dapat kita lihat hari ini. Ketika teknologi kecerdasan buatan berkembang, ada yang menganggapnya sebagai alat yang harus dimanfaatkan secara bijak. Namun ada pula yang menolaknya secara total hanya karena terasa asing. Di bidang pendidikan, metode baru sering dipersoalkan karena berbeda dari kebiasaan lama. Dalam kehidupan sosial, gagasan-gagasan segar kerap menghadapi resistensi sebelum akhirnya diterima sebagai sesuatu yang wajar.
Padahal sejarah menunjukkan bahwa kemajuan lahir bukan dari penolakan membabi buta ataupun penerimaan tanpa kritik. Kemajuan muncul ketika manusia mampu membedakan mana perubahan yang memperkaya kehidupan dan mana perubahan yang merusak nilai.
Di situlah letak kebijaksanaan. Tradisi tidak harus menjadi museum yang membekukan masa lalu. Sebaliknya, tradisi dapat menjadi akar yang kuat bagi tumbuhnya cabang-cabang baru. Pohon yang sehat tidak mencabut akarnya demi bertumbuh. Tetapi ia juga tidak berhenti tumbuh hanya karena memiliki akar.
Mungkin itulah pelajaran penting yang sering terlupakan dalam perdebatan tentang inovasi dan tradisi. Yang berbahaya bukanlah kebaruan itu sendiri, melainkan kebaruan yang kehilangan arah moral. Sebaliknya, yang patut diwaspadai bukan hanya perubahan yang terlalu cepat, tetapi juga ketakutan berlebihan yang membuat masyarakat kehilangan kemampuan untuk berkembang.
Pada akhirnya, kehidupan manusia memperoleh maknanya justru karena ia terus bergerak. Peradaban dibangun oleh orang-orang yang menghormati warisan masa lalu tanpa menjadi tawanan masa lalu. Mereka memahami bahwa sejarah bukan sekadar tempat untuk bernostalgia, melainkan ruang untuk melanjutkan perjalanan. Dan perjalanan itu selalu membutuhkan keberanian untuk menghadirkan sesuatu yang baru.







