KHAMENEI.ID – Ada kebutuhan yang tidak terasa mendesak hari ini, tetapi bisa menjadi persoalan besar ketika masa depan tiba. Energi adalah salah satunya. Sebuah bangsa yang baru memikirkan kebutuhan energinya ketika cadangan dan pilihan sudah semakin terbatas, bisa saja mendapati dirinya terlambat mengambil keputusan.
Imam Ali Khamenei qs melihat persoalan energi nuklir dalam kerangka semacam itu. Menurut beliau, dunia dari hari ke hari semakin bergantung pada energi nuklir. Karena itu, cepat atau lambat Iran juga akan menghadapi kebutuhan yang semakin besar terhadap energi nuklir untuk tujuan damai.
Persoalannya bukan sekadar apakah kebutuhan tersebut sudah terasa hari ini. Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah sebuah bangsa telah mempersiapkan kemampuan untuk memenuhi kebutuhan masa depannya.
“Kalau hari ini kita tidak memikirkannya, kalau hari ini kita tidak mengejarnya, besok akan terlambat,” demikian inti pesan Imam Khamenei.
Peringatan tersebut bertumpu pada satu prinsip sederhana: teknologi strategis membutuhkan waktu untuk dibangun. Kemampuan ilmiah tidak dapat muncul secara instan ketika kebutuhan sudah mendesak. Dibutuhkan penelitian, pendidikan, tenaga ahli, infrastruktur, pengalaman, serta kesinambungan kebijakan selama bertahun-tahun.
Karena itu, menunda pembangunan kemampuan teknologi dengan alasan kebutuhan tersebut belum mendesak justru dapat menciptakan masalah di kemudian hari.
Imam Khamenei mengingatkan bahwa suatu saat dunia dapat menguasai hampir seluruh aspek teknologi dan pengetahuan yang berkaitan dengan energi nuklir. Jika sebuah negara baru mulai bergerak ketika kemampuan pihak lain sudah jauh lebih maju, ruang untuk mengejar ketertinggalan akan semakin sulit.
Di sinilah energi nuklir ditempatkan bukan semata sebagai persoalan energi hari ini, melainkan sebagai bagian dari perencanaan jangka panjang sebuah negara.
Bagi Imam Khamenei, pemanfaatan nuklir untuk tujuan damai memiliki kaitan dengan kebutuhan generasi mendatang. Sebuah bangsa tidak hanya bertanggung jawab terhadap kebutuhan masyarakat pada hari ini, tetapi juga terhadap kemampuan generasi berikutnya dalam menghadapi dunia yang berubah.
Cara berpikir semacam ini menuntut keberanian untuk berinvestasi pada sesuatu yang hasilnya mungkin baru terasa bertahun-tahun kemudian. Penelitian yang dilakukan hari ini mungkin belum menghasilkan manfaat langsung. Laboratorium yang dibangun hari ini mungkin baru melahirkan tenaga ahli setelah bertahun-tahun. Pendidikan yang diberikan hari ini mungkin baru menghasilkan kemampuan strategis pada generasi berikutnya.
Tetapi tanpa semua itu, masa depan akan datang dalam keadaan tangan kosong.
Karena itu, persoalan energi nuklir bagi Imam Khamenei tidak dapat dipisahkan dari persoalan kemandirian ilmiah. Ketika sebuah negara memiliki kemampuan untuk mengembangkan teknologi secara mandiri, ia memiliki lebih banyak pilihan dalam menentukan masa depannya. Sebaliknya, ketergantungan teknologi dapat membatasi pilihan ketika kebutuhan meningkat atau kondisi internasional berubah.
Pandangan tersebut juga menjelaskan mengapa Imam Khamenei menaruh perhatian besar pada perkembangan ilmu pengetahuan. Kemajuan ilmiah bukan sekadar simbol prestise sebuah negara. Dalam bidang-bidang strategis, ilmu pengetahuan dapat menjadi bagian dari kemampuan suatu bangsa untuk bertahan dan memenuhi kebutuhannya sendiri.
Energi nuklir damai menjadi salah satu contohnya.
Beliau juga menyoroti ironi dalam tekanan internasional terhadap program nuklir Iran. Menurut Imam Khamenei, tekanan dan sanksi diberlakukan terhadap program yang oleh Iran dinyatakan ditujukan untuk pemanfaatan damai. Beliau menilai bahwa pihak yang menekan Iran memahami bahwa program tersebut berkaitan dengan kebutuhan energi dan perkembangan ilmiah Iran.
Di balik perdebatan mengenai program nuklir, dengan demikian, terdapat persoalan yang lebih luas: siapa yang akan menguasai teknologi masa depan, dan siapa yang hanya menjadi pengguna teknologi yang dibuat orang lain?
Pertanyaan itu tidak hanya relevan bagi Iran. Negara mana pun yang ingin menentukan masa depannya sendiri harus memikirkan kemampuan strategis jauh sebelum kebutuhan tersebut mencapai titik krisis.
Sebab masa depan tidak menunggu kesiapan manusia.
Jika sebuah bangsa baru bergerak ketika kebutuhan sudah mendesak, ketika teknologi sudah dikuasai pihak lain, dan ketika ketergantungan sudah terbentuk, pilihan yang tersedia akan semakin sedikit.
Pesan Imam Khamenei karena itu sederhana tetapi strategis: jangan menunggu hari ketika kebutuhan sudah menjadi keharusan. Persiapkan kemampuan ketika masih ada waktu.
Sebab dalam urusan teknologi dan energi, keterlambatan hari ini bisa berubah menjadi ketergantungan esok hari.







