Tafsir Surah Al-Baqarah (Bag. 12): Semua Nabi Membawa Satu Jalan

KHAMENEI.ID –

Makna Iman kepada Seluruh Wahyu dalam Tafsir QS Al-Baqarah Ayat 4; Mengapa Al-Qur’an Memerintahkan Beriman kepada Wahyu yang Diturunkan Sebelum Nabi Muhammad?

Setelah menjelaskan bahwa salah satu unsur pembentuk ketakwaan adalah beriman kepada wahyu, Imam Khamenei mengajak melihat sisi lain dari firman Allah swt pada Surah Al-Baqarah ayat keempat. Allah swt berfirman:

وَالَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِمَا أُنزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنزِلَ مِن قَبْلِكَ

“Dan mereka yang beriman kepada apa yang telah diturunkan kepadamu (Muhammad) dan kepada apa yang telah diturunkan sebelum engkau.”
(QS. Al-Baqarah [2]: 4)

Apabila bagian pertama ayat ini menegaskan pentingnya iman kepada wahyu, maka bagian berikutnya menjelaskan konsekuensi dari keimanan tersebut: seluruh nabi berada pada satu garis perjuangan yang sama.

Menurut Imam Ali Khamenei, Al-Qur’an sedang mengajarkan bahwa kenabian bukanlah rangkaian tokoh yang membawa ajaran yang saling bertentangan. Sebaliknya, para nabi adalah mata rantai dalam satu misi besar yang berasal dari sumber yang sama, yakni Allah SWT.

Kenabian Bukan Jalan yang Terpisah

Syahid Ali Khamenei menegaskan bahwa keimanan kepada seluruh nabi hanya mungkin dilakukan apabila mereka membawa pesan yang sejalan.

Andaikan ajaran para nabi saling bertolak belakang, tentu manusia tidak mungkin diperintahkan untuk mengimani semuanya sekaligus. Mustahil seseorang diminta membenarkan dua ajaran yang saling menafikan.

Karena itulah, ketika Al-Qur’an memerintahkan kaum beriman untuk menerima wahyu yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw sekaligus wahyu yang diturunkan kepada para nabi sebelumnya, sesungguhnya Al-Qur’an sedang mengajarkan bahwa seluruh risalah kenabian bergerak di atas satu garis yang sama.

Tujuannya satu.

Arah perjalanannya satu.

Dan masing-masing nabi datang untuk melanjutkan, menyempurnakan, serta mengokohkan bangunan yang telah diletakkan oleh para pendahulunya.

Baca Juga  Membangun Generasi Revolusioner, Jalan Menuju Peradaban Islam Modern 

Dengan demikian, menurut Imam Khamenei, sejarah kenabian harus dipahami sebagai satu perjalanan panjang menuju tujuan yang sama, bukan sebagai kumpulan agama yang saling bersaing.

Perbedaan Syariat Tidak Mengubah Kesatuan Risalah

Lalu bagaimana dengan kenyataan bahwa syariat para nabi tidak selalu sama?

Imam Khamenei membedakan secara jelas antara ajaran pokok (ma’arif) dan hukum-hukum praktis (ahkam).

Dalam persoalan akidah, pandangan hidup, pengenalan terhadap Allah swt, hakikat manusia, tujuan penciptaan, serta kehidupan akhirat, seluruh nabi membawa ajaran yang sama.

Tauhid tetap tauhid.

Keadilan tetap keadilan.

Akhlak tetap akhlak.

Seluruh nabi mengajak manusia menuju penghambaan kepada Allah swt dan menjauhkan mereka dari penyembahan kepada selain-Nya.

Yang dapat berubah adalah syariat praktis.

Sebagian hukum disesuaikan dengan kondisi zaman, kebutuhan masyarakat, dan tahapan perkembangan umat manusia. Karena itu, adanya perbedaan dalam rincian hukum tidak berarti risalah para nabi saling bertentangan.

Menurut tafsir Imam Khamenei, perubahan syariat justru menunjukkan proses pendidikan Ilahi yang berlangsung secara bertahap sepanjang sejarah.

Mengapa Al-Qur’an Menyebut Wahyu Sebelumnya?

Ayat ini juga mengandung pengakuan terhadap seluruh wahyu yang pernah Allah swt turunkan.

Seorang Muslim tidak hanya beriman kepada Al-Qur’an, tetapi juga meyakini bahwa Allah swt telah mengutus banyak nabi dan menurunkan petunjuk kepada mereka.

Inilah yang membedakan pandangan Islam terhadap sejarah kenabian.

Islam tidak memulai sejarah dari Nabi Muhammad saw. Sebaliknya, beliau dipandang sebagai penutup dari rangkaian panjang para nabi yang semuanya membawa cahaya petunjuk dari Tuhan yang sama.

Karena itu, keimanan kepada Nabi Muhammad sawtidak pernah berarti mengingkari Nabi Musa, Nabi Isa, Nabi Ibrahim, atau para nabi lainnya.

Sebaliknya, keimanan kepada Nabi Muhammad justru menuntut pengakuan terhadap seluruh mata rantai kenabian tersebut.

Baca Juga  Tafsir Surah Al-Baqarah (Bag. 7): Memaknai Takwa untuk Memperoleh Kehidupan yang Sempurna

Kitab-Kitab Terdahulu Tidak Lagi Utuh

Meski demikian, Imam Khamenei juga menjelaskan mengapa Al-Qur’an tetap menjadi rujukan terakhir bagi umat Islam.

Menurut beliau, ajaran para nabi terdahulu tidak seluruhnya sampai kepada generasi berikutnya dalam bentuk yang utuh.

Beliau mencontohkan Injil yang ada saat ini.

Menurut penjelasannya, Injil yang beredar bukanlah naskah yang langsung ditulis atau didiktekan oleh Nabi Isa a.s. sendiri. Bahkan kalangan Kristen pun tidak mengklaim demikian. Injil yang dikenal sekarang merupakan riwayat yang ditulis oleh para pengikut Nabi Isa, sebagian di antaranya hidup setelah masa beliau.

Pada masa-masa awal, jumlah Injil yang beredar pun sangat banyak. Berbagai riwayat dan catatan muncul dari berbagai kalangan hingga akhirnya dipilih beberapa kitab yang kemudian dikenal sebagai Injil-injil kanonik.

Penjelasan serupa juga disampaikan Imam Khamenei mengenai Taurat dan Zabur yang ada sekarang. Menurut beliau, berbagai kitab tersebut telah mengalami perubahan sehingga tidak lagi sepenuhnya mencerminkan bentuk wahyu yang pertama kali diturunkan.

Karena itu, seorang Muslim menerima setiap ajaran para nabi terdahulu yang dibenarkan oleh Al-Qur’an, sebab Al-Qur’an menjadi tolok ukur terakhir dalam membedakan mana bagian dari wahyu Ilahi dan mana yang telah mengalami perubahan sepanjang sejarah.

Al-Qur’an Menyatukan Seluruh Jejak Kenabian

Melalui ayat keempat Surah Al-Baqarah ini, Imam Khamenei mengajak melihat Al-Qur’an sebagai mata rantai terakhir dari perjalanan panjang wahyu.

Al-Qur’an tidak datang untuk memutus hubungan dengan para nabi sebelumnya, melainkan menyempurnakan risalah yang telah mereka bawa.

Karena itu, seorang mukmin tidak memandang Ibrahim, Musa, Isa, dan Muhammad sebagai pembawa misi yang berbeda-beda. Mereka berada pada satu garis yang sama: membimbing manusia menuju pengenalan kepada Allah, membangun akhlak, serta menuntun kehidupan sesuai petunjuk-Nya.

Baca Juga  Nikmat yang Hilang: Mengapa Allah Mengubah Nasib Suatu Bangsa?

Inilah makna mendalam dari firman Allah swt:

وَالَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِمَا أُنزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنزِلَ مِن قَبْلِكَ

Keimanan kepada wahyu bukan hanya berarti percaya kepada kitab suci yang dibaca hari ini, tetapi juga memahami bahwa sepanjang sejarah, Allah tidak pernah membiarkan manusia tanpa petunjuk. Para nabi datang silih berganti membawa cahaya yang sama, hingga akhirnya risalah itu mencapai penyempurnaannya melalui Al-Qur’an.

Bagikan:
Terkait
Komentar