KHAMENEI.ID – Kekuasaan tidak selalu diraih dengan kekerasan. Ada jalan yang lebih halus, bahkan sering kali tampak terpuji: menjanjikan harapan, menyenangkan hati orang banyak, dan menampilkan kesederhanaan agar kepercayaan tumbuh. Seseorang bisa merangkul rakyat bukan karena sungguh-sungguh ingin memperjuangkan kepentingan mereka, melainkan karena membutuhkan kepatuhan. Ia bisa terlihat merakyat tanpa benar-benar dekat dengan penderitaan rakyat. Di antara ketulusan dan kepura-puraan, batasnya kadang begitu tipis hingga keduanya sulit dibedakan.
Persoalan inilah yang disentuh Imam Ali bin Abi Thalib a.s dalam wasiatnya kepada Kumail bin Ziyad. Di tengah pembicaraan tentang kepemimpinan, ia menolak cara-cara yang lazim digunakan orang untuk memperoleh dan mempertahankan kekuasaan. Penolakannya bukan semata-mata terhadap kelicikan yang kasar, melainkan juga terhadap manipulasi yang dibungkus dengan keramahan, janji, dan kesederhanaan.
Ia berkata:
يَا كُمَيْلُ! لَسْتُ وَاللَّهِ مُتَمَلِّقًا حَتَّى أُطَاعَ، وَلَا مُتَمَنِّيًا حَتَّى لَا أُعْصَى، وَلَا مَائِلًا لِطَعَامِ الْأَعْرَابِ حَتَّى أَنْحَلَ إِمْرَةَ الْمُؤْمِنِينَ وَأَدَّعِيَ بِهَا.
“Wahai Kumail! Demi Allah, aku bukanlah orang yang menjilat agar ditaati, bukan pula orang yang mengobral harapan agar tidak dibangkang, dan bukan orang yang berpura-pura menyukai makanan sederhana kaum Badui demi memperoleh kedudukan sebagai pemimpin kaum beriman dan mengklaimnya”
Ada sesuatu yang menarik dalam pernyataan tersebut. Imam Ali tidak hanya menolak kebohongan yang diucapkan secara terang-terangan. Ia juga menolak kebohongan yang menyelinap ke dalam perilaku, termasuk ketika seseorang sengaja membangun citra tertentu agar orang lain menyerahkan kepercayaan kepadanya. Baginya, persoalannya bukan sekadar apa yang dilakukan seorang pemimpin, melainkan mengapa ia melakukannya.
Di titik ini, kritik terhadap pencitraan menemukan maknanya yang lebih dalam.
Menjilat, misalnya, tidak selalu dilakukan orang kecil kepada penguasa. Seorang pemimpin pun dapat menjilat rakyatnya. Ia mengucapkan apa yang ingin didengar orang banyak, menghindari kenyataan yang tidak menyenangkan, dan membangun kedekatan yang sesungguhnya hanya menjadi alat untuk memperoleh kepatuhan. Jika biasanya penjilat berharap mendapatkan keuntungan dari orang yang lebih berkuasa, dalam politik, seorang pemimpin dapat melakukan hal serupa terhadap mereka yang ingin dipimpinnya.
Bentuknya tidak selalu berupa pujian. Kadang-kadang ia hadir sebagai janji yang sengaja dibuat berlebihan, harapan yang terus dipelihara, atau kata-kata manis yang tidak disertai kesungguhan untuk mewujudkannya. Orang banyak dibuat merasa didengar, tetapi belum tentu benar-benar diperjuangkan. Mereka diberi gambaran tentang masa depan yang menyenangkan, sementara kenyataan yang harus dihadapi dibiarkan menunggu.
Imam Ali a.s menolak cara semacam itu. Ia tidak ingin ketaatan lahir dari kemampuan mempermainkan harapan manusia. Sebab, kepatuhan yang diperoleh melalui janji kosong bukanlah kepercayaan yang kokoh. Ia hanya bertahan selama orang masih percaya pada gambaran yang disuguhkan kepadanya. Begitu kenyataan berbicara lain, hubungan antara pemimpin dan orang-orang yang dipimpinnya mudah berubah menjadi kekecewaan.
Namun jika ditarik lebih jauh, persoalan yang dibicarakan Imam Ali tidak berhenti pada janji politik. Ia menyentuh kecenderungan manusia untuk menjadikan kebaikan sebagai alat mencapai kepentingan pribadi.
Kesederhanaan, misalnya, merupakan nilai yang dihormati. Seorang pemimpin yang tidak bermewah-mewahan, bersedia duduk bersama rakyat, dan menjalani kehidupan tanpa berlebihan tentu dapat memberi teladan. Akan tetapi, kesederhanaan kehilangan sebagian maknanya ketika hanya dipertontonkan untuk memperoleh simpati. Apa yang semula merupakan sikap hidup berubah menjadi pertunjukan. Bukan lagi soal bagaimana seseorang menjalani hidup, melainkan bagaimana ia ingin dilihat orang lain.
Itulah sebabnya bagian terakhir dari wasiat tersebut terasa penting. Imam Ali a.s menyinggung makanan sederhana kaum Badui, seolah hendak menegaskan bahwa simbol-simbol kedekatan dengan rakyat pun dapat disalahgunakan. Seseorang bisa meniru kebiasaan kelompok tertentu, memperlihatkan dirinya seolah-olah memiliki kehidupan yang sama dengan mereka, lalu menggunakan kesan itu untuk mengukuhkan kedudukannya.
Yang ditolaknya bukan makanan sederhana atau kehidupan bersahaja. Justru, Imam Ali a.s dikenal melalui riwayat-riwayat tentang pilihan hidupnya yang sederhana dan jauh dari kemewahan. Yang ia tentang adalah menjadikan kesederhanaan sebagai kedok demi kekuasaan. Ada perbedaan mendasar antara seseorang yang hidup sederhana karena keyakinan dan seseorang yang sengaja mempertontonkan kesederhanaan karena ingin dipercaya.
Perbedaannya terletak pada niat, tetapi dampaknya dapat menjalar jauh ke dalam kehidupan bersama. Ketika kesalehan, keramahan, dan kesederhanaan berubah menjadi instrumen untuk memperoleh keuntungan, masyarakat perlahan kehilangan pegangan dalam menilai ketulusan. Segala sesuatu bisa dipertontonkan. Kebaikan pun dapat dirancang agar terlihat meyakinkan.
Dalam konteks yang lebih luas, peringatan ini relevan bukan hanya bagi mereka yang memegang jabatan politik. Ia juga menyentuh kehidupan organisasi, lembaga keagamaan, lingkungan pekerjaan, bahkan hubungan sehari-hari. Seseorang bisa membantu orang lain agar dianggap dermawan, berbicara tentang kejujuran demi membangun reputasi, atau melakukan pekerjaan baik dengan harapan memperoleh pengakuan. Tindakan yang tampak mulia tidak otomatis membuktikan kemurnian niat di baliknya.
Tentu saja, manusia tidak mungkin sepenuhnya melepaskan diri dari penilaian orang lain. Reputasi diperlukan, kepercayaan harus dibangun, dan pemimpin perlu menjelaskan tujuan serta programnya kepada masyarakat. Menampilkan diri dengan baik juga tidak selalu berarti berpura-pura. Persoalannya muncul ketika penampilan menggantikan substansi, ketika janji lebih penting daripada pelaksanaan, dan ketika kebaikan tidak lagi dipandang sebagai sesuatu yang layak dilakukan, kecuali jika menghasilkan keuntungan bagi pelakunya.
Di sinilah wasiat Imam Ali a.s memberikan ukuran yang lebih mendasar: apakah sesuatu dilakukan karena memang benar, atau karena dapat mendatangkan kepatuhan, pujian, dan kedudukan?
Pertanyaan itu tidak mudah dijawab. Bahkan, seseorang bisa saja meyakini bahwa dirinya tulus, padahal perlahan-lahan ia mulai bergantung pada pengakuan orang lain. Keinginan untuk dipuji menyusup ke dalam tindakan yang semula baik. Sedikit demi sedikit, tujuan bergeser. Ia tidak lagi cukup puas karena telah melakukan sesuatu yang benar; ia juga ingin orang lain mengetahui, mengagumi, dan mengakuinya.
Mungkin karena itulah ketulusan menuntut kewaspadaan yang terus-menerus. Bukan hanya kewaspadaan terhadap kebohongan orang lain, melainkan juga terhadap kemampuan diri sendiri untuk menyamarkan kepentingan pribadi sebagai kebajikan.
Pada akhirnya, kekuasaan dapat diperoleh melalui banyak cara, tetapi cara seseorang memperolehnya akan memperlihatkan sesuatu tentang hubungan dirinya dengan kebenaran. Orang yang menggantungkan kedudukan pada janji kosong harus terus menciptakan janji baru. Orang yang membangun wibawa melalui pencitraan harus terus menjaga penampilannya. Ia tidak pernah benar-benar bebas, sebab selalu ada citra yang harus dipertahankan dan harapan orang lain yang harus dikelola.
Sebaliknya, ketulusan tidak menuntut seseorang menjadi sempurna di hadapan manusia. Ia hanya menuntut kesediaan untuk tidak mengorbankan kebenaran demi penerimaan. Barangkali di situlah letak ujian yang sesungguhnya: ketika seseorang tetap memilih melakukan yang benar, bahkan saat kebaikannya tidak dilihat, kesederhanaannya tidak dipuji, dan kejujurannya tidak membuat orang lain lebih mudah ditaklukkan.
Sebab, tidak semua yang tampak baik lahir dari niat yang baik. Dan tidak semua orang yang berhasil mendapatkan kepercayaan benar-benar layak menerimanya. Di antara keduanya, ada satu hal yang tidak dapat digantikan oleh tepuk tangan siapa pun: ketulusan untuk tetap benar tanpa harus berpura-pura.







