Mukjizat Darahmu: Dari Kesedihan Personal ke Ketangguhan Kolektif

Bagaimana duka, ziarah, dan memori pengorbanan mengubah manusia biasa menjadi lebih berani dari dirinya sendiri.

Ada satu kalimat yang terus terngiang sebelum tulisan ini dimulai: jangan tergesa menyebut sesuatu sebagai mukjizat. Sebab mukjizat bukanlah kilatan ajaib yang turun begitu saja dari langit. Ia adalah rangkaian panjang sebab-akibat, ribuan domino yang jatuh satu per satu hingga akhirnya mencapai keping terakhir yang terlihat dramatis. Yang sering kita tulis hanyalah keping terakhir itu—padahal gerak panjang sebelumnya justru yang membuatnya mungkin.

Hari ini genap empat puluh hari sejak kepergianmu. Empat puluh malam berturut-turut orang-orang berjalan di jalanan lingkungan, membawa fotomu, menyebut namamu, menghidupkan kembali cerita tentangmu. Dan aku—yang selama ini dikenal sebagai pribadi introvert, pemilik alasan panjang untuk menolak ajakan keluar rumah—tiba-tiba berjalan bersama mereka setiap malam. Satu setengah jam menyusuri jalan dengan perasaan yang tak sepenuhnya bisa dijelaskan.

Dulu, untuk sekadar keluar bersama teman, aku butuh waktu berminggu-minggu untuk diyakinkan. Saat sedih, aku bisa berbulan-bulan berdiam di kamar, berbaring tanpa energi, menatap langit-langit yang terasa seperti penutup dunia. Sekarang kesedihan itu tetap ada, bahkan mungkin lebih pekat. Dorongan untuk bersembunyi di sudut kamar masih kuat. Tetapi setiap malam, entah bagaimana, aku tetap melangkah keluar. Tanpa teman dekat, tanpa keluarga yang membuatku merasa aman. Aku berjalan di antara kelompok perempuan yang sebagian besar tidak kukenal. Di tengah kerumunan, aku cenderung berjalan di pinggir; bila tanpa sengaja terseret ke tengah, aku mempercepat langkah agar kembali ke sisi jalan. Jika dulu ada yang berkata aku mampu bertahan empat puluh malam dalam situasi seperti ini, aku pasti menjawab: mustahil—kecuali terjadi mukjizat.

Baca Juga  Sekilas Kenangan Ayatollah Sayyid Mojtaba Hosseini Khamenei tentang Sang Pemimpin yang Syahid (Bagian 1)

Dan di situlah pencarian dimulai. Jika ini mukjizat, apa domino yang jatuh sebelum ini?

Pikiranku kembali pada perjalanan Arba’in tahun ini. Ranselku terasa lebih berat dari biasanya. Ada banyak momen ketika tubuh hampir menyerah. Bahu berdenyut seperti retak, seolah tulang akan hancur jika aku terus melangkah. Tanganku meremas tali ransel, menariknya naik agar beban sedikit terangkat. Godaan untuk berhenti selalu datang: duduk sebentar, melepas tas, meminta teman membawa sebagian beban. Di hadapanku terbentang persimpangan kecil yang melelahkan—menyerah atau melanjutkan. Angka kesulitannya terasa seratus dari seratus. Seperti anak kelas satu yang baru belajar penjumlahan dan pengurangan; bagi mereka, angka seratus adalah batas tertinggi kesulitan.

Di momen itu aku mencoba meyakinkan diri: hidup mungkin memang seperti ini. Kita tidak bisa lari dari kesulitan besar. Maka satu-satunya cara adalah belajar berdiri tegak di tengahnya. Perjalanan Arba’in berakhir, kami pulang ke rumah. Tetapi ternyata ujian tidak ikut pulang. Sebulan kemudian datang ujian baru. Lalu bulan berikutnya. Lalu berikutnya lagi. Berderet rapi, tanpa jeda panjang di antara mereka. Setiap kali satu ujian selesai, tak lama kemudian ujian berikutnya menampakkan diri—sering kali lebih berat dari sebelumnya. Kadang ujian itu tidak hanya menimpa satu orang, tetapi seluruh bangsa. Termasuk kepergianmu.

Mungkin karena itu aku merasa dalam beberapa bulan terakhir telah menua beberapa tahun sekaligus.
Kini rasanya seperti siswa sekolah menengah yang sedang belajar integral—matematika tingkat lanjut yang dulu terasa mustahil. Angka kesulitannya tetap seratus. Namun ujian-ujian sebelumnya diam-diam menyiapkan diri untuk fase ini. Setiap malam dalam empat puluh hari itu, sebelum keluar rumah, aku membaca Ayat Kursi dengan suara pelan:

Baca Juga  Sekilas Kenangan Ayatollah Sayyid Mojtaba Hosseini Khamenei tentang Sang Pemimpin yang Syahid (Bagian 2)

اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ …

“Allah, tidak ada Tuhan selain Dia, Yang Maha Hidup, Yang terus-menerus mengurus makhluk-Nya…”

Aku membacanya keras-keras agar pikiranku tidak berkelana ke daftar buku yang belum selesai kubaca, tulisan yang setengah jadi, dan pekerjaan yang tertunda—alasan-alasan kecil yang sering cukup kuat untuk membuatku tetap tinggal di rumah. Di depan cermin, aku melipat syal menjadi segitiga dan menyampirkannya di bahu, meniru gaya yang pernah kulihat darimu. Kedua ujungnya kutarik ke depan dan kuikat erat agar tidak terbang tertiup angin. Bagian ini terasa seperti ritual kecil sebelum keluar rumah. Seolah kain itu memberiku keberanian yang sebelumnya tidak kumiliki.

Di salah satu sudut jalan yang gelap, selalu ada seorang perempuan berdiri di dekat polisi tidur. Ia menyorotkan senter besar ke jalan, memperingatkan orang-orang agar berhati-hati. Setiap melewatinya, aku hanya memberi senyum singkat lalu cepat mengalihkan pandangan. Suatu malam, tanpa rencana, tanganku terangkat untuk berterima kasih. Aku menatap matanya sejenak, lalu berjalan lagi agar barisan di belakang tidak tertahan. Gestur kecil itu terasa seperti kemenangan pribadi yang sunyi.

Jika semua ini bukan mukjizat darimu, lalu apa?

Aku tahu nasihat awal itu: jangan menyebut mukjizat sebelum semua domino disusun. Jangan melupakan ribuan usaha yang mendahului momen dramatis. Dan mungkin benar—domino itu belum sepenuhnya terlihat. Masih banyak keping yang tersembunyi: perjalanan panjang, latihan kesabaran, luka-luka kecil yang membentuk ketahanan, doa-doa yang tak terdengar, dan keberanian-keberanian kecil yang tumbuh diam-diam.
Namun untuk saat ini, aku berani menulis satu kalimat sederhana: kehadiranku di jalan selama empat puluh malam adalah mukjizat dari darahmu.

Baca Juga  Pesan Ayatullah Sayyid Mojtaba Hosseini Khamenei, Pemimpin Agung Revolusi Islam, dalam Rangka Peringatan 40 Hari Syahidnya Pemimpin Agung Revolusi

Mukjizat yang tidak jatuh dari langit. Mukjizat yang tumbuh perlahan dari dalam manusia. Mukjizat yang mengubah kesedihan menjadi langkah, kesendirian menjadi kebersamaan, dan ketakutan menjadi keberanian yang tak pernah disangka-sangka.

Barangkali, di zaman modern yang penuh distraksi dan kelelahan mental, mukjizat memang tidak lagi berbentuk kejadian luar biasa. Ia hadir dalam bentuk yang lebih sunyi: seseorang yang biasanya bersembunyi kini berani berjalan; seseorang yang biasanya menyerah kini memilih bertahan; seseorang yang biasanya diam kini berani bersuara.

Dan mungkin, di situlah makna sebenarnya dari mukjizat itu bersembunyi.

Baca juga: Pesan Duka Cita dari Keluarga Martir Haj Qasem Soleimani atas Syahidnya Pemimpin Revolusi Islam

Bagikan:
Terkait
Komentar