Bahaya Terbesar Adalah Ketika Kita Tak Lagi Mengenali Musuh

KHAMENEI.ID– Ada jenis ancaman yang datang dengan suara keras: pernyataan politik, tekanan ekonomi, propaganda, atau ancaman terbuka dari sebuah kekuatan yang bermusuhan. Tetapi ada ancaman lain yang jauh lebih sunyi. Ia tidak mengetuk pintu. Ia masuk melalui kelengahan.

Ketika sebuah bangsa berhenti mengenali siapa yang sedang berhadapan dengannya, bahaya sesungguhnya mungkin justru baru dimulai.

Dalam sebuah pertemuan dengan para elite muda dan ilmuwan Iran, Ayatollah Sayyid Ali Khamenei qs mengingatkan satu hal yang tampak sederhana, tetapi kerap luput ketika sebuah masyarakat terlalu lama hidup dalam kenyamanan: kenali musuh. Bukan untuk menumbuhkan ketakutan, apalagi menjadikan permusuhan sebagai cara memandang dunia, melainkan agar sebuah bangsa tidak kehilangan kewaspadaannya.

Ia bahkan tidak ingin waktunya dihabiskan untuk menanggapi ucapan seorang presiden Amerika yang penuh kebohongan dan penghinaan. Para pejabat Iran, katanya, telah memberikan jawaban. Baginya, membalas setiap perkataan justru dapat menjadi pemborosan energi. Ada sesuatu yang lebih penting daripada sekadar adu kata: memahami siapa yang berhadapan dengan kita dan bagaimana cara mereka bekerja.

Di titik ini, gagasan tentang mengenali musuh menjadi lebih luas daripada sekadar hubungan antarnegara. Musuh tidak selalu datang dengan seragam, bendera, atau pernyataan perang. Ia bisa hadir sebagai tekanan yang perlahan mengubah cara sebuah masyarakat berpikir. Ia dapat bekerja melalui propaganda, pembentukan persepsi, manipulasi informasi, tekanan ekonomi, bahkan melalui upaya membuat orang percaya bahwa ancaman sebenarnya tidak ada.

Bahaya terbesar bukan selalu ketika lawan terlihat jelas. Bahaya bisa muncul ketika lawan tidak lagi dianggap sebagai lawan.

Syahid Ali Khamenei qs menyebut keadaan itu sebagai bentuk “ketiduran” sejenis kelengahan kolektif. Sebuah bangsa mungkin tetap memiliki tentara, teknologi, universitas, industri, dan sumber daya yang besar. Namun semua itu bisa kehilangan makna jika kesadaran untuk membaca keadaan di sekitarnya ikut melemah.

Baca Juga  Jahiliah Masa Kini: Ketika Cahaya Kenabian Digantikan Kesombongan

Pesannya berangkat dari pengalaman sejarah yang panjang: jangan hanya mengenali siapa musuh, tetapi pahami pula metode permusuhannya. Dengan kata lain, kewaspadaan bukan berarti hidup dalam paranoia. Kewaspadaan berarti kemampuan membaca pola.

Seseorang yang mengetahui bahwa dirinya sedang menghadapi tekanan ekonomi akan bersikap berbeda dari orang yang menganggap tekanan itu sekadar kebetulan. Negara yang memahami bagaimana propaganda bekerja akan lebih berhati-hati terhadap informasi yang diterimanya. Masyarakat yang sadar terhadap operasi manipulasi opini tidak akan mudah menyerahkan pikirannya kepada siapa pun yang paling keras berbicara.

Karena itu, persoalan mengenali musuh pada akhirnya bersentuhan dengan persoalan mengenali diri sendiri. Bangsa yang tidak mengetahui nilai apa yang hendak dipertahankannya akan lebih mudah dibentuk oleh kepentingan orang lain. Sebaliknya, masyarakat yang memiliki kesadaran sejarah dan tujuan yang jelas akan lebih sulit digiring oleh arus yang datang dari luar.

Syahid Ali Khamenei qs kemudian mengutip perkataan Imam Ali a.s dalam Nahj al-Balaghah:

وَاللَّهِ لَا أَكُونُ كَالضَّبُعِ تَنَامُ عَلَى طُولِ اللَّدْمِ

“Demi Allah, aku tidak akan seperti hyena yang tertidur karena terus-menerus dibuai”

Perumpamaan itu terasa sederhana, tetapi tajam. Ada makhluk yang dapat dibuat tertidur bukan dengan kekerasan, melainkan dengan bunyi yang berulang-ulang. Ia tidak dikalahkan dalam pertempuran. Ia hanya dibuat kehilangan kesadaran.

Dalam konteks yang lebih luas, metafora itu berbicara tentang manusia dan masyarakat modern. Kita tidak selalu ditundukkan dengan paksaan. Kadang kita dibuat sibuk, dibuat nyaman, dibuat terus-menerus mengonsumsi hiburan, dibanjiri informasi, hingga tidak lagi memiliki jarak untuk bertanya: apa sebenarnya yang sedang terjadi?

Kelelahan pun dapat menjadi bentuk kelengahan.

Seseorang yang setiap hari disibukkan oleh urusan pribadi mungkin tidak sempat memperhatikan perubahan besar di sekelilingnya. Masyarakat yang terlalu larut dalam pertengkaran kecil bisa kehilangan kemampuan melihat persoalan yang lebih besar. Negara yang terlalu percaya pada kemapanannya dapat terlambat menyadari bahwa peta kekuatan dunia telah berubah.

Baca Juga  Perang yang Tak Terlihat: Ketika Musuh Berusaha Meretas Cara Berpikir Bangsa

Di sinilah kewaspadaan berbeda dari ketakutan. Ketakutan membuat manusia bereaksi secara membabi buta. Kewaspadaan membuatnya berhenti sejenak, mengamati, membaca, lalu menentukan sikap.

Ancaman pun tidak harus selalu dijawab dengan kemarahan. Terkadang jawaban paling kuat justru adalah kemampuan untuk tidak terprovokasi. Tidak semua suara layak dijawab. Tidak setiap hinaan harus dibalas. Tidak setiap serangan verbal harus menghabiskan perhatian sebuah bangsa.

Yang lebih penting adalah memastikan bahwa di tengah hiruk-pikuk itu, kesadaran tetap menyala.

Sebab sebuah bangsa bisa kehilangan banyak hal bukan karena musuhnya terlalu kuat, melainkan karena dirinya terlalu lama tertidur.

Pesan itu, pada akhirnya, bukan hanya tentang Iran atau Amerika. Ia berbicara tentang setiap masyarakat yang merasa aman karena mengira bahaya selalu datang dalam bentuk yang mudah dikenali. Dunia berubah lebih cepat daripada kemampuan kita memberi nama pada ancaman. Karena itu, mungkin tugas pertama manusia bukanlah mencari musuh, melainkan menjaga kesadaran agar tidak kehilangan kemampuan untuk mengenalinya.

Sebab ketika mata masih terbuka, ancaman dapat dibaca. Ketika pikiran masih jernih, tipu daya dapat dikenali. Tetapi ketika sebuah masyarakat sudah terbuai, bahkan suara langkah yang mendekat pun bisa terdengar seperti musik pengantar tidur.

Dan mungkin, dalam sejarah sebuah bangsa, tidak ada keadaan yang lebih berbahaya daripada itu: bukan ketika musuh datang, melainkan ketika kita sudah tidak lagi terjaga.

Bagikan:
Terkait
Komentar