KHAMENEI.ID – Perang ideologi tidak pernah benar-benar berakhir. Ia hanya berganti nama.
Ketika Uni Soviet runtuh pada awal 1990-an, banyak pengamat Barat mengira sejarah telah mencapai titik akhirnya. Liberalisme dan demokrasi liberal dinyatakan sebagai pemenang mutlak. Tidak ada lagi rival besar yang dianggap mampu menandingi model politik dan ekonomi Barat. Dunia, kata sebagian teoritikus, akan bergerak menuju satu sistem yang sama.
Namun lebih dari tiga dekade kemudian, keyakinan itu tampak jauh dari kenyataan.
Konflik geopolitik terus terjadi. Perebutan pengaruh antarnegara semakin intens. Ketimpangan global tetap menganga. Bahkan istilah seperti kolonialisme, eksploitasi, dan dominasi kembali muncul dalam berbagai perdebatan internasional.
Dalam salah satu ceramahnya, Imam Ali Khamenei qs mengajak publik melihat realitas global dari sudut pandang yang berbeda. Menurut beliau, setelah berakhirnya pertarungan antara Islam dan Marxisme pada abad ke-20, kini terdapat konfrontasi lain yang sedang berlangsung. Bukan lagi antara dua blok ideologi lama, melainkan antara dua cara pandang terhadap dunia.
Di satu sisi terdapat apa yang beliau sebut sebagai “sistem Islam“. Di sisi lain berdiri sebuah kubu yang menamakan dirinya “demokrasi liberal” atau liberal democracy.
Namun Imam Khamenei mempertanyakan bahkan nama yang digunakan kubu tersebut.
Menurut beliau, klaim sebagai “liberal” dan “demokratis” tidak selalu sejalan dengan praktik sejarah maupun perilaku politik yang ditunjukkan negara-negara pengusungnya. Karena itu, sebelum menerima sebuah label, kata beliau, perlu dilihat terlebih dahulu bagaimana rekam jejak dan tindakannya.
Pertanyaan pertama yang beliau ajukan cukup sederhana: jika benar menjunjung kebebasan, bagaimana menjelaskan sejarah kolonialisme yang dilakukan oleh banyak kekuatan Barat?
Imam Khamenei menyinggung pengalaman India sebagai salah satu contoh. Selama lebih dari satu abad, anak benua itu berada di bawah kekuasaan kolonial Inggris. Dalam berbagai catatan sejarah, termasuk tulisan para pemimpin kemerdekaan India seperti Jawaharlal Nehru, tergambar bagaimana sebuah negeri yang memiliki peradaban tua dan kekayaan besar mengalami perubahan drastis selama masa penjajahan.
Bagi Imam Khamenei, pengalaman tersebut menimbulkan sebuah pertanyaan moral yang penting. Dapatkah sebuah sistem yang mengaku membela kebebasan tetap disebut liberal ketika pada saat yang sama mengendalikan bangsa lain dan mengeksploitasi sumber dayanya?
Beliau juga menyinggung pengalaman Afrika Utara, khususnya Aljazair, yang mengalami masa kolonial panjang di bawah Prancis. Sejarah mencatat bahwa perjuangan kemerdekaan Aljazair berlangsung dengan korban yang sangat besar dan meninggalkan luka mendalam dalam memori kolektif masyarakatnya.
Dalam pandangan Imam Khamenei, peristiwa-peristiwa tersebut bukan sekadar catatan masa lalu yang telah selesai dibahas. Yang lebih penting adalah memahami pola pikir yang melatarbelakanginya.
Sebab, menurut beliau, meskipun bentuk kolonialisme klasik telah berakhir, semangat dominasi bisa saja muncul dalam bentuk yang berbeda.
Di sinilah kritik beliau bergerak dari sejarah menuju realitas kontemporer.
Imam Khamenei berpendapat bahwa hubungan internasional modern masih memperlihatkan kecenderungan yang sama: negara-negara kuat sering kali mendukung demokrasi hanya ketika hasilnya sesuai dengan kepentingan mereka. Ketika sebuah proses politik menghasilkan pemerintahan yang tidak sejalan dengan agenda mereka, dukungan terhadap demokrasi sering kali menjadi lebih selektif.
Karena itu beliau mempertanyakan sejauh mana istilah “demokrasi” digunakan sebagai prinsip universal, dan sejauh mana ia dipakai sebagai instrumen politik.
Dalam analisisnya, persoalan tersebut tidak hanya berkaitan dengan retorika politik, tetapi juga menyentuh kepentingan ekonomi yang sangat besar.
Imam Khamenei menyoroti bagaimana konflik-konflik internasional sering kali melibatkan industri persenjataan, perusahaan besar, dan jaringan ekonomi global yang memperoleh keuntungan dari ketegangan geopolitik. Menurut beliau, di balik banyak konflik modern terdapat kepentingan ekonomi yang jarang dibicarakan secara terbuka.
Karena itu, beliau mengajak masyarakat untuk tidak melihat peristiwa dunia hanya dari permukaan berita harian. Setiap konflik, setiap intervensi, dan setiap slogan politik perlu dianalisis lebih dalam: siapa yang mendapatkan keuntungan, siapa yang membayar harga, dan siapa yang sebenarnya menentukan arah permainan.
Beliau juga menyinggung persoalan eksploitasi sumber daya di berbagai kawasan yang dilanda konflik. Dalam pandangannya, praktik semacam itu menunjukkan bahwa perebutan kekayaan alam masih menjadi salah satu motif penting dalam politik global, meskipun kini dilakukan melalui mekanisme yang lebih kompleks dibandingkan era kolonial klasik.
Menariknya, kritik Imam Khamenei tidak berhenti pada negara atau aktor tertentu. Yang lebih beliau soroti adalah sebuah cara pandang dunia yang menganggap kekuatan sebagai sumber legitimasi.
Ketika kekuasaan menentukan apa yang benar dan salah, ketika kepentingan menentukan standar moral, maka istilah-istilah seperti kebebasan, demokrasi, dan hak asasi manusia berisiko kehilangan makna substantifnya. Ia berubah menjadi slogan yang digunakan secara selektif sesuai kebutuhan politik.
Di sinilah beliau menempatkan apa yang disebutnya sebagai pertarungan dua kubu. Bukan semata-mata pertarungan geografis atau militer, melainkan pertarungan nilai.
Pertarungan antara sistem yang mengklaim membela keadilan dan sistem yang menurutnya menggunakan bahasa keadilan untuk mempertahankan dominasi.
Tentu, pandangan ini dapat diperdebatkan dan akan memunculkan berbagai respons berbeda di arena politik internasional. Namun yang menarik dari pemikiran Imam Khamenei adalah upayanya mengajak masyarakat melihat melampaui label-label yang sering diterima begitu saja.
Sebab dalam politik global, kata-kata sering kali terdengar lebih indah daripada kenyataan yang menyertainya.
Pada akhirnya, pertanyaan yang diajukan Imam Khamenei bukanlah apakah sebuah negara menyebut dirinya liberal, demokratis, atau bahkan religius. Pertanyaan yang lebih penting adalah: bagaimana ia bertindak ketika memiliki kekuatan?
Karena sejarah tidak menilai sebuah peradaban dari slogan yang dipasangnya di dinding-dinding kekuasaan.
Sejarah menilainya dari jejak yang ditinggalkannya dalam kehidupan manusia.







