KHAMENEI.ID– Ada dua hal yang sering dianggap biasa sampai suatu hari lenyap dari kehidupan: kesehatan dan keamanan. Selama tubuh masih kuat, orang jarang memikirkan arti sehat. Selama jalanan tetap aman, anak-anak dapat berangkat ke sekolah tanpa rasa takut, dan keluarga bisa pulang larut malam dengan tenang, sedikit sekali yang benar-benar menyadari betapa mahal harga sebuah rasa aman.
Rasulullah saw pernah mengingatkan:
نِعْمَتَانِ مَجْهُولَتَانِ الْأَمْنُ وَالْعَافِيَةُ
“Ada dua nikmat yang sering tidak disadari manusia: keamanan dan kesehatan”
Pesan singkat itu menyimpan kenyataan yang terus berulang sepanjang sejarah. Manusia baru memahami nilai keamanan ketika suara ledakan menggantikan suara tawa, ketika perjalanan yang semula biasa berubah menjadi pertaruhan nyawa, atau ketika ketakutan mulai mengambil alih ruang-ruang kehidupan sehari-hari.
Di berbagai belahan dunia, gambaran semacam itu bukan lagi sekadar berita. Konflik berkepanjangan, perang saudara, aksi teror, hingga ketidakstabilan politik telah mengubah kehidupan jutaan orang menjadi penuh ketidakpastian. Ada masyarakat yang harus membiasakan diri hidup di tengah suara tembakan. Ada anak-anak yang mengenal tempat perlindungan lebih baik daripada ruang kelas. Ada keluarga yang kehilangan rumah bukan karena bencana alam, melainkan karena peperangan yang tak kunjung usai.
Jika menoleh ke kawasan Asia Barat maupun wilayah lain di sekitar dunia Islam, berbagai gejolak memperlihatkan satu pelajaran yang sama: keamanan bukanlah sesuatu yang lahir dengan sendirinya. Ia adalah hasil dari kerja panjang, pengorbanan, kewaspadaan, dan kemampuan sebuah negara menjaga stabilitasnya. Ketika fondasi itu rapuh, dampaknya menjalar ke seluruh sendi kehidupan.
Dalam konteks yang lebih luas, keamanan bukan hanya urusan aparat atau institusi pertahanan. Ia merupakan fondasi bagi hampir seluruh aktivitas masyarakat. Perekonomian tumbuh karena para pelaku usaha merasa yakin untuk berinvestasi. Pendidikan berjalan karena orang tua percaya anak-anak mereka dapat belajar dengan tenang. Rumah sakit mampu melayani masyarakat karena tenaga kesehatan bekerja tanpa ancaman. Bahkan ibadah pun memperoleh kekhusyukannya ketika rasa takut tidak menguasai hati.
Karena itu, rasa aman sesungguhnya adalah ruang sunyi yang memungkinkan seluruh kehidupan bergerak. Kita jarang membicarakannya justru karena ia bekerja tanpa suara. Ketika seseorang dapat berangkat bekerja setiap pagi tanpa memikirkan kemungkinan menjadi korban kekerasan di jalan, ketika kendaraan umum beroperasi dengan normal, ketika masyarakat bebas berpindah dari satu kota ke kota lain, semua itu adalah buah dari keamanan yang sering luput dari perhatian.
Namun jika ditarik lebih jauh, keamanan tidak hanya berarti absennya perang atau kriminalitas. Keamanan adalah hadirnya rasa percaya bahwa hari esok masih dapat direncanakan. Di dalam rasa aman, orang berani membangun rumah, membuka usaha, menanam harapan, dan membesarkan anak-anaknya. Tanpa itu semua, kehidupan berubah menjadi sekadar upaya bertahan dari hari ke hari.
Ironisnya, manusia memang memiliki kecenderungan untuk menganggap sesuatu yang terus hadir sebagai hal biasa. Kita mudah mengeluhkan berbagai persoalan sehari-hari, tetapi lupa mensyukuri kondisi mendasar yang memungkinkan semua aktivitas itu berlangsung. Padahal, banyak bangsa di dunia rela mengorbankan harta, tenaga, bahkan nyawa hanya untuk memperoleh stabilitas yang mungkin selama ini kita anggap sebagai sesuatu yang wajar.
Gagasan ini kemudian menyentuh tanggung jawab bersama. Menjaga keamanan nasional bukan semata-mata tugas aparat keamanan atau militer. Memang, mereka berada di garis depan dalam menghadapi ancaman yang tidak selalu tampak oleh masyarakat. Mereka bekerja ketika sebagian besar warga sedang beristirahat. Mereka berjaga agar masyarakat dapat tidur dengan tenang. Pengabdian seperti itu layak memperoleh penghormatan dan dukungan.
Namun keamanan juga lahir dari kesadaran warga negara. Ia tumbuh melalui kepatuhan terhadap hukum, kepedulian terhadap lingkungan sekitar, penolakan terhadap kekerasan dan ekstremisme, serta kemauan untuk menjaga persatuan di tengah berbagai perbedaan. Sebuah negara tidak akan benar-benar aman jika masyarakatnya sendiri membiarkan benih-benih konflik tumbuh tanpa kendali.
Di era digital, tantangan keamanan bahkan semakin kompleks. Ancaman tidak selalu datang dalam bentuk senjata atau serangan fisik. Informasi palsu, provokasi di media sosial, penyebaran kebencian, hingga perang siber dapat sama berbahayanya dalam menggerogoti stabilitas sebuah bangsa. Karena itu, membangun budaya literasi, menjaga etika bermedia, dan mengedepankan dialog menjadi bagian dari ikhtiar mempertahankan keamanan yang sering kali tidak disadari.
Pada akhirnya, keamanan adalah nikmat yang bekerja dalam diam. Ia tidak meminta tepuk tangan, tetapi tanpanya hampir seluruh sendi kehidupan akan berhenti bergerak. Ketika masyarakat masih dapat bekerja, belajar, beribadah, dan berkumpul bersama keluarga tanpa rasa takut, sesungguhnya ada sebuah anugerah besar yang sedang mereka nikmati.
Barangkali benar sabda Rasulullah saw: “keamanan adalah nikmat yang sering tidak dikenali”. Dan justru karena ia begitu dekat, kita sering lupa mensyukurinya. Padahal, masa depan sebuah bangsa selalu bermula dari satu hal yang sederhana tetapi sangat mendasar: hadirnya rasa aman yang memungkinkan setiap orang menjalani hidup dengan penuh harapan.







