

KHAMENEI.ID – Manusia sering kali sibuk mempersiapkan masa depan, tetapi lupa memikirkan untuk apa sebenarnya masa depan itu dijalani. Kita hidup dalam masyarakat yang sangat menghargai pencapaian. Pendidikan dinilai dari peluang pekerjaan yang dihasilkan. Pekerjaan diukur dari besarnya penghasilan. Kesuksesan sering kali ditentukan oleh kepemilikan, jabatan, dan kemampuan menikmati kehidupan.

KHAMENEI.ID– Ada anggapan yang sering berulang dalam kehidupan beragama: jika Tuhan memang menghendaki sesuatu tetap hidup, maka manusia tidak perlu bersusah payah menjaganya. Kebenaran akan menemukan jalannya sendiri. Para syuhada akan selalu dikenang. Nilai-nilai luhur tidak akan pernah hilang. Namun sejarah justru menunjukkan hal yang sebaliknya. Banyak kebenaran terkubur bukan karena

KHAMENEI.ID – Tank dapat menghancurkan bangunan. Rudal mampu meluluhlantakkan pangkalan militer. Bom bisa meratakan sebuah kota hanya dalam hitungan menit. Namun sejarah berkali-kali menunjukkan bahwa tidak satu pun senjata mampu menaklukkan keyakinan, identitas, dan narasi yang hidup di tengah masyarakat. Sebab, kekuatan sejati sebuah bangsa sering kali tidak lahir dari

KHAMENEI.ID – Ketika berbicara tentang “jahiliah”, banyak orang langsung membayangkan masyarakat Arab sebelum diutusnya Nabi Muhammad saw.: kehidupan yang dipenuhi penyembahan berhala, ketidakadilan, fanatisme suku, dan kerusakan moral. Namun, menurut Imam Ali Khamenei qs, jahiliah bukan sekadar fenomena sejarah. Ia adalah pola pikir dan sistem kehidupan yang dapat muncul kembali

KHAMENEI.ID– Tidak ada yang lebih dekat dengan manusia selain keluarganya. Seorang ayah rela bekerja tanpa mengenal lelah demi anak-anaknya. Seorang ibu sanggup mengorbankan waktu, tenaga, bahkan kenyamanannya demi orang-orang yang dicintainya. Di dalam rumah, cinta menemukan bentuknya yang paling nyata: perhatian, pengorbanan, dan kesetiaan. Namun agama sesekali mengajukan pertanyaan yang tidak

KHAMENEI.ID– Ada sebuah ironi yang terus berulang dalam sejarah kawasan Timur Tengah. Atas nama keamanan, pasukan asing datang. Atas nama stabilitas, pangkalan militer dibangun. Atas nama perdamaian, persenjataan terus ditambah. Namun yang tertinggal justru kota-kota yang porak-poranda, hubungan antarnegara yang memburuk, dan masyarakat yang hidup dalam bayang-bayang konflik yang tak kunjung

KHAMENEI.ID– Di tengah dunia yang bergerak semakin cepat, manusia justru semakin mudah kehilangan arah. Kita diburu tuntutan untuk segera berhasil, terdorong memenangkan perdebatan, dan sering kali merasa benar tanpa sempat bertanya apakah kita masih berlaku adil kepada orang lain. Di ruang digital, emosi lebih cepat menyebar daripada kebenaran. Dalam situasi seperti

KHAMENEI.ID– Di banyak ruang publik hari ini, agama kerap didorong untuk tinggal di sudut yang paling pribadi. Ia dipersilakan mengisi hati, menghibur jiwa, dan menemani doa-doa malam, tetapi diminta berhenti sebelum memasuki urusan masyarakat, keadilan, ekonomi, atau tata kelola kehidupan. Seolah-olah agama hanya pantas berbicara tentang surga, sementara bumi harus diserahkan

KHAMENEI.ID– Ada tokoh yang dikenang karena jabatan. Ada yang diingat karena kemenangan di medan perang. Namun ada pula sosok yang melampaui riwayat hidupnya sendiri, hingga namanya berubah menjadi sebuah cara berpikir, sebuah jalan hidup, bahkan sebuah mazhab. Qasem Soleimani termasuk dalam kategori terakhir. Yang diwariskannya bukan sekadar kisah kepahlawanan, melainkan seperangkat

KHAMENEI.ID– Ada masa ketika berkumpul untuk membicarakan ajaran Ahlul Bait bukan sekadar kegiatan keagamaan. Ia adalah tindakan yang bisa mengantar seseorang ke penjara, pengasingan, bahkan kematian. Pada masa itu, setiap majelis kecil yang memperbincangkan nilai-nilai Islam yang diwariskan keluarga Nabi saw menjadi ruang perlawanan terhadap kekuasaan yang berusaha membungkam kebenaran. Karena

KHAMENEI.ID– Ada masa ketika sebuah pertemuan kecil lebih berharga daripada sebuah panggung besar. Sekelompok orang duduk melingkar, saling bertukar cerita, mengenang keteladanan, dan menghidupkan kembali nilai-nilai yang nyaris tenggelam oleh arus zaman. Dari luar, ia tampak seperti perjumpaan biasa. Namun dari dalam, ia adalah ruang yang menjaga ingatan kolektif sebuah umat.