

KHAMENEI.ID – Sebuah masyarakat tidak selalu runtuh karena serangan dari luar. Ada kalanya kehancuran justru bermula dari sesuatu yang tumbuh diam-diam di dalam dirinya: keputusan yang diambil tanpa pertimbangan, pendirian yang dipertahankan meski terbukti keliru, kekaguman berlebihan terhadap diri sendiri, dan kebiasaan menunda pekerjaan sampai kesempatan berlalu. Tak ada ledakan besar

KHAMENEI.ID – Ada doa yang terdengar sederhana, tetapi diam-diam menyimpan tuntutan yang besar: meminta keyakinan kepada Allah Ta’ala. Sebab keyakinan bukan sekadar rasa tenang dalam hati. Ia adalah sesuatu yang menentukan bagaimana seseorang berdiri, memilih, takut, bertahan, bahkan ketika hidup memaksanya berjalan di tengah ketidakpastian. Dalam sebuah khotbah yang dinisbatkan kepada

KHAMENEI.ID – Ada manusia yang setiap pagi bangun dengan satu pertanyaan sederhana: apa yang harus kulakukan agar hidupku menjadi lebih baik? Ada pula yang pertanyaannya lebih jauh: untuk apa semua yang kulakukan ini? Pertanyaan kedua itulah yang menentukan arah hidup. Sebab seseorang mungkin tampak sibuk berbuat baik, bekerja keras, bahkan berbicara

KHAMENEI.ID – Selama bertahun-tahun, isu nuklir Iran kerap dikaitkan dengan satu kekhawatiran: kemungkinan Iran mengembangkan senjata nuklir. Namun Imam Khamenei qs menempatkan persoalan tersebut dalam kerangka yang berbeda. Menurut beliau, penolakan Iran terhadap senjata pemusnah massal bukanlah strategi yang lahir karena tekanan negara lain, melainkan bagian dari keyakinan agama. “Senjata

KHAMENEI.ID – Mengapa persoalan nuklir Iran terus menjadi sumber tekanan internasional selama bertahun-tahun? Jika persoalannya semata-mata senjata nuklir, Imam Khamenei mempertanyakan mengapa tekanan begitu besar diarahkan kepada Iran, sementara banyak negara lain juga mengembangkan teknologi nuklir. Menurut beliau, jawaban atas persoalan tersebut tidak dapat ditemukan hanya dalam isu persenjataan. Ada

KHAMENEI.ID – Perdebatan mengenai program nuklir Iran sering kali berhenti pada satu pertanyaan: apakah Iran sedang menuju kemampuan membuat senjata nuklir? Imam Khamenei justru mengajak melihat persoalan tersebut dari sudut yang berbeda: mengapa sebuah bangsa tidak boleh mengembangkan kemampuan nuklir untuk tujuan damai ketika dunia sendiri semakin membutuhkan teknologi tersebut?

KHAMENEI.ID – Ada kebutuhan yang tidak terasa mendesak hari ini, tetapi bisa menjadi persoalan besar ketika masa depan tiba. Energi adalah salah satunya. Sebuah bangsa yang baru memikirkan kebutuhan energinya ketika cadangan dan pilihan sudah semakin terbatas, bisa saja mendapati dirinya terlambat mengambil keputusan. Imam Ali Khamenei qs melihat persoalan

KHAMENEI.ID – Ada orang yang memiliki kebutuhan, tetapi tidak memiliki jalan untuk menyampaikannya. Ia tahu kepada siapa harus berbicara, tahu bahwa ada keputusan yang mungkin bisa mengubah keadaannya, tetapi tidak tahu bagaimana mengetuk pintu yang tepat. Di hadapan kekuasaan, jarak sering kali bukan soal tempat. Ia bisa berupa jabatan, prosedur, birokrasi,

KHAMENEI.ID – Masa muda sering dipahami sebagai masa untuk menikmati hidup sebelum tanggung jawab semakin berat. Padahal, dalam pandangan Syahid Sayyid Ali Khamenei qs, masa muda justru merupakan salah satu kesempatan paling menentukan dalam perjalanan manusia. Di hadapan seorang pemuda terbentang medan yang luas: puluhan tahun kehidupan, pekerjaan, pembelajaran, perjuangan,

KHAMENEI.ID – Apa gunanya pengetahuan jika tidak pernah melahirkan tindakan? Dan apa artinya semangat perubahan jika tidak didasarkan pada pemikiran yang matang? Bagi Sayyid Ali Khamenei qs, dua pertanyaan tersebut menjadi bagian penting dalam membentuk generasi muda yang mampu memanfaatkan zamannya. Ia tidak mengajak anak muda sekadar memenuhi kepala dengan

KHAMENEI.ID – Ada orang yang mengira zuhud berarti menjauh dari dunia. Menolak kenyamanan, mencurigai harta, membatasi kesenangan, lalu menganggap semakin sedikit yang dimiliki semakin dekat seseorang kepada Tuhan. Padahal, dalam pengertian Islam, zuhud tidak sesederhana itu. Yang menjadi persoalan bukan berapa banyak yang berada di tangan seseorang, melainkan seberapa jauh sesuatu









