

Apa rahasia dibalik usia pernikahan yang diberkahi? Mengapa Islam sangat menekankan pernikahan muda sementara Barat justru menggesernya ke usia paruh baya? Berikut adalah pandangan mendalam Ayatullah Sayyid Ali Khamenei, tentang “usia tepat untuk menikah” berdasarkan fitrah manusia dan ajaran Islam yang otentik. Tidak Boleh Terpengaruh Budaya Barat Salah satu tuntutan

KHAMENEI.ID– Ada satu kebiasaan yang makin langka di zaman serba cepat ini: berhenti sejenak untuk memeriksa diri sendiri. Kita begitu sibuk mengevaluasi pekerjaan, menilai orang lain, mengukur pencapaian, bahkan memantau kehidupan orang melalui layar ponsel. Namun, berapa banyak dari kita yang sungguh-sungguh menengok ke dalam diri dan bertanya: apa sebenarnya

KHAMENEI.ID– Ada tokoh-tokoh besar yang lahir dari sejarah panjang. Mereka ditempa oleh puluhan tahun pengalaman, diuji oleh berbagai zaman, lalu dikenang sebagai manusia luar biasa. Namun ada pula sosok yang menentang logika sejarah. Umurnya singkat, ruang geraknya terbatas, tetapi pengaruhnya melampaui abad demi abad. Fatimah Zahra a.s adalah salah satunya.

KHAMENEI.ID– Di dunia politik, kekuasaan biasanya memiliki umur. Ia lahir, tumbuh, lalu perlahan memudar bersama berlalunya waktu. Nama-nama besar yang pernah memenuhi halaman sejarah sering kali hanya tersisa sebagai catatan di buku pelajaran. Namun ada sosok-sosok tertentu yang justru tampak semakin hidup setelah kepergiannya. Semakin jauh jarak waktu memisahkan mereka

KHAMENEI.ID – Di era yang serba cepat, banyak orang membaca banyak hal, tetapi sedikit yang benar-benar merenungkan apa yang mereka baca. Fenomena ini tidak hanya terjadi pada buku, berita, atau media sosial, tetapi juga pada Al-Qur’an. Ayat-ayat suci dilantunkan dengan merdu, dihafalkan dengan tekun, bahkan diperlombakan dengan penuh kebanggaan. Namun pertanyaan

KHAMENEI.ID– Ada tokoh-tokoh yang dikenang karena kemenangan. Ada yang diingat karena kekuasaan. Ada pula yang bertahan dalam sejarah karena pengaruhnya. Namun, ada sedikit manusia yang melampaui semuanya yang bahkan setelah berabad-abad, namanya tetap hidup bukan karena propaganda, melainkan karena keagungan yang sulit disangkal. Ali bin Abi Thalib a.s adalah salah

KHAMENEI.ID– Ada satu ironi yang terus berulang dalam sejarah umat manusia: sesuatu yang indah sering kali tersembunyi di balik prasangka, kesalahpahaman, atau bahkan kabut cerita-cerita yang tidak jelas asal-usulnya. Hal itu juga terjadi pada warisan intelektual dan spiritual Ahlul Bait. Banyak orang mengenal nama mereka, tetapi tidak sedikit yang belum

KHAMENEI.ID– Di dunia Islam, hampir tidak ada nama yang mampu menyatukan rasa hormat lintas mazhab seperti Ahlul Bait keluarga Nabi Muhammad saw. Mereka dicintai, dimuliakan, dan dikenang dalam berbagai tradisi keislaman. Namun di balik penghormatan yang hampir universal itu, tersimpan satu pertanyaan penting: apakah mencintai Ahlul Bait sudah cukup? Pertanyaan

KHAMENEI.ID– Di abad yang memuja teknologi, manusia sering terpesona oleh satu hal: kemajuan. Negara yang maju dianggap negara yang menguasai ilmu pengetahuan. Universitas berlomba mengejar riset. Industri berlomba menciptakan inovasi. Masyarakat pun percaya bahwa semakin tinggi ilmu, semakin tinggi pula peradaban. Namun ada pertanyaan yang jarang diajukan: ilmu untuk apa?

KHAMENEI.ID– Ramadan selalu menghadirkan pemandangan yang indah. Masjid-masjid ramai oleh lantunan ayat suci. Suara tilawah menggema dari rumah, musala, hingga media sosial. Banyak orang menargetkan khatam Al-Qur’an satu kali, dua kali, bahkan lebih. Namun ada satu pertanyaan yang jarang diajukan: apa yang terjadi setelah Ramadan berlalu? Sering kali hubungan kita

KHAMENEI.ID– Ada satu kesalahpahaman yang cukup umum tentang zikir. Banyak orang mengira zikir hanya berarti melafalkan kalimat-kalimat suci: tasbih, tahmid, tahlil, atau takbir. Bibir bergerak, suara lirih terdengar, lalu selesai. Padahal, dalam tradisi Islam, makna zikir jauh lebih dalam dan lebih menantang daripada sekadar ucapan. Zikir sejati justru diuji pada









