Dakwah Tidak Berhenti di Masjid: Mengapa Islam Menuntut Kesadaran Politik dan Sosial

KHAMENEI.ID – Selama bertahun-tahun, ada anggapan bahwa dakwah seharusnya hanya berbicara tentang ibadah pribadi: salat, puasa, zikir, akhlak, dan hubungan manusia dengan Tuhan. Sementara urusan politik, ekonomi, serta persoalan sosial dianggap berada di luar wilayah agama. Akibatnya, mimbar-mimbar dakwah sering kali sunyi dari pembahasan tentang keadilan, penindasan, atau arah perjalanan sebuah bangsa.

Pandangan seperti ini lahir dari pemahaman yang terlalu sempit tentang makna penghambaan kepada Allah (ubudiyah). Seolah-olah menjadi hamba Allah hanya berarti memperbaiki diri secara individu, tanpa memedulikan bagaimana masyarakat diatur, bagaimana kezaliman berlangsung, atau bagaimana kekuatan-kekuatan jahat memengaruhi kehidupan umat.

Padahal, Islam tidak pernah memisahkan kehidupan pribadi dari kehidupan sosial.

Ubudiyah Mencakup Seluruh Kehidupan

Tujuan utama dakwah memang mengajak manusia menjadi hamba Allah. Namun penghambaan itu bukan sekadar ibadah ritual yang dilakukan di masjid atau di rumah. Ubudiyah memiliki wilayah yang jauh lebih luas, mencakup seluruh aspek kehidupan manusia.

Ketika aktivitas ekonomi dijalankan dengan kejujuran, itu adalah bentuk ibadah. Ketika kekuasaan dijalankan dengan keadilan, itu juga ibadah. Ketika masyarakat mengambil sikap terhadap penindasan, penjajahan, atau korupsi, semua itu pun berada dalam ruang penghambaan kepada Allah swt.

Karena itu, dakwah yang hanya membahas hubungan manusia dengan Tuhan tetapi mengabaikan persoalan masyarakat sebenarnya belum menghadirkan Islam secara utuh.

Islam menghendaki hadirnya manusia saleh sekaligus masyarakat yang saleh.

Dakwah Harus Menjawab Persoalan Zaman

Seorang dai tidak cukup hanya menyampaikan pelajaran akhlak dan spiritualitas. Ia juga memiliki tanggung jawab menjelaskan bagaimana nilai-nilai Islam diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.

Masyarakat membutuhkan bimbingan moral, tetapi mereka juga membutuhkan kemampuan membaca realitas. Mereka memerlukan penguatan iman sekaligus pemahaman terhadap tantangan politik, ekonomi, dan budaya yang sedang dihadapi.

Baca Juga  Istigfar: Saat Hati Perlu Dibersihkan, Bukan Sekadar Bibir Bergerak

Karena itu, dakwah harus mampu menggabungkan keduanya: menyucikan hati sekaligus mencerahkan pikiran.

Akhlak tanpa kesadaran sosial dapat melahirkan pribadi yang saleh tetapi pasif terhadap kezaliman. Sebaliknya, aktivisme tanpa landasan spiritual mudah berubah menjadi ambisi kekuasaan yang kehilangan nilai-nilai Ilahi. Islam menghendaki keseimbangan antara keduanya.

Mengenali Musuh di Dalam dan di Luar Diri

Salah satu tugas penting dakwah adalah membantu manusia mengenali siapa musuh sebenarnya.

Musuh pertama adalah musuh yang berada di dalam diri: hawa nafsu yang selalu mengajak kepada keburukan, kesombongan, cinta dunia, dan bisikan setan. Inilah medan jihad terbesar yang harus dimenangkan setiap orang.

Namun Islam juga mengajarkan bahwa ada musuh di tingkat sosial. Ada kekuatan-kekuatan yang membangun sistem ketidakadilan, menyebarkan kerusakan moral, menindas bangsa-bangsa lemah, dan menghalangi manusia dari jalan Allah swt.

Mengabaikan salah satunya berarti memahami Islam secara tidak utuh. Orang yang hanya sibuk melawan hawa nafsunya tetapi tidak peduli terhadap kezaliman sosial belum menyempurnakan tanggung jawabnya. Sebaliknya, orang yang berjuang melawan kezaliman tetapi membiarkan hawa nafsunya menguasai dirinya pun akan mudah tergelincir.

Membedakan Antara Kebenaran dan Alat Kejahatan

Selain mengenalkan musuh utama, dakwah juga harus menjelaskan siapa saja yang menjadi alat atau perpanjangan tangan kezaliman. Dalam setiap zaman selalu ada individu, kelompok, atau institusi yang membantu tersebarnya kebatilan, baik karena kepentingan politik, ekonomi, maupun ambisi pribadi.

Tugas dakwah bukan menebarkan kebencian, melainkan membangun kesadaran agar masyarakat mampu membedakan mana yang berpihak kepada nilai-nilai Ilahi dan mana yang justru memperkuat sistem yang zalim.

Kesadaran inilah yang membuat umat tidak mudah diperdaya oleh propaganda, manipulasi informasi, ataupun kemasan-kemasan yang tampak indah tetapi menyembunyikan tujuan yang bertentangan dengan ajaran Islam.

Baca Juga  Mendahulukan Ridha Allah, Menjaga Keadilan bagi Kawan dan Lawan

Dakwah yang Menyeluruh

Islam bukan agama yang hanya mengatur hubungan manusia dengan Tuhannya. Islam juga membimbing hubungan manusia dengan sesamanya, dengan masyarakat, bahkan dengan sistem yang mengatur kehidupan bersama.

Karena itu, dakwah yang utuh tidak hanya mengajarkan salat, puasa, dan zikir. Ia juga menanamkan akhlak, membangun spiritualitas, memberikan analisis terhadap persoalan umat, mengingatkan bahaya hawa nafsu, serta membimbing masyarakat agar mampu mengenali berbagai bentuk kezaliman yang mengancam kehidupan mereka.

Ketika dimensi pribadi dan dimensi sosial berjalan seiring, dakwah akan melahirkan manusia yang bukan hanya saleh secara individual, tetapi juga mampu menjadi pembela keadilan dan penjaga nilai-nilai Islam di tengah kehidupan masyarakat.

Bagikan:
Terkait
Komentar