Mendahulukan Ridha Allah, Menjaga Keadilan bagi Kawan dan Lawan

KHAMENEI.ID– Di tengah dunia yang mengukur keberhasilan dari angka, jabatan, dan tepuk tangan, ada satu pertanyaan yang jarang diajukan: untuk siapa sebenarnya kita bekerja? Pertanyaan itu terdengar sederhana, tetapi justru menjadi titik yang menentukan arah hidup seseorang. Sebab ketika tujuan bekerja berubah, cara seseorang mengambil keputusan pun ikut berubah. Dari ruang keluarga hingga meja rapat, dari urusan pribadi hingga kebijakan publik, semuanya bergantung pada satu kompas batin: mencari ridha Allah atau sekadar mengejar pengakuan manusia.

Dalam kehidupan sehari-hari, banyak pekerjaan berlangsung tanpa saksi. Ada orang yang tetap menuntaskan tugas hingga larut malam, membawa pekerjaan ke rumah, memeras pikiran ketika orang lain telah beristirahat. Tidak ada yang memuji. Tidak ada kamera yang merekam. Bahkan mungkin tidak ada seorang pun yang mengetahui jerih payah itu. Namun pekerjaan tetap diselesaikan dengan sungguh-sungguh.

Di situlah letak perbedaan antara bekerja demi citra dan bekerja demi ridha Allah. Yang pertama membutuhkan penonton, sedangkan yang kedua cukup dengan keyakinan bahwa Allah mengetahui setiap niat dan setiap usaha, betapapun tersembunyinya.

Orientasi semacam ini bukan sekadar ajaran spiritual yang berhenti pada ruang ibadah. Ia justru memiliki dampak yang sangat nyata terhadap kehidupan sosial. Ketika seseorang menjadikan ridha Allah sebagai tujuan utama, ia tidak lagi mudah tergoda oleh kepentingan sesaat. Keputusan yang diambil tidak didasarkan pada keuntungan pribadi, tekanan kelompok, atau keinginan menyenangkan orang-orang tertentu, melainkan pada apa yang diyakininya benar di hadapan Tuhan.

Dalam konteks yang lebih luas, prinsip ini menjadi fondasi penting bagi siapa pun yang memegang amanah. Seorang pemimpin, pejabat, guru, hakim, pengusaha, bahkan kepala keluarga, setiap hari dihadapkan pada pilihan-pilihan yang sering kali tidak mudah. Ada godaan untuk mengutamakan orang dekat, memberi kemudahan kepada mereka yang memiliki hubungan pribadi, atau bahkan bersikap keras kepada pihak yang berbeda pandangan.

Baca Juga  Ilmu adalah Kekuatan: Mengapa Kemajuan Sains Menentukan Kedaulatan Bangsa

Padahal keadilan justru diuji ketika hubungan pribadi ikut bermain.

Karena itu, tradisi spiritual Islam mengajarkan doa yang begitu dalam maknanya. Dalam Shahifah Sajjadiyah, Imam Zainal Abidin a.s memohon kepada Allah:

مُؤْثِراً لِرِضَاكَ عَلَىٰ مَا سِوَاهُمَا فِي الْأَوْلِيَاءِ وَالْأَعْدَاءِ، حَتَّىٰ يَأْمَنَ عَدُوِّي مِنْ ظُلْمِي وَجَوْرِي، وَيَيْأَسَ وَلِيِّي مِنْ مَيْلِي وَانْحِطَاطِ هَوَايَ

“Ya Allah, anugerahkanlah kepadaku kemampuan untuk lebih mengutamakan ridha-Mu daripada segala kepentingan lain, baik dalam menghadapi sahabat maupun musuh, sehingga musuhku merasa aman dari kezaliman dan ketidakadilanku, sementara sahabatku tidak berharap aku akan memihaknya karena dorongan hawa nafsu”

Doa ini menawarkan ukuran moral yang sangat tinggi. Ridha Allah tidak hanya diwujudkan dalam ibadah yang khusyuk, tetapi juga dalam kemampuan menahan diri agar tidak berlaku zalim kepada orang yang dibenci dan tidak memberikan keistimewaan kepada orang yang dicintai.

Di titik ini, keadilan tidak lagi bergantung pada suasana hati. Ia lahir dari kesadaran bahwa Allah adalah tujuan akhir dari setiap tindakan. Ketika orientasi itu menguat, rasa suka dan benci tidak lagi menjadi hakim atas keputusan-keputusan penting.

Inilah yang sering hilang dalam kehidupan modern. Banyak konflik sosial, politik, bahkan persoalan di lingkungan kerja, bukan muncul karena kurangnya aturan, melainkan karena manusia lebih mengutamakan loyalitas kepada kelompok dibandingkan loyalitas kepada nilai. Akibatnya, kesalahan teman ditutupi, sementara kesalahan lawan diperbesar. Kebenaran menjadi relatif, bergantung pada siapa yang melakukannya.

Padahal, seseorang yang benar-benar mencari ridha Allah justru akan menjaga jarak yang sama terhadap dua godaan itu. Ia tidak membiarkan kebencian melahirkan kezaliman, dan tidak pula membiarkan rasa cinta mengaburkan keadilan.

Gagasan ini kemudian menyentuh kehidupan yang paling sederhana. Dalam keluarga, misalnya, orang tua sering dihadapkan pada pilihan untuk bersikap adil kepada seluruh anak-anaknya. Di tempat kerja, seorang atasan diuji ketika harus memilih orang yang paling layak, bukan yang paling dekat. Dalam dunia bisnis, seorang pedagang diuji ketika keuntungan besar hanya bisa diraih dengan mengorbankan kejujuran. Semua itu sesungguhnya merupakan ruang-ruang kecil tempat ridha Allah dipertaruhkan.

Baca Juga  Sabar Revolusioner: Pelajaran Imam Ali tentang Menahan Diri demi Kemenangan yang Lebih Besar

Mungkin tidak ada orang yang mengetahui keputusan-keputusan sunyi itu. Tidak ada penghargaan, tidak ada sorotan media, bahkan terkadang tidak ada ucapan terima kasih. Namun justru pada ruang-ruang yang tak terlihat itulah kualitas keimanan dibentuk.

Ridha Allah bukan sekadar tujuan yang bersifat abstrak. Ia adalah energi moral yang membuat seseorang tetap jujur ketika tidak diawasi, tetap bekerja keras ketika tidak dipuji, tetap adil ketika memiliki kesempatan untuk berbuat sebaliknya.

Dalam masyarakat yang semakin dipenuhi pencitraan, nilai ini menjadi semakin relevan. Dunia mengajarkan cara membangun reputasi, tetapi agama mengajarkan cara membangun integritas. Reputasi bergantung pada pandangan manusia, sedangkan integritas bertumpu pada kesadaran bahwa Allah selalu menyaksikan.

Pada akhirnya, ukuran keberhasilan seorang manusia bukanlah seberapa banyak orang memujinya, melainkan seberapa lurus niat yang menggerakkan setiap langkahnya. Ketika ridha Allah benar-benar menjadi tujuan utama, pekerjaan berubah menjadi ibadah, amanah berubah menjadi kehormatan, dan keadilan tidak lagi bergantung pada siapa yang berada di hadapan kita. Sebab orang yang mengejar ridha Allah akan berusaha menjadi pribadi yang membuat lawannya merasa aman dari kezalimannya, sementara orang-orang terdekatnya pun tidak berharap memperoleh perlakuan istimewa. Itulah integritas yang lahir dari iman sunyi, tetapi kokoh; tidak selalu terlihat, tetapi meninggalkan jejak yang paling dalam.

Bagikan:
Terkait
Komentar