Di Negeri yang Menertawakan Segalanya, Kesungguhan Menjadi Perlawanan

KHAMENEI.ID— Ada satu penyakit yang diam-diam menggerogoti banyak bangsa modern: kebiasaan menganggap segala sesuatu sebagai permainan. Politik dijadikan hiburan. Krisis diperlakukan seperti tren media sosial. Perdebatan publik berubah menjadi bahan lelucon harian. Bahkan masa depan negeri sering diperlakukan seperti sesuatu yang bisa ditunda tanpa konsekuensi.

Di tengah budaya serba cepat dan serba dangkal itu, generasi muda hidup dalam tekanan yang aneh. Mereka diminta peduli pada negara, tetapi sekaligus dibombardir oleh budaya yang membuat semuanya terasa sementara. Akibatnya, banyak orang hadir dalam kehidupan publik tanpa kesungguhan. Mereka berbicara tentang perubahan, tetapi tidak benar-benar siap memikul tanggung jawab perubahan itu sendiri.

Di sinilah pesan lama dari tradisi Islam terasa sangat relevan. Sebuah nasihat menekankan bahwa anak-anak muda baik laki-laki maupun perempuan harus bersikap serius terhadap persoalan-persoalan mendasar negeri mereka. Bukan serius dalam arti muram atau kehilangan kegembiraan hidup, melainkan serius dalam arti memahami bahwa ada urusan yang terlalu penting untuk diperlakukan sambil lalu.

Kata kuncinya adalah jiddiyah “kesungguhan”.

Nasihat itu kemudian mengajak kita merenungkan sebuah penggalan dari Doa Kumail, doa terkenal yang selama berabad-abad dibaca umat Islam dalam suasana sunyi malam:

قَوِّ عَلى خِدمَتِكَ جَوارِحِي وَاشْدُدْ عَلَى العَزيمَةِ جَوانِحِي وَهَبْ لِي الجِدَّ فِي خَشْيَتِكَ

Ya Tuhan, kuatkan anggota tubuhku untuk melayani-Mu, teguhkan tekadku, dan anugerahkan kepadaku kesungguhan dalam takut kepada-Mu

Sepintas doa itu terdengar seperti ungkapan spiritual biasa: permohonan seorang hamba yang lemah kepada Tuhannya. Namun jika diperhatikan lebih dalam, di dalamnya tersembunyi semacam filsafat hidup yang sangat praktis.

قَوِّ عَلى خِدمَتِكَ جَوارِحِي

kuatkan tubuhku untuk menjalankan tugas

Ini bukan hanya soal ibadah ritual. Ada kesadaran bahwa hidup menuntut tenaga, disiplin, dan daya tahan. Pelayanan kepada nilai-nilai besar tidak cukup dengan niat baik; ia memerlukan tubuh yang siap bekerja.

Baca Juga  Netralitas yang Mematikan: Mengapa Ulama Tak Boleh Diam Menurut Imam Ali Khamenei

Lalu ada kalimat berikutnya: 

وَاشْدُدْ عَلَى العَزيمَةِ جَوانِحِي

teguhkan tekadku

Sebab masalah terbesar manusia modern sering kali bukan kekurangan informasi, melainkan kelemahan kehendak. Kita tahu apa yang benar, tetapi tidak cukup kuat menjalaninya. Kita tahu korupsi merusak bangsa, tetapi diam ketika mendapat keuntungan kecil. Kita tahu manipulasi informasi berbahaya, tetapi tetap menyebarkannya demi sensasi beberapa detik.

Dan bagian paling menarik adalah permintaan terakhir:

 وَهَبْ لِي الجِدَّ فِي خَشْيَتِكَ

berilah aku kesungguhan dalam rasa takut kepada-Mu

Di sini, “takut” bukan ketakutan lumpuh seperti budak terhadap cambuk. Yang dimaksud adalah kesadaran moral yang membuat seseorang tidak hidup sembarangan. Sebuah kesadaran bahwa hidup bukan arena bermain tanpa makna. Bahwa setiap keputusan memiliki dampak. Bahwa ada nilai yang harus dijaga bahkan ketika tidak ada yang melihat.

Kesungguhan inilah yang mulai langka.

Kita hidup di zaman ketika ironi dianggap lebih cerdas daripada ketulusan. Banyak orang takut terlihat sungguh-sungguh karena khawatir dianggap terlalu serius, terlalu idealis, atau terlalu naif. Maka semuanya dibungkus humor. Semua dibuat santai. Bahkan kemarahan terhadap ketidakadilan sering berhenti sebagai meme dan komentar sinis.

Padahal sejarah tidak pernah diubah oleh orang-orang yang menganggap hidup sebagai lelucon panjang.

Bangsa-bangsa besar dibangun oleh generasi yang mau memikul beban zamannya secara serius. Mereka belajar serius, bekerja serius, menjaga moral serius, bahkan bermimpi pun serius. Bukan karena mereka tidak tahu cara menikmati hidup, tetapi karena mereka sadar ada tanggung jawab yang lebih besar daripada sekadar kenyamanan pribadi.

Di banyak negara berkembang, termasuk negeri-negeri Muslim, tantangan terbesar sebenarnya bukan kekurangan sumber daya alam atau jumlah penduduk muda. Masalah yang lebih mendasar adalah hilangnya orientasi kesungguhan. Anak muda didorong mengejar popularitas lebih daripada kapasitas. Mereka dipacu menjadi viral sebelum menjadi matang. Akibatnya, energi besar generasi muda sering habis dalam perlombaan citra.

Baca Juga  Kebangkitan Islam Dimulai Saat Umat Berhenti Menjadi Bayangan Kekuatan Lain 

Padahal kesungguhan adalah fondasi dari semua perubahan nyata.

Seorang mahasiswa yang belajar dengan sungguh-sungguh sedang membangun masa depan bangsanya. Seorang jurnalis yang menjaga integritas di tengah tekanan sedang menjaga nurani publik. Seorang pemuda yang menolak suap kecil sedang mempertahankan martabat masyarakatnya. Semua itu tampak sederhana, tetapi sejarah justru bergerak melalui kesetiaan pada hal-hal kecil yang dilakukan dengan serius.

Dalam tradisi spiritual Islam, doa bukan sekadar pelarian emosional dari kenyataan. Doa adalah latihan membangun manusia yang siap menghadapi kenyataan. Karena itu, doa-doa klasik sering menyisipkan pelajaran hidup yang sangat konkret. Ia tidak hanya mengajarkan cara menangis di hadapan Tuhan, tetapi juga cara berdiri tegak di hadapan dunia.

Maka ketika Doa Kumail memohon “kesungguhan”, sesungguhnya ia sedang mengajarkan etika hidup: jangan mempermainkan sesuatu yang menentukan nasib manusia.

Jangan mempermainkan ilmu.
Jangan mempermainkan keadilan.
Jangan mempermainkan amanah.
Dan jangan mempermainkan masa depan negeri.

Sebab kehancuran sering kali tidak dimulai dari kejahatan besar, melainkan dari kebiasaan menganggap remeh hal-hal penting.

Barangkali itu sebabnya generasi muda selalu menjadi pusat perhatian dalam setiap perubahan sejarah. Mereka memiliki energi, keberanian, dan imajinasi. Tetapi semua itu hanya menjadi kekuatan besar jika disertai kesungguhan. Tanpa itu, energi hanya berubah menjadi keramaian sesaat, bising, cepat viral, lalu hilang tanpa bekas.

Dan mungkin, di tengah dunia yang semakin gemar bercanda tentang segala hal, kemampuan untuk tetap sungguh-sungguh justru telah menjadi bentuk keberanian moral yang paling langka.

Bagikan:
Terkait
Komentar