Bekerja dengan Martabat: Mengapa Islam Memuliakan Orang yang Berkarya

KHAMENEI.ID– Ada banyak cara menilai seseorang. Sebagian orang terpikat oleh wajah yang rupawan, tutur kata yang santun, atau penampilan yang meyakinkan. Namun, Nabi Muhammad saw mengajarkan ukuran yang jauh lebih dalam: apakah seseorang memiliki karya dan pekerjaan yang memberi manfaat.

Di tengah zaman ketika popularitas sering lebih dihargai daripada produktivitas, pesan itu terasa semakin relevan. Islam ternyata tidak hanya memandang kerja sebagai kebutuhan ekonomi, melainkan sebagai bagian dari martabat manusia. Bekerja bukan sekadar cara mencari nafkah, tetapi jalan menjaga harga diri, membangun kemandirian, dan memberi manfaat bagi sesama.

Sebuah riwayat mengisahkan seorang pemuda yang melintas di hadapan Rasulullah saw. Ia tampak gagah, sehat, dan menarik perhatian. Nabi saw pun memanggilnya. Ada dua pertanyaan sederhana yang beliau ajukan: apakah ia sudah menikah dan apa pekerjaannya. Ketika pemuda itu menjawab bahwa ia belum menikah dan tidak memiliki pekerjaan, Rasulullah bersabda, “Ia jatuh dari pandanganku”

Riwayat lain menjelaskan peristiwa itu dengan lebih lengkap.

رَوَى ابْنُ عَبَّاسٍ قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ إِذَا نَظَرَ الرَّجُلَ فَأَعْجَبَهُ قَالَ هَلْ لَهُ حِرْفَةٌ فَإِنْ قَالُوا لَا قَالَ سَقَطَ مِنْ عَيْنِي … لِأَنَّ الْمُؤْمِنَ إِذَا لَمْ يَكُنْ لَهُ حِرْفَةٌ يَعِيشُ بِدِينِهِ

“Ibnu Abbas meriwayatkan bahwa apabila Rasulullah melihat seseorang lalu beliau menyukainya, beliau bertanya, ‘Apakah ia memiliki suatu profesi?’ Jika dijawab tidak, beliau bersabda, ‘Ia jatuh dari pandanganku.’ Ketika ditanya mengapa, beliau menjawab, ‘Sebab seorang mukmin yang tidak memiliki pekerjaan berpotensi menggantungkan hidupnya pada agamanya”

Kalimat terakhir itu mengandung peringatan yang sangat tajam. Agama tidak boleh dijadikan alat untuk menopang kemalasan. Seorang mukmin didorong untuk hidup dari hasil usahanya sendiri, bukan menjadikan simbol-simbol agama sebagai jalan memperoleh keuntungan pribadi tanpa kerja yang nyata.

Baca Juga   Produksi adalah Jihad: Ketika Bekerja Menjadi Bentuk Perlawanan

Di titik ini, bekerja dipahami bukan sekadar aktivitas ekonomi, melainkan bentuk tanggung jawab moral. Islam memandang manusia sebagai makhluk yang diberi kemampuan untuk berkarya. Karena itu, ketika seseorang memilih bermalas-malasan padahal mampu bekerja, ia sedang menyia-nyiakan salah satu potensi paling berharga yang dianugerahkan Tuhan.

Namun, penghargaan Islam terhadap pekerjaan tidak berhenti pada soal memiliki profesi. Yang lebih penting adalah bagaimana pekerjaan itu dilakukan.

Di tengah budaya yang sering mengejar hasil secepat mungkin, Islam justru mengajarkan pentingnya kualitas. Sebuah pekerjaan tidak cukup hanya selesai; ia harus dikerjakan dengan sungguh-sungguh dan penuh tanggung jawab. Dalam sebuah hadis disebutkan:

رَحِمَ اللَّهُ امْرَأً عَمِلَ عَمَلًا صَالِحًا فَأَتْقَنَهُ

“Semoga Allah merahmati seseorang yang melakukan suatu pekerjaan dengan baik dan menyempurnakannya”

Hadis yang singkat ini melahirkan satu konsep penting dalam etika kerja Islam: itqan, yaitu bekerja secara teliti, profesional, kokoh, dan tidak asal-asalan.

Gagasan ini kemudian menyentuh persoalan yang lebih luas. Banyak persoalan sosial sebenarnya tidak lahir karena masyarakat kekurangan orang yang bekerja, tetapi karena terlalu banyak pekerjaan yang dikerjakan tanpa kesungguhan. Jalan yang cepat dipenuhi lubang beberapa bulan setelah dibangun, pelayanan publik yang lamban, bangunan yang mudah rusak, hingga produk yang kualitasnya rendah sering kali berakar pada hilangnya semangat itqan.

Padahal, bekerja secara asal bukan hanya merugikan orang lain, tetapi juga mengurangi nilai ibadah dari pekerjaan itu sendiri. Dalam pandangan Islam, setiap profesi memiliki kehormatan yang sama selama dilakukan secara halal dan penuh tanggung jawab. Seorang petani yang menanam dengan tekun, guru yang mempersiapkan pelajaran dengan sungguh-sungguh, dokter yang melayani pasien dengan hati-hati, pedagang yang jujur, maupun buruh yang menjalankan tugasnya dengan penuh dedikasi, semuanya sedang menghidupkan nilai ibadah melalui pekerjaannya.

Baca Juga  Wara': Seni Menjaga Diri, Amal Paling Mulia dalam Islam

Dalam konteks yang lebih luas, kemajuan sebuah bangsa sesungguhnya dibangun oleh jutaan orang yang bekerja dengan standar seperti ini. Peradaban tidak lahir dari pidato-pidato besar, melainkan dari pekerjaan kecil yang dilakukan dengan konsisten dan berkualitas. Setiap baut yang dipasang dengan benar, setiap laporan yang disusun dengan jujur, setiap barang yang diproduksi tanpa mengurangi mutu, merupakan fondasi yang menopang kepercayaan masyarakat.

Karena itu, Islam menghubungkan antara iman dan profesionalisme secara sangat erat. Keimanan bukan alasan untuk mengabaikan kualitas kerja. Sebaliknya, iman justru menjadi energi yang membuat seseorang merasa diawasi Allah bahkan ketika tidak ada manusia yang melihatnya. Dari kesadaran itulah lahir integritas, kejujuran, dan tanggung jawab.

Di tengah dunia yang semakin kompetitif, pesan Rasulullah saw tetap terdengar segar. Beliau tidak memuji seseorang hanya karena penampilannya, melainkan karena kesediaannya berkarya. Dan ketika seseorang telah memilih sebuah pekerjaan, beliau mengajarkan agar pekerjaan itu dilakukan dengan sebaik-baiknya.

Barangkali di situlah letak makna bekerja yang sesungguhnya. Bukan sekadar mengejar penghasilan, jabatan, atau pengakuan, melainkan membangun martabat diri melalui karya yang bermanfaat. Sebab pada akhirnya, yang dikenang bukanlah seberapa sibuk seseorang tampak di hadapan orang lain, melainkan seberapa besar manfaat yang ditinggalkan melalui pekerjaan yang dikerjakannya dengan penuh tanggung jawab dan ketulusan.

Bagikan:
Terkait
Komentar