Bukan Ke Mana Kita Pergi, Tetapi Untuk Apa Kita Melangkah 

KHAMENEI.ID– Di ruang publik, perdebatan tentang kekuasaan hampir selalu berakhir pada kecurigaan. Ketika seseorang mendekati pemerintahan, memasuki lingkaran pengambil keputusan, atau mendukung sebuah sistem politik, tidak sedikit yang langsung menuduhnya sedang mengejar dunia. Seolah-olah kekuasaan adalah wilayah yang secara otomatis mencemari kesucian niat.

Padahal, persoalannya tidak sesederhana itu.

Yang sering luput dari perhatian bukanlah posisi yang ditempati seseorang, melainkan tujuan yang bersemayam di dalam hatinya. Sebab dalam kehidupan, yang menentukan nilai sebuah tindakan bukan hanya apa yang dilakukan, tetapi mengapa tindakan itu dilakukan.

Karena itulah, membelah manusia menjadi dua kelompok yang saling bertentangan, mereka yang berada di pemerintahan dan mereka yang berada di luar pemerintahan. Lalu memberi cap “bernilai” kepada yang satu dan “tidak bernilai” kepada yang lain, merupakan cara pandang yang keliru. Kekeliruan itu lahir ketika ukuran moral digeser dari niat menuju posisi.

Seseorang bisa berada jauh dari pusat kekuasaan, tetapi seluruh hidupnya dikuasai oleh ambisi pribadi. Sebaliknya, seseorang bisa memikul jabatan besar, namun menjadikannya sarana pengabdian kepada nilai-nilai yang lebih tinggi.

Masalahnya bukan pada kekuasaan. Masalahnya adalah ketika dunia menjadi tujuan.

Dalam sebuah hadis yang terkenal, Rasulullah saw bersabda:

الْفُقَهَاءُ أُمَنَاءُ الرُّسُلِ مَا لَمْ يَدْخُلُوا فِی الدُّنْيَا

“Para ahli agama adalah para pemegang amanat para nabi selama mereka belum masuk ke dalam dunia”

Para sahabat kemudian bertanya, apa yang dimaksud dengan “masuk ke dalam dunia”?

Rasulullah menjawab:

اتِّبَاعُ السُّلْطَانِ

“Mengikuti penguasa”

Lalu beliau melanjutkan:

فَإِذَا فَعَلُوا ذَلِكَ فَاحْذَرُوهُمْ عَلَى دِينِكُمْ

“Jika mereka melakukan itu, maka berhati-hatilah terhadap mereka dalam urusan agama kalian”

Sekilas, hadis ini sering dipahami sebagai larangan mutlak untuk berhubungan dengan kekuasaan. Namun pemahaman yang lebih mendalam menunjukkan bahwa yang dikritik bukanlah keberadaan di dekat penguasa, melainkan ketundukan kepada kekuasaan demi kepentingan duniawi.

Baca Juga  Rahasia Ketahanan Sebuah Bangsa: Ketika Setiap Orang Menunaikan Tugasnya dengan Sempurna 

Ada perbedaan besar antara mendampingi kekuasaan untuk membela kebenaran dan mengikuti kekuasaan demi keuntungan pribadi. Yang pertama adalah pengabdian. Yang kedua adalah transaksi.

Sejarah manusia penuh dengan contoh tentang hal ini. Ada orang-orang yang menjauh dari jabatan, tetapi seluruh pikirannya dipenuhi perhitungan materi dan popularitas. Ada pula yang menerima tanggung jawab besar dengan segala risiko dan tekanan, justru karena merasa terpanggil oleh amanah moral.

Di sinilah letak persoalan yang sesungguhnya: dunia tidak selalu berada di istana, dan spiritualitas tidak selalu berada di luar istana.

Dunia bisa bersembunyi di balik jubah kesalehan. Dunia bisa hadir dalam bentuk pujian yang dicari-cari, pengaruh yang dibanggakan, atau pengakuan yang terus-menerus diharapkan dari manusia lain. Sebaliknya, pengabdian kepada Tuhan bisa hadir dalam bentuk tanggung jawab administratif, pelayanan publik, bahkan keputusan-keputusan berat yang harus diambil demi kemaslahatan banyak orang.

Karena itu, ukuran utama bukanlah apakah seseorang berada di dalam sistem atau di luar sistem. Ukurannya adalah apakah ia bergerak karena hawa nafsu atau karena tanggung jawab.

Ketika kepentingan pribadi menjadi tujuan utama, maka apa pun profesi dan posisinya kehilangan nilai moral. Seorang pejabat bisa terjatuh karena ambisi duniawi. Namun seorang aktivis, akademisi, pedagang, bahkan tokoh agama pun dapat mengalami hal yang sama jika seluruh geraknya diarahkan untuk kepentingan dirinya sendiri.

Sebaliknya, ketika seseorang menerima tanggung jawab dengan niat melayani, memperbaiki keadaan, dan menunaikan kewajiban moralnya, maka tugas itu memperoleh makna yang jauh lebih besar daripada sekadar pekerjaan atau jabatan.

Dalam konteks modern, pelajaran ini terasa semakin tajam. Kita hidup di era ketika citra sering lebih dihargai daripada substansi. Banyak orang sibuk menunjukkan posisi mereka, tetapi lupa memeriksa niat yang menggerakkan langkah mereka. Kita menilai seseorang berdasarkan tempat duduknya, bukan berdasarkan orientasi hidupnya.

Baca Juga  Keadilan Baitul Mal: Ketika Imam Ali Menolak Membeli Kekuasaan dengan Ketidakadilan

Padahal, manusia tidak dinilai oleh kursi yang didudukinya. Manusia dinilai oleh tujuan yang ia bawa ketika duduk di kursi itu.

Karena itulah, mendukung sebuah kebaikan, membela pemimpin yang layak, atau terlibat dalam perbaikan masyarakat bukanlah sesuatu yang tercela selama dilakukan demi nilai-nilai yang benar. Bahkan dalam banyak keadaan, itu merupakan bentuk perjuangan moral yang berat. Menjauh dari tanggung jawab tidak selalu berarti lebih suci. Kadang justru menerima tanggung jawab adalah bentuk pengorbanan yang lebih besar.

Pada akhirnya, dunia bukanlah soal lokasi, melainkan orientasi. Dunia bukan hanya tentang harta atau jabatan, melainkan segala sesuatu yang membuat manusia menjadikan dirinya sendiri sebagai pusat dari segala tujuan.

Maka pertanyaan yang perlu diajukan bukanlah: “Di mana aku berada?” Pertanyaan yang lebih penting adalah: “Untuk apa aku berada di sana?”

Sebab kekuasaan, jabatan, dan tanggung jawab hanyalah cermin. Yang terlihat di dalamnya bukanlah posisi kita, melainkan niat yang selama ini kita sembunyikan. Dan sering kali, dari sanalah nilai sejati seseorang ditentukan.

Bagikan:
Terkait
Komentar