Haji Bukan Sekadar Ritual: Seruan Imam Ali Khamenei tentang Misi Peradaban dan Persatuan Umat

KHAMENEI.ID – Ketika nama haji disebut, apa yang terlintas di benak generasi muda dan masyarakat awam? Pertanyaan itu menjadi kegelisahan utama Imam Ali Khamenei qs tentang pentingnya membangun budaya haji yang lebih dalam dan bermakna. Bagi pemimpin Iran tersebut, ibadah tahunan ke Tanah Suci tidak boleh berhenti pada ritus spiritual dan perjalanan fisik. Haji, katanya, harus dipahami sebagai proyek peradaban.

Dalam ceramahnya, Imam Khamenei menegaskan bahwa para pejabat dan pembimbing haji memikul tanggung jawab besar untuk menanamkan makna ini kepada masyarakat. Ia bersikeras agar setiap kali Ka’bah disebut, yang muncul dalam benak generasi muda bukan sekadar bayangan perjalanan religi, melainkan gagasan besar: peradaban Islam, persatuan global, perspektif lintas batas, dan penghapusan sekat-sekat sosial di antara umat manusia.

Nada pidatonya tegas sekaligus reflektif. Ia meminta para pembimbing rombongan, pejabat haji, hingga lembaga keagamaan untuk aktif melakukan “budaya haji”—sebuah proses panjang membangun cara pandang. Haji, menurutnya, harus dijalankan dengan niat yang sadar akan dimensi sosial dan peradaban. Jika makna ini berhasil meresap ke dalam kesadaran publik, kekhawatiran-kekhawatiran kecil yang kerap menyertai perjalanan haji akan memudar dengan sendirinya.

Kekhawatiran yang beliau maksud bukan hal sepele. Imam Khamenei menyinggung fenomena yang sering terjadi: “jamaah lebih sibuk berburu oleh-oleh dan berkeliling pasar dibanding merenungkan makna ibadah itu sendiri.” Gambaran itu, baginya, menjadi simbol betapa haji masih sering direduksi menjadi perjalanan konsumtif, bukan momentum transformasi spiritual dan sosial.

Di sinilah pesan utama ceramah tersebut menemukan urgensinya. Haji dipandang sebagai ruang pertemuan global umat Islam, tempat jutaan manusia dari berbagai bangsa berdiri dalam kesetaraan yang sama. Perspektif ini selaras dengan pesan Al-Qur’an tentang tujuan haji: “لِيَشْهَدُوا مَنَافِعَ لَهُمْ وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ” — “Agar mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan menyebut nama Allah pada hari-hari yang telah ditentukan” (QS. Al-Hajj: 28). Ayat ini, dipahami sebagai isyarat bahwa manfaat haji bukan hanya spiritual, tetapi juga sosial dan peradaban.

Baca Juga  Wasiat di Pusara Suci Imam Ridha as: Goresan Pena Imam Ali Khamenei Terungkap

Pesan tersebut terasa relevan bagi dunia Muslim modern yang semakin terhubung. Dalam era globalisasi, haji menjadi salah satu pertemuan manusia terbesar di dunia. Di sana, batas negara memudar, identitas sosial melebur, dan pengalaman kolektif terbentuk. Khamenei ingin agar kesadaran ini tidak hilang di tengah hiruk-pikuk perjalanan dan rutinitas wisata religi.

Pada akhirnya, ceramah ini bukan sekadar kritik terhadap praktik haji yang dangkal, melainkan ajakan untuk mengembalikan maknanya sebagai simbol persatuan umat dan pembangunan peradaban. Haji, dalam perspektif ini, bukan perjalanan yang selesai saat jamaah pulang ke tanah air. Ia adalah titik awal kesadaran baru—tentang dunia Islam yang satu, setara, dan saling terhubung.

Bagikan:
Terkait
Komentar