Imam Ali Khamenei qs, Kemandirian Nasional dan Mitos Isolasi

Di tengah dunia yang makin terhubung—dan sekaligus makin tegang—gagasan tentang “tidak bergantung pada kekuatan asing” sering terdengar seperti ajakan menutup diri. Tuduhan itu pula yang kerap diarahkan pada Iran. Namun dalam sejumlah ceramahnya, Ali Khamenei justru mengajak melihat ulang makna kemandirian nasional: bukan isolasi, melainkan keberanian berdiri sejajar.

Gagasan itu berangkat dari satu klaim besar: Republik Islam telah membuktikan bahwa sebuah negara dapat bergerak maju tanpa bertumpu pada kekuatan luar—bahkan ketika menghadapi tekanan dan “kelicikan” mereka. Pernyataan ini bukan sekadar retorika politik, melainkan narasi identitas. Dalam cara pandang Khamenei, perjalanan Iran selama beberapa dekade terakhir adalah bukti bahwa bangsa dapat menulis takdirnya sendiri, tanpa menyerahkan pena kepada pihak lain.

Ia menekankan masa depan dengan nada optimistis. Menurutnya, rakyat Iran tidak akan membiarkan pihak luar menentukan nasib mereka. Di titik ini, pidato tersebut terasa lebih sebagai pesan psikologis ketimbang sekadar kebijakan luar negeri: membangun rasa percaya diri kolektif. Sebuah bangsa, kata narasi ini, harus percaya pada kapasitasnya sebelum menuntut pengakuan dari dunia.

Namun bagian paling menarik justru muncul ketika Khamenei menanggapi kritik yang kerap muncul. Setiap kali ia berbicara tentang “tidak menatap ke luar”, sebagian pihak menuduhnya ingin menutup Iran dari dunia. Ia menolak tuduhan itu mentah-mentah. Sejak awal revolusi, katanya, Iran tidak pernah menolak hubungan internasional. Bahkan sebaliknya: hubungan dengan semua negara dipandang penting—kecuali satu atau dua pengecualian yang memiliki alasan moral dan politik yang jelas.

Contoh yang ia berikan sederhana namun simbolik: hubungan dengan Afrika Selatan pada masa apartheid. Ketika rezim rasial masih berkuasa, hubungan diplomatik diputus. Namun setelah sistem diskriminasi rasial runtuh, hubungan kembali dibangun dan kini berjalan baik. Pesan yang ingin disampaikan terang: yang diputus bukanlah hubungan dengan dunia, melainkan hubungan dengan ketidakadilan.

Baca Juga  Sekilas Kenangan Ayatollah Sayyid Mojtaba Hosseini Khamenei tentang Sang Pemimpin yang Syahid (Bagian 1)

Di titik ini, narasi “Amerika-zdāyi”—penghilangan dominasi Amerika—menjadi lebih mudah dipahami. Ia bukan berarti menolak dunia Barat secara total, melainkan menolak ketergantungan struktural yang membuat sebuah negara kehilangan otonomi keputusan. Dalam kerangka ini, hubungan internasional bukan ditolak, tetapi dinegosiasikan ulang dalam posisi yang lebih setara.

Khamenei bahkan mengaitkan gagasan ini dengan praktik pemerintahan kontemporer. Ia menyinggung pemerintahan Ebrahim Raisi sebagai contoh periode ketika komitmen ideologis berjalan seiring dengan penguatan hubungan global. Pesan implisitnya jelas: kemandirian tidak menghalangi diplomasi; justru menjadi fondasinya. Negara yang percaya diri, menurut logika ini, lebih dihormati dalam percaturan global.

Di sinilah pidato tersebut memasuki wilayah psikologi politik. “Tidak menatap ke luar” diterjemahkan sebagai keberanian nasional. Keberanian ini bukan sekadar slogan, melainkan syarat bagi lahirnya kemandirian. Tanpa rasa percaya diri kolektif, sebuah bangsa akan selalu mencari validasi eksternal—dan pada akhirnya mudah ditekan. Sebaliknya, bangsa yang menunjukkan kemampuan, identitas, dan kapasitasnya akan memperoleh penghormatan yang lebih besar.

Narasi ini mengingatkan pada dilema klasik negara berkembang: bagaimana tetap terbuka pada dunia tanpa larut dalam ketergantungan. Globalisasi menjanjikan konektivitas, tetapi juga menciptakan hierarki baru. Negara-negara kuat menulis aturan, sementara negara lain sering kali hanya menyesuaikan diri. Dalam konteks ini, pesan Khamenei berbunyi seperti seruan untuk menegosiasikan ulang posisi dalam sistem global.

Tentu saja, pandangan ini tidak bebas dari kritik. Sebagian melihatnya sebagai idealisme yang sulit diterapkan dalam ekonomi dunia yang saling terikat. Namun bagi pendukungnya, kemandirian bukan berarti menolak kerja sama, melainkan memastikan kerja sama tidak berubah menjadi dominasi. Ini adalah garis tipis antara keterbukaan dan kedaulatan—garis yang setiap negara coba tarik dengan cara berbeda.

Baca Juga  Biografi Imam Ali Khamenei QS, jejak pendidikan agama, penjara, pengasingan, hingga menjadi Pemimpin Tertinggi Republik Islam

Menariknya, pidato tersebut juga mengandung dimensi simbolik tentang “kehormatan nasional”. Dalam logika Khamenei, penghormatan internasional bukan diperoleh dengan kepatuhan, melainkan dengan menunjukkan kemampuan berdiri sendiri. Ini adalah narasi yang resonan di banyak negara yang pernah mengalami kolonialisme atau tekanan geopolitik. Kemandirian, dalam pengertian ini, bukan sekadar strategi, tetapi bagian dari martabat.

Pada akhirnya, pesan utama ceramah ini bukanlah tentang memutus hubungan dengan dunia. Ia justru berbicara tentang cara berhubungan dengan dunia tanpa kehilangan diri sendiri. Dalam dunia yang semakin saling terhubung, pertanyaan yang diajukan menjadi relevan bagi banyak bangsa: sejauh mana keterbukaan harus berjalan, dan di titik mana kemandirian harus ditegaskan?

Di tengah tarik-menarik globalisasi dan kedaulatan, pidato ini mengajak pembaca merenung: mungkin tantangan terbesar bukan memilih antara keterbukaan atau isolasi, melainkan menemukan keseimbangan di antara keduanya. Sebab pada akhirnya, hubungan internasional bukan hanya soal diplomasi dan perdagangan, tetapi juga soal identitas dan harga diri sebuah bangsa.

Baca juga: Retaknya Hegemoni Amerika di Timur Tengah: Membaca Peta Baru Kawasan dalam Pandangn Imam Ali Khamenei qs

Bagikan:
Terkait
Komentar