KHAMENEI.ID – Persatuan dunia Islam bukanlah jalan yang tanpa rintangan. Di balik seruan untuk mempererat hubungan antarnegara dan antarmazhab, terdapat kepentingan-kepentingan besar yang justru memperoleh keuntungan dari perpecahan. Karena itu, menurut Syahid Imam Ali Khamenei qs, siapa pun yang benar-benar menginginkan persatuan umat Islam harus memahami pula siapa dan apa yang mengancamnya.
Dalam pandangan IMam Khamenei, pada masa kini dua kekuatan yang berada di garis depan dalam menghadapi gagasan persatuan Islam adalah Amerika Serikat dan rezim Israel. Namun beliau mengingatkan bahwa persoalan tersebut tidak boleh dipersempit menjadi konflik antara Republik Islam Iran dan Amerika.
Menurutnya, anggapan bahwa perseteruan hanya terjadi antara Washington dan Teheran membuat persoalan menjadi terlalu sederhana. Republik Islam memang menghadapi tekanan lebih besar karena secara aktif menentang kebijakan Amerika. Tetapi, dalam pandangan Imam Khamenei, persoalan yang lebih luas menyangkut hubungan Amerika dengan dunia Islam secara keseluruhan.
Palestina, negara-negara Asia Barat, Afrika Utara, hingga masyarakat Muslim secara umum berada dalam pusaran persoalan yang sama.
Mengapa Islam Dipandang Bertentangan dengan Sistem Dominasi?
Imam Khamenei melihat persoalan itu bukan semata-mata sebagai pertentangan geopolitik, melainkan juga pertentangan prinsip.
Islam, menurutnya, membawa pesan penolakan terhadap kezaliman, dominasi dan kesombongan kekuasaan. Karena itu, ketika sebuah tatanan internasional dibangun di atas relasi dominasi, nilai-nilai tersebut secara alamiah berhadapan dengan prinsip Islam.
Dalam sejarah modern, pusat kekuatan dalam sistem tersebut dapat berganti. Dahulu Inggris pernah menempati posisi dominan. Kini, menurut Imam Khamenei, Amerika berada di puncaknya.
Karena itu, beliau menolak anggapan bahwa Amerika hanya bermusuhan dengan Republik Islam Iran sementara bersahabat dengan negara-negara Muslim lainnya.
Imam bahkan menggunakan hubungan Amerika dengan Arab Saudi sebagai contoh. Pernyataan pejabat Amerika yang merendahkan Saudi sebagai negara yang pada dasarnya hanya memiliki uang, menurut Imam Khamenei, menunjukkan bentuk lain dari relasi yang tidak setara.
Di balik bahasa diplomasi, beliau melihat adanya logika kepentingan: kekayaan negara lain dipandang sebagai sesuatu yang dapat dimanfaatkan.
Pesan yang hendak disampaikan Imam Khamenei bukan sekadar tentang satu pernyataan politik. Ia ingin masyarakat Muslim membaca hubungan internasional secara lebih kritis—tidak mudah menganggap sebuah negara sebagai sahabat hanya karena menggunakan bahasa demokrasi, kebebasan, atau hak asasi manusia.
Amerika dan Politik Ketidakstabilan
Imam Khamenei kemudian mengarahkan kritiknya pada kehadiran Amerika di kawasan Timur Tengah.
Dalam pandangannya, kehadiran Amerika di kawasan tersebut lebih banyak membawa konflik dan ketidakstabilan daripada perdamaian. Ia mengaitkan berbagai bentuk kekacauan politik, perang internal, serta munculnya kelompok-kelompok ekstremis dengan intervensi dan kebijakan kekuatan besar.
Di sinilah kritiknya terhadap Amerika menjadi lebih luas. Yang ingin disoroti bukan hanya keberadaan pangkalan militer atau operasi bersenjata, tetapi juga bagaimana sebuah kekuatan besar dapat membentuk arah politik suatu kawasan melalui berbagai instrumen.
Sebab perang bukan satu-satunya cara untuk memengaruhi sebuah negara.
Ada cara yang jauh lebih halus.
Senjata yang Tidak Terlihat
Menurut Imam Khamenei, salah satu instrumen utama Amerika di kawasan adalah pengaruh atau infiltrasi politik, terutama pada pusat-pusat pengambilan keputusan.
Beliau menyebut beberapa bentuknya: menciptakan perpecahan, mengguncang keteguhan masyarakat, menumbuhkan ketidakpercayaan antara bangsa dan pemerintah, serta memengaruhi cara para pengambil keputusan menghitung kepentingan negaranya.
Namun yang paling berbahaya, menurutnya, adalah ketika sebuah bangsa dibuat percaya bahwa satu-satunya jalan keluar dari persoalan mereka adalah menyerahkan diri kepada kekuatan asing (Amerika).
Logikanya sederhana: jika suatu negara ingin keluar dari krisis, ikutilah negara adidaya; jika ingin mendapatkan keamanan, terimalah arahannya; jika ingin menyelesaikan masalah, lakukan apa yang diperintahkannya.
Bagi Imam Khamenei, justru cara berpikir seperti inilah yang harus dilawan.
Sebab sebuah negara tidak perlu diduduki secara militer untuk kehilangan kedaulatannya. Cukup jika keputusan-keputusan strategisnya mulai ditentukan oleh kalkulasi pihak lain.
Dengan demikian, perang modern tidak selalu berlangsung di medan tempur. Ia juga berlangsung di ruang informasi, ruang politik, media, dan bahkan di dalam cara sebuah bangsa memandang dirinya sendiri.
Perpecahan sebagai Senjata
Dalam konteks persatuan Islam, ancaman terbesar bukan hanya konflik terbuka antara negara-negara Muslim. Yang lebih berbahaya adalah ketika umat mulai saling mencurigai.
Jika Sunni dan Syiah saling memandang sebagai musuh, jika negara Muslim melihat negara Muslim lainnya sebagai ancaman utama, atau jika masyarakat kehilangan kepercayaan kepada pemerintahnya sendiri, maka persatuan menjadi semakin sulit diwujudkan.
Karena itu, menurut Imam Khamenei, menciptakan ketidakpercayaan merupakan senjata yang dampaknya bisa lebih panjang daripada serangan militer.
Senjata konvensional dapat menghancurkan bangunan. Tetapi propaganda dan infiltrasi dapat menghancurkan kepercayaan.
Rudal dapat merusak sebuah kota dalam hitungan menit. Perpecahan dapat menghancurkan sebuah masyarakat selama bertahun-tahun.
Membaca Wajah di Balik Bahasa Diplomasi
Imam Khamenei juga mengajak masyarakat Muslim untuk membedakan antara retorika dan tindakan.
Sebuah kekuatan dapat berbicara tentang demokrasi, hak asasi manusia, kebebasan dan perdamaian. Tetapi pertanyaan yang lebih penting adalah: apa yang dilakukan ketika kepentingan politiknya bertabrakan dengan prinsip-prinsip tersebut?
Di situlah, menurut pandangan Imam Khamenei, wajah sebenarnya sebuah kekuatan dapat terlihat.
Ia mengibaratkannya dengan gambaran yang terdapat dalam Al-Qur’an tentang orang-orang yang ketika memiliki kesempatan untuk berkuasa tidak akan menghormati ikatan dan perjanjian, meskipun secara lisan mereka berbicara seolah-olah bersahabat.
Pesan tersebut pada akhirnya kembali kepada persoalan persatuan.
Umat Islam tidak cukup hanya menyerukan persatuan dalam forum-forum resmi. Mereka juga harus memahami faktor-faktor yang membuat persatuan sulit terwujud: fanatisme, prasangka, ketidakpercayaan, propaganda, intervensi asing, hingga ketergantungan dalam pengambilan keputusan.
Sebab persatuan yang tidak memiliki kesadaran politik akan mudah digoyahkan.
Persatuan Membutuhkan Kesadaran
Inilah mengapa gagasan Pekan Persatuan dan seruan persatuan umat Islam tidak berhenti pada hubungan antara Sunni dan Syiah. Ia memiliki dimensi yang jauh lebih luas: bagaimana bangsa-bangsa Muslim mempertahankan kemampuan untuk menentukan masa depan mereka sendiri.
Bagi Imam Khamenei, umat Islam harus mampu mengenali pola-pola yang memecah mereka. Bukan berarti setiap konflik harus dibaca sebagai konspirasi, tetapi umat juga tidak boleh begitu naif hingga mengabaikan kepentingan geopolitik yang bekerja di balik berbagai peristiwa.
Pada akhirnya, persatuan membutuhkan dua hal sekaligus: kedekatan hati dan kejernihan membaca keadaan.
Tanpa persaudaraan, umat mudah terpecah. Tanpa kesadaran, persatuan mudah dimanfaatkan atau dihancurkan.
Dan mungkin di situlah inti pesan Imam Khamenei: jika dunia Islam ingin berdiri dengan kekuatannya sendiri, langkah pertama bukan hanya memperkuat senjata, tetapi memperkuat kepercayaan satu sama lain.







