KHAMENEI.ID –
Imam Khamenei: Ketenangan Batin Bukan Kelemahan, Melainkan Sumber Kekuatan dan Bertambahnya Iman
Ada jenis ketenangan yang lahir dari keadaan yang serba aman. Ada pula ketenangan yang justru muncul ketika keadaan sedang penuh tekanan. Bagi Imam Khamenei, jenis kedua jauh lebih penting. Ia bukan sekadar perasaan tenang, melainkan sakinah: keteguhan batin yang membuat seorang mukmin tetap mampu berpikir jernih, berdiri tegak, dan melanjutkan perjuangan ketika keadaan belum berpihak.
Gagasan itu berangkat dari firman Allah swt dalam Surah Al-Fath:
“Dialah yang menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin agar keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka.”
Ayat tersebut, dalam penjelasan Imam Ali Khamenei qs, menunjukkan hubungan yang erat antara ketenangan hati dan kekuatan iman. Sakinah bukan sekadar keadaan psikologis. Ia menjadi energi spiritual yang membuat iman tidak mudah goyah.
Ketika dunia dibuat gaduh
Dalam kehidupan masyarakat, kegelisahan sering kali bukan muncul tanpa sebab. Pikiran dapat dibuat terus-menerus berada dalam keadaan tertekan: ketakutan diperbesar, ketidakpastian dipelihara, dan harapan dibuat tampak tidak masuk akal.
Dalam situasi semacam itu, manusia mudah kehilangan kemampuan untuk melihat persoalan secara utuh. Setiap masalah terlihat sebagai bencana. Setiap ancaman terasa sebagai akhir. Setiap kemunduran dianggap sebagai bukti bahwa perjuangan tidak mungkin berhasil.
Di sinilah sakinah memperoleh maknanya.
Menurut Imam Khamenei, pihak yang berseberangan dengan masyarakat beriman justru berkepentingan menciptakan kondisi sebaliknya: keguncangan pikiran, ketidakpercayaan, pesimisme, dan hilangnya rasa percaya diri. Sebab, masyarakat yang terus-menerus diliputi kecemasan akan lebih mudah kehilangan keberanian untuk menentukan jalan sendiri.
Karena itu, perang terhadap manusia tidak selalu dimulai dengan serangan fisik. Kadang ia dimulai dengan membuat seseorang percaya bahwa dirinya tidak memiliki kekuatan untuk melawan keadaan.
Mengingat manusia-manusia besar
Salah satu jalan menuju ketenangan, menurut Imam Khamenei, adalah mengingat kembali kebesaran manusia-manusia yang telah menempuh jalan panjang dalam sejarah.
Mengapa kisah para nabi, orang-orang saleh, dan tokoh-tokoh besar terus diceritakan?
Bukan semata-mata untuk mengenang masa lalu. Ingatan tentang keteguhan mereka dapat membentuk keberanian manusia masa kini. Ketika seseorang melihat bagaimana manusia lain mampu melewati ujian yang jauh lebih berat, ia memperoleh ukuran baru tentang kemampuan dirinya sendiri.
Sejarah, dengan demikian, bukan hanya kumpulan tanggal dan peristiwa. Ia dapat menjadi sumber kepercayaan diri.
Puncak-puncak spiritual manusia menjadi semacam cermin: bahwa keteguhan, kesabaran, pengorbanan, dan keberanian bukanlah sesuatu yang mustahil. Ia pernah diwujudkan oleh manusia nyata dalam keadaan nyata.
Karena itu, mengingat kebesaran manusia bukan nostalgia. Ia adalah cara membangun kembali keberanian.
Ketenangan yang tidak berarti pasif
Ada kesalahpahaman yang perlu dibedakan. Sakinah bukan berarti berhenti bergerak.
Justru sebaliknya. Dalam kerangka yang dijelaskan Imam Khamenei, ketenangan batin menjadi syarat agar seseorang dapat bergerak dengan benar.
Orang yang panik cenderung bereaksi. Orang yang tenang dapat memilih.
Orang yang takut hanya melihat ancaman. Orang yang memiliki keteguhan dapat melihat kemungkinan.
Karena itu, ketenangan yang dimaksud bukan ketenangan orang yang menyerah kepada keadaan. Ia adalah ketenangan orang yang percaya bahwa keadaan dapat dihadapi.
Ayat tersebut bahkan menghubungkan sakinah dengan bertambahnya iman: “li-yazdādu īmānan ma‘a īmānihim”—agar iman mereka bertambah bersama iman yang telah ada.
Dengan kata lain, ketenangan bukan hasil akhir dari iman. Ia juga dapat menjadi jalan yang memperkuat iman.
Dari mana ketenangan itu berasal?
Jawabannya terletak pada bagian berikutnya dari ayat: “Wa lillāhi junūdus-samāwāti wal-ardh”—milik Allah-lah bala tentara langit dan bumi.
Bagi Imam Khamenei, inilah fondasi kepercayaan tersebut. Manusia tidak harus merasa bahwa seluruh kekuatan berada di tangannya sendiri.
Keyakinan kepada kekuasaan Allah swt mengubah cara seseorang memandang ancaman.
Ia tetap melihat bahaya sebagai bahaya. Ia tidak menutup mata terhadap realitas. Namun ia tidak menganggap kekuatan lawan sebagai kekuatan mutlak. Ada kekuasaan yang lebih tinggi daripada seluruh kekuatan material.
Di titik ini, keimanan bertemu dengan keberanian.
Seseorang dapat bekerja keras tanpa menyembah hasil. Ia dapat berjuang tanpa memastikan kemenangan berada di tangannya. Ia dapat menghadapi kesulitan tanpa kehilangan harapan.
Inilah bentuk kepercayaan yang tidak membuat manusia pasif, tetapi justru membebaskannya dari ketakutan berlebihan terhadap hasil.
Ketenangan sebagai modal perjuangan
Dalam dunia yang bergerak cepat, manusia mudah terjebak dalam kegaduhan informasi. Setiap kabar dapat memicu kepanikan. Setiap perubahan dapat menimbulkan kecemasan. Pikiran terus dipaksa bergerak sebelum sempat memahami ke mana ia bergerak.
Dalam kondisi seperti itu, sakinah menjadi semakin relevan.
Ketenangan batin bukan berarti tidak peduli terhadap keadaan. Ia berarti tidak membiarkan keadaan menguasai seluruh pikiran.
Masyarakat yang memiliki ketenangan akan lebih sulit diprovokasi. Lebih sulit dibuat putus asa. Lebih sulit dipaksa mengambil keputusan karena ketakutan.
Itulah sebabnya persoalan spiritual pada akhirnya memiliki konsekuensi sosial dan politik. Iman yang kokoh dapat melahirkan keteguhan masyarakat. Keteguhan melahirkan keberanian. Dan keberanian memungkinkan sebuah bangsa melewati masa-masa sulit tanpa kehilangan arah.
Pada akhirnya, pesan Imam Khamenei bukanlah ajakan untuk melarikan diri dari kenyataan. Justru sebaliknya: menghadapi kenyataan dengan hati yang tidak runtuh.
Bekerja untuk manusia. Bekerja untuk Allah swt. Melakukannya dengan keikhlasan. Lalu menyerahkan hasil akhirnya kepada-Nya.
Sebab perjuangan yang kehilangan ketenangan mudah berubah menjadi kepanikan. Tetapi perjuangan yang ditopang sakinah memiliki sesuatu yang jauh lebih kuat: iman yang bertambah ketika diuji.







