Istiqomah di Jalan Kebenaran: Pelajaran Besar dari Awal Kenabian Muhammad

KHAMENEI.ID– Kebenaran hampir tidak pernah lahir di tengah tepuk tangan. Ia justru tumbuh dari kesunyian, penolakan, bahkan ancaman. Sejarah kenabian Muhammad saw memperlihatkan satu kenyataan yang terus berulang sepanjang zaman: bukan banyaknya pengikut yang menentukan kemenangan sebuah kebenaran, melainkan keteguhan mereka yang tetap berdiri ketika segala alasan untuk menyerah tampak begitu masuk akal.

Tiga tahun pertama setelah menerima wahyu, Nabi Muhammad saw berdakwah secara sembunyi-sembunyi. Hasilnya, hanya sekitar tiga puluh hingga empat puluh orang yang memeluk Islam. Jumlah yang sangat kecil dibandingkan masyarakat Mekah yang dikuasai elite Quraisy. Namun justru ketika jumlah itu masih sedikit, perintah Allah datang agar dakwah dilakukan secara terbuka.

Allah berfirman:

فَاصْدَعْ بِمَا تُؤْمَرُ وَأَعْرِضْ عَنِ الْمُشْرِكِينَ ۝ إِنَّا كَفَيْنَاكَ الْمُسْتَهْزِئِينَ

“Sampaikanlah secara terang-terangan apa yang diperintahkan kepadamu, dan berpalinglah dari orang-orang musyrik. Sungguh, Kami akan melindungimu dari orang-orang yang memperolokmu” (QS. Al-Hijr: 94–95)

Perintah itu mengubah segalanya. Dakwah yang semula tersembunyi kini berdiri di ruang publik, menantang tatanan sosial, ekonomi, dan politik Mekah. Para pembesar Quraisy segera menyadari bahwa yang sedang mereka hadapi bukan sekadar ajaran baru, melainkan gagasan yang dapat meruntuhkan seluruh fondasi kekuasaan mereka.

Menariknya, senjata pertama yang mereka gunakan bukan ancaman, melainkan rayuan.

Mereka mendatangi Abu Thalib, paman Nabi, membawa tawaran yang sulit ditolak. Jika Muhammad saw menginginkan kekuasaan, seluruh kepemimpinan Mekah akan diserahkan kepadanya. Jika yang diinginkan adalah kekayaan, mereka siap menjadikannya orang terkaya. Bahkan jika ia ingin menjadi raja, mereka akan mengangkatnya sebagai penguasa. Syaratnya hanya satu: berhentilah menyampaikan risalah itu.

Di hadapan bujukan semacam itu, Nabi saw tidak sedang memilih antara miskin atau kaya, antara rakyat biasa atau seorang raja. Yang sedang diuji adalah apakah kebenaran bisa ditukar dengan kenyamanan.

Baca Juga  Mengapa Musuh Menang? Karena Kita Lalai pada Musuh yang Ada di Dalam Diri

Jawaban beliau kemudian menjadi salah satu pernyataan paling monumental dalam sejarah Islam:

“Wahai Pamanku, demi Allah, seandainya mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku agar aku meninggalkan urusan ini, aku tidak akan meninggalkannya sampai Allah memenangkan agama ini atau aku binasa karenanya”

Riwayat menyebutkan bahwa setelah mengucapkan kalimat itu, mata Nabi saw dipenuhi air mata. Bukan karena takut menghadapi ancaman, melainkan karena besarnya beban amanah yang beliau pikul.

Sikap itu justru mengubah hati Abu Thalib. Semula ia berharap keponakannya sedikit melunak demi keselamatan bersama. Namun setelah menyaksikan keyakinan yang begitu teguh, ia berkata bahwa Muhammad saw  boleh terus melanjutkan perjuangannya dan ia tidak akan pernah menyerahkannya kepada musuh.

Di titik inilah tampak sebuah hukum sosial yang sering luput disadari: keteguhan melahirkan keteguhan. Keberanian bukan hanya menyelamatkan diri sendiri, tetapi juga menular kepada orang lain.

Karena itulah jumlah pengikut Islam yang sedikit tidak pernah menjadi ukuran kelemahan. Mereka menyaksikan Bilal disiksa di bawah terik matahari. Mereka melihat Ammar bin Yasir mengalami penyiksaan yang tak berperikemanusiaan. Mereka kehilangan Sumayyah dan Yasir yang gugur sebagai syuhada pertama dalam Islam. Anehnya, semua penderitaan itu tidak menghentikan orang-orang untuk beriman. Justru semakin banyak hati yang tersentuh.

Kebenaran ternyata tidak selalu berkembang pada masa yang nyaman. Ia justru menemukan kekuatannya ketika para pembawanya bersedia membayar harga yang mahal.

Al-Qur’an kemudian menggambarkan karakter umat yang dibentuk oleh Nabi saw:

مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ

“Muhammad adalah utusan Allah, dan orang-orang yang bersamanya bersikap tegas terhadap orang-orang kafir, tetapi penuh kasih sayang di antara sesama mereka” (QS. Al-Fath: 29)

Baca Juga  Ketika Taqwa Mengalahkan Kecerdikan

Ketegasan yang dimaksud bukanlah sikap kasar tanpa kendali. Ia lebih dekat pada makna kokoh, tidak mudah lapuk, tidak mudah dibeli, dan tidak mudah diintimidasi. Seperti logam yang tidak berkarat meski diterpa zaman, seorang mukmin dituntut memiliki karakter yang tidak larut oleh tekanan.

Ketegasan itu dapat tampil dalam banyak bentuk. Kadang hadir di medan perang, kadang muncul di meja perundingan, kadang tampak dalam kesabaran menghadapi fitnah. Yang berubah hanyalah cara, bukan prinsip.

Sebaliknya, ketika berhadapan dengan sesama, Al-Qur’an justru memerintahkan kelembutan. Komunitas yang kuat bukan dibangun oleh hubungan yang keras di dalam dan lunak di luar, melainkan sebaliknya: kokoh menghadapi tekanan dari luar, tetapi penuh kasih terhadap saudara sendiri.

Pelajaran terbesar tentang keteguhan itu tampak dalam peristiwa pemboikotan di Syi’b Abu Thalib lembah Abu Thalib. Selama hampir tiga tahun, kaum Muslim hidup dalam lembah yang gersang. Jalur perdagangan ditutup. Makanan dihalangi masuk. Anak-anak menangis kelaparan sepanjang malam. Tangisan mereka bahkan terdengar hingga ke kota Mekah.

Namun tidak ada seorang pun yang menjual keyakinannya demi sepotong roti.

Ketika kemudian Imam Ali a.s berpesan kepada putranya, Muhammad bin Hanafiyah, “Gunung-gunung boleh bergeser dari tempatnya, tetapi jangan engkau bergeser dari pendirianmu”  nasihat itu sesungguhnya merupakan gema dari pendidikan Rasulullah sendiri. Keteguhan bukanlah sikap keras kepala, melainkan kemampuan tetap berdiri ketika seluruh keadaan mengajak untuk menyerah.

Dalam konteks yang lebih luas, kisah-kisah ini bukan sekadar catatan sejarah yang diperingati setiap datangnya bulan Rabiul Awal. Seluruh perjalanan dua puluh tiga tahun kenabian adalah laboratorium kehidupan. Setiap peristiwa mengandung pelajaran tentang kepemimpinan, kesabaran, strategi, dan keberanian moral.

Baca Juga  Persatuan Umat Islam: Ketika Persamaan Mengalahkan Perbedaan

Kebenaran, betapapun luhur, tidak akan bergerak hanya karena ia benar. Ia memerlukan manusia yang memiliki kejernihan melihat tujuan sekaligus kesabaran menempuh jalannya. Imam Ali a.s pernah mengingatkan, “Bendera ini tidak akan dipikul kecuali oleh orang-orang yang memiliki bashirah dan kesabaran.” Bashirah membuat seseorang memahami arah perjuangan, sedangkan kesabaran membuatnya tetap berjalan meski jalan itu panjang.

Sejarah akhirnya membuktikan bahwa kemenangan Islam bukan dimulai dari jumlah yang besar, melainkan dari hati yang teguh. Sebuah komunitas kecil yang menolak tunduk kepada rasa takut perlahan berubah menjadi peradaban yang memengaruhi dunia.

Barangkali di situlah pelajaran paling penting dari peristiwa bi’tsah pengutusan Rasul. Bahwa perubahan besar tidak lahir dari kompromi terhadap prinsip, melainkan dari orang-orang yang tetap setia pada kebenaran ketika tidak ada jaminan kemenangan. Sebab, selama keberanian masih hidup di dalam hati manusia, harapan selalu menemukan jalannya.

Bagikan:
Terkait
Komentar