KHAMENEI.ID– Ada bahaya yang datang dengan suara keras. Ia mudah dikenali karena gaduh, mengancam, dan memaksa orang bersiap. Namun ada pula bahaya yang justru hadir dalam senyap. Ia datang lewat senyum, pujian, kenyamanan, bahkan rasa aman yang berlebihan. Bahaya jenis kedua inilah yang sering luput disadari. Ketika orang merasa tidak ada lagi ancaman, justru pada saat itulah ancaman sedang bekerja paling efektif.
Imam Ali bin Abi Thalib a.s pernah mengingatkan bahwa kewaspadaan adalah salah satu syarat utama menjaga kebenaran. Bukan kewaspadaan yang lahir dari ketakutan, melainkan kesadaran bahwa kehidupan selalu menghadirkan tantangan yang tidak pernah benar-benar berhenti.
Dalam salah satu khutbahnya di Nahjul Balaghah, beliau berkata:
وَاللهِ لَا أَكُونُ كَالضَّبُعِ تَنَامُ عَلَى طُولِ اللَّدْمِ
“Demi Allah, aku tidak akan seperti dubuk yang tertidur karena alunan pukulan lembut hingga pemburunya datang lalu menangkapnya”
Perumpamaan itu sederhana, tetapi sangat dalam. Dalam tradisi Arab, dubuk digambarkan sebagai hewan yang dapat dibuat lengah melalui irama tertentu sampai akhirnya tertidur dan mudah ditangkap. Imam Ali a.s memakai gambaran itu untuk menjelaskan satu kelemahan manusia: terlena oleh rasa aman yang semu.
Di titik inilah persoalan sesungguhnya muncul. Tidak semua kekalahan berawal dari kelemahan. Banyak di antaranya justru dimulai dari kelengahan. Ketika seseorang berhenti memperhatikan keadaan sekelilingnya, ia sedang membuka pintu bagi berbagai bentuk ancaman yang sebelumnya dapat dihindari.
Imam Ali a.s melanjutkan peringatannya dengan kalimat yang tidak kalah tajam:
وَمَنْ نَامَ لَمْ يُنَمْ عَنْهُ
“Siapa yang tertidur, bukan berarti musuhnya ikut tertidur”
Kalimat pendek itu terasa relevan sepanjang zaman. Dunia tidak pernah berhenti bergerak hanya karena kita memilih merasa nyaman. Persaingan tidak berhenti karena kita ingin beristirahat. Ancaman tidak menghilang hanya karena kita menolak melihatnya.
Dalam kehidupan modern, “musuh” tidak selalu berbentuk pasukan yang datang membawa senjata. Ia bisa berupa arus informasi yang menyesatkan, budaya yang perlahan mengikis nilai, kepentingan ekonomi yang membentuk ketergantungan, atau propaganda yang membuat seseorang kehilangan kemampuan membedakan kebenaran dan kepalsuan.
Yang paling berbahaya bukanlah ketika ancaman itu muncul. Yang paling berbahaya adalah ketika ancaman berhasil membuat korbannya percaya bahwa tidak ada lagi yang perlu dikhawatirkan.
Karena itu Islam mengajarkan kewaspadaan sebagai bagian dari kecerdasan, bukan sebagai bentuk paranoia. Seorang mukmin tidak hidup dalam ketakutan, tetapi juga tidak membiarkan dirinya tertidur oleh bujuk rayu keadaan.
Gagasan ini kemudian menyentuh persoalan yang lebih luas, yakni cara memandang dunia. Orang yang berpikir sempit biasanya hanya melihat apa yang ada di depan matanya. Ia menganggap persoalan selesai ketika keadaan di sekitarnya tampak tenang. Padahal, banyak perubahan besar justru berawal jauh dari tempat kita berdiri.
Pandangan seperti inilah yang tampak pada banyak pemimpin besar dalam sejarah Islam. Mereka tidak menunggu ancaman tiba di depan pintu. Mereka berusaha mengenalinya sejak masih berada di kejauhan. Mereka memahami bahwa setiap peristiwa besar di suatu kawasan akan selalu membawa dampak ke kawasan lain. Sebuah konflik, krisis ekonomi, perang informasi, atau perubahan geopolitik tidak pernah benar-benar berhenti pada batas negara.
Kemampuan membaca hubungan antarperistiwa itulah yang membedakan kewaspadaan dari kepanikan. Orang yang panik bereaksi setelah masalah terjadi. Orang yang waspada justru bertindak sebelum masalah berkembang menjadi bencana.
Namun jika ditarik lebih jauh, pesan Imam Ali a.s sebenarnya tidak hanya berbicara tentang hubungan antarbangsa atau strategi menghadapi lawan. Ia juga berbicara tentang musuh yang paling dekat: kelengahan diri sendiri.
Betapa banyak orang kehilangan integritas bukan karena dipaksa, tetapi karena perlahan terbiasa dengan kompromi kecil. Betapa banyak keluarga retak bukan karena satu peristiwa besar, melainkan karena mengabaikan tanda-tanda kecil yang terus berulang. Betapa banyak masyarakat kehilangan daya kritis karena terlalu lama menikmati kenyamanan hingga lupa mempertanyakan arah yang sedang ditempuh.
Musuh sering kali tidak memenangkan pertarungan dengan kekuatan. Ia menang karena korbannya berhenti berjaga.
Karena itu mengenali musuh tidak cukup. Yang tak kalah penting adalah memahami cara kerjanya. Kadang ia menyerang melalui tekanan. Kadang melalui rayuan. Kadang melalui rasa takut. Namun tidak jarang ia datang melalui pujian yang membuat seseorang kehilangan kewaspadaan.
Sejarah menunjukkan bahwa banyak peradaban runtuh bukan ketika menghadapi serangan terbesar, melainkan ketika para penghuninya mulai merasa bahwa kejayaan mereka tidak mungkin berakhir. Rasa aman berubah menjadi kesombongan. Kesombongan berubah menjadi kelengahan. Dan kelengahan menjadi pintu masuk bagi kehancuran.
Imam Ali a.s mengingatkan bahwa seorang yang menjaga kebenaran tidak boleh hidup dalam tidur panjang. Ia harus memiliki mata yang terbuka, akal yang jernih, dan hati yang tidak mudah diperdaya oleh penampilan luar.
Kewaspadaan, pada akhirnya, bukanlah sikap curiga kepada semua orang. Ia adalah kemampuan menjaga kesadaran agar tidak dipadamkan oleh kenyamanan. Sebab musuh yang paling berbahaya bukan selalu yang berdiri di hadapan kita, melainkan yang berhasil membuat kita percaya bahwa kita sudah tidak perlu lagi berjaga.
Mungkin itulah makna terdalam dari pesan Imam Ali a.s. Dunia boleh berubah, wajah ancaman boleh berganti, tetapi satu hal tetap sama: jangan pernah tertidur oleh nina bobo musuh.







