Berbeda Pendapat Bukan Musuh: Imam Khamenei Menjelaskan Batas Kritik dan Permusuhan dalam Islam

KHAMENEI.ID – Di tengah masyarakat modern, perbedaan pendapat sering kali berubah menjadi permusuhan. Orang yang berpikir berbeda mudah diberi label lawan, sementara kritik kerap dianggap ancaman. Akibatnya, ruang dialog menyempit dan polarisasi semakin mengeras. Padahal, dalam tradisi Islam, tidak semua perbedaan harus berujung pada konflik.

Dalam salah satu ceramahnya, Imam Ali Khamenei qs mengajukan sebuah pembedaan yang penting: Islam tidak memusuhi orang hanya karena berbeda cara berpikir. Yang menjadi persoalan adalah ketika perbedaan itu berubah menjadi tindakan yang membantu atau memperkuat pihak yang memusuhi umat dan merusak kepentingan masyarakat.

Imam Khamenei mengingatkan bahwa pada masa-masa awal Revolusi Islam, muncul kelompok yang menyebut diri sebagai digerandish atau “kaum berpikiran berbeda”. Sebutan itu dimaksudkan untuk menempatkan diri sebagai kelompok intelektual yang berbeda dari arus utama.

Namun, menurut beliau, perbedaan pemikiran pada dirinya sendiri bukanlah masalah.

Beliau bahkan pernah menyampaikan secara terbuka bahwa jika seseorang memiliki pandangan yang berbeda, hal itu bukan alasan untuk dimusuhi. Setiap orang berhak memiliki cara berpikir dan sudut pandangnya sendiri. Yang menjadi persoalan bukanlah perbedaan gagasan, melainkan ketika perbedaan itu berkembang menjadi permusuhan terhadap masyarakat, negara, atau nilai-nilai yang menjadi fondasi kehidupan bersama.

Dengan kata lain, Imam Ali Khamenei qs membedakan secara tegas antara ikhtilaf al-fikr (perbedaan pemikiran) dan ‘adawah (permusuhan).

Dalam pandangan beliau, Islam memberi ruang bagi perbedaan, diskusi, bahkan kritik. Akan tetapi, Islam juga mengajarkan kewaspadaan terhadap pihak-pihak yang secara nyata memusuhi agama, masyarakat, atau berupaya melemahkan umat.

Karena itu, menurut Imam Khamenei, Al-Qur’an tidak menjadikan perbedaan pendapat sebagai pusat pembahasannya. Yang berulang kali ditekankan adalah bagaimana umat bersikap terhadap musuh yang nyata.

Baca Juga  Ikhtiar dan Doa: Mengapa Perubahan Tidak Pernah Datang dengan Sendirinya

Beliau kemudian mengutip firman Allah Swt.:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا عَدُوِّي وَعَدُوَّكُمْ أَوْلِيَاءَ تُلْقُونَ إِلَيْهِمْ بِالْمَوَدَّةِ

“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu menjadikan musuh-Ku dan musuhmu sebagai teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka rasa kasih sayang.”

(QS. Al-Mumtahanah [60]: 1).

Ayat tersebut, menurut pemikiran Imam Khamenei, menunjukkan bahwa ukuran utama bukanlah apakah seseorang berbeda pendapat, melainkan apakah ia berpihak kepada pihak yang memusuhi Allah dan masyarakat beriman.

Beliau juga mengingatkan ayat lain yang berbicara tentang pentingnya membangun kekuatan.

Allah Swt. berfirman:

وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ وَمِنْ رِبَاطِ الْخَيْلِ تُرْهِبُونَ بِه عَدُوَّ اللَّهِ وَعَدُوَّكُمْ

“Dan persiapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang, yang dengan persiapan itu kamu menggentarkan musuh Allah, musuhmu.”

(QS. Al-Anfal [8]: 60).

Imam Khamenei menafsirkan bahwa tujuan membangun kekuatan—baik kekuatan pertahanan, ilmu pengetahuan, ekonomi, maupun teknologi—bukan untuk menciptakan permusuhan baru, melainkan sebagai daya tangkal agar pihak yang berniat jahat tidak berani melakukan agresi.

 

Dengan demikian, konsep kekuatan dalam Islam bukanlah ekspresi kebencian, melainkan instrumen menjaga keamanan dan martabat umat.

Pandangan ini menghadirkan keseimbangan yang menarik. Di satu sisi, masyarakat tidak boleh alergi terhadap kritik atau keberagaman gagasan. Perbedaan adalah bagian dari dinamika intelektual yang sehat. Namun di sisi lain, masyarakat juga tidak boleh kehilangan kemampuan membedakan antara kritik yang membangun dengan tindakan yang secara sadar memperkuat pihak yang memusuhi kepentingan bersama.

Dalam konteks dunia digital hari ini, pesan tersebut menjadi semakin relevan. Ruang media sosial memungkinkan siapa pun menyampaikan pendapat, tetapi juga membuka peluang lahirnya perang informasi, manipulasi opini, dan polarisasi yang sering kali mengaburkan batas antara kebebasan berekspresi dan upaya merusak keutuhan masyarakat.

Baca Juga  Keberanian Imam Ali: Tetap Menegakkan Kebenaran Meski Sendirian

Imam Ali Khamenei qs mengajak umat untuk bersikap dewasa. Perbedaan tidak perlu ditakuti, karena ia dapat menjadi sumber lahirnya gagasan-gagasan baru. Akan tetapi, umat juga dituntut memiliki kejelasan sikap ketika menghadapi permusuhan yang nyata terhadap agama, bangsa, dan nilai-nilai yang diyakininya.

Pada akhirnya, kekuatan sebuah masyarakat tidak diukur dari kemampuannya membungkam semua suara yang berbeda. Sebaliknya, masyarakat yang kuat adalah masyarakat yang mampu menjaga ruang dialog tanpa kehilangan kewaspadaan terhadap ancaman yang benar-benar membahayakan. Di situlah, menurut pemikiran Imam Khamenei, letak keseimbangan antara kebebasan berpikir dan tanggung jawab menjaga kepentingan bersama.

Bagikan:
Terkait
Komentar