KHAMENEI.ID– Ada ironi yang semakin sulit diabaikan dalam kehidupan modern. Di satu sisi, dunia mengaku menjunjung tinggi hak asasi manusia. Di sisi lain, ketika korban berjatuhan di tempat-tempat tertentu, nurani global seolah kehilangan daya dengarnya. Nyawa manusia tiba-tiba memiliki harga yang berbeda, tergantung di mana ia lahir, siapa yang membunuhnya, dan kepentingan siapa yang sedang dipertaruhkan.
Kita hidup di zaman ketika sebuah tragedi dapat disaksikan secara langsung melalui layar ponsel, tetapi justru menjadi semakin mudah dilupakan. Anak-anak yang kehilangan orang tua, keluarga yang tertimbun reruntuhan, rumah-rumah yang berubah menjadi debu, semuanya berlalu di antara arus berita yang terus berganti. Yang lebih menyakitkan, bukan hanya karena kekerasan itu terjadi, melainkan karena sering kali ada pihak-pihak yang secara terbuka membenarkan, bahkan mendukungnya, selama kekerasan tersebut menguntungkan kepentingan politik dan kekuasaan mereka.
Di sinilah pertanyaan paling mendasar muncul: ketika kebenaran dipelintir dan penderitaan dianggap biasa, apa yang harus dilakukan oleh mereka yang memiliki kemampuan berbicara dan memengaruhi hati manusia?
Pertanyaan itu sesungguhnya bukan hanya untuk jurnalis, akademisi, atau aktivis. Ia juga ditujukan kepada para penyair, sastrawan, dan siapa pun yang dianugerahi kemampuan merangkai kata. Sebab kata-kata bukan sekadar rangkaian bunyi. Kata adalah kekuatan yang dapat membangunkan hati yang tertidur atau, sebaliknya, membiarkan kebisuan menjadi teman bagi kezaliman.
Rasulullah saw pernah mengingatkan:
إِنَّ مِنَ الشِّعْرِ لَحِكْمَةً وَإِنَّ مِنَ الْبَيَانِ لَسِحْرًا
“Sesungguhnya sebagian syair mengandung hikmah, dan sebagian kemampuan berbicara memiliki daya yang memikat laksana sihir”
Hadis ini tidak sedang memuji keindahan bahasa semata. Ia menegaskan bahwa kata-kata memiliki daya menggerakkan kesadaran. Sebuah puisi mampu mengabadikan penderitaan, membangkitkan keberanian, bahkan mengubah cara manusia memandang sebuah kenyataan. Karena itu, bakat menulis dan berbicara bukan sekadar karunia estetika. Ia adalah amanah moral.
Dalam konteks yang lebih luas, Al-Qur’an juga memberikan arah yang jelas bagi mereka yang memiliki kemampuan tersebut.
وَلَمَنِ انتَصَرَ بَعْدَ ظُلْمِهِ فَأُولَٰئِكَ مَا عَلَيْهِمْ مِن سَبِيلٍ
“Barang siapa membela diri setelah dizalimi, maka tidak ada alasan untuk menyalahkannya” (QS. Asy-Syura: 41)
Ayat ini mengandung pesan yang melampaui pembelaan fisik. Membela mereka yang tertindas juga dapat dilakukan melalui suara, tulisan, dan karya. Ketika kebohongan disebarkan secara sistematis, mengatakan kebenaran bukan lagi sekadar pilihan, melainkan bentuk keberpihakan terhadap keadilan.
Gagasan ini kemudian dipertegas dalam penutup Surah Asy-Syu’ara yang berbicara khusus mengenai para penyair:
إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَذَكَرُوا اللَّهَ كَثِيرًا وَانْتَصَرُوا مِنْ بَعْدِ مَا ظُلِمُوا ۗ وَسَيَعْلَمُ الَّذِينَ ظَلَمُوا أَيَّ مُنْقَلَبٍ يَنْقَلِبُونَ
“Kecuali para penyair yang beriman, beramal saleh, banyak mengingat Allah, dan bangkit membela setelah mereka dizalimi. Kelak orang-orang yang berbuat zalim akan mengetahui ke mana tempat kembali mereka” (QS. Asy-Syu’ara: 227)
Menariknya, Al-Qur’an tidak meminta penyair menjadi penghibur kekuasaan atau sekadar pencipta keindahan. Yang dipuji justru mereka yang menjadikan karya sebagai bagian dari perjuangan menegakkan kebenaran. Puisi, sastra, dan seluruh bentuk ekspresi menjadi bernilai ketika berdiri di sisi manusia yang diperlakukan tidak adil.
Di titik ini, persoalannya bukan lagi soal kemampuan menulis indah. Persoalannya adalah keberanian. Sebab sejarah menunjukkan bahwa kebohongan sering kali tidak menang karena ia lebih kuat, melainkan karena terlalu banyak orang baik memilih diam.
Diam memang terasa aman. Ia tidak mengundang risiko, tidak memancing perdebatan, dan tidak membuat seseorang kehilangan kenyamanan. Namun, diam yang berkepanjangan juga dapat berubah menjadi ruang tempat kezaliman tumbuh tanpa perlawanan.
Itulah sebabnya setiap anugerah selalu membawa tanggung jawab. Kemampuan berbicara, menulis, atau menciptakan karya bukan sekadar kelebihan pribadi yang boleh dinikmati sendiri. Dalam pandangan Islam, setiap nikmat adalah amanah yang suatu saat akan dimintai pertanggungjawaban. Semakin besar pengaruh seseorang, semakin besar pula tanggung jawab moral yang menyertainya.
Tentu, membela kaum tertindas tidak selalu berarti berteriak lantang atau menulis dengan kemarahan. Kadang, ia hadir melalui sebuah puisi yang menyentuh hati, sebuah artikel yang jujur, sebuah novel yang menghidupkan empati, atau sebuah kalimat sederhana yang mengingatkan manusia bahwa setiap korban memiliki nama, keluarga, dan mimpi yang tidak sempat diwujudkan.
Pada akhirnya, dunia mungkin akan terus dipenuhi pertarungan antara kepentingan dan nurani. Akan selalu ada kekuatan yang mencoba mengubah kebohongan menjadi kebenaran, dan kezaliman menjadi sesuatu yang tampak wajar. Namun selama masih ada orang-orang yang bersedia menggunakan kata-kata untuk menyingkap fakta, harapan belum benar-benar padam.
Barangkali itulah makna terdalam dari menjadi seorang penyair, penulis, atau siapa pun yang memiliki kemampuan menyampaikan gagasan. Bukan sekadar menciptakan kalimat yang indah, tetapi menghadirkan cahaya di tengah kabut propaganda. Sebab ketika suara-suara kebenaran mulai menghilang, yang paling diuntungkan bukanlah mereka yang benar, melainkan mereka yang paling kuat memonopoli cerita.
Dan sejarah, hampir selalu, dikenang bukan hanya oleh mereka yang memegang senjata, melainkan juga oleh mereka yang berani menjaga kebenaran melalui kata-kata.







