Ketika Kekuasaan Berebut Dunia: Perang, Kepentingan, dan Bangkai Kekuasaan

KHAMENEI.ID– Tidak semua perang lahir dari perbedaan keyakinan. Sebagian justru bermula dari sesuatu yang jauh lebih sederhana: kerakusan. Ketika kepentingan ekonomi, pengaruh politik, dan ambisi kekuasaan menjadi panglima, sahabat bisa berubah menjadi musuh hanya dalam semalam. Dunia pernah menyaksikan pemandangan itu dengan sangat jelas saat krisis Teluk meledak setelah Irak menginvasi Kuwait pada 1990. Yang berubah bukan hanya peta politik Timur Tengah, melainkan juga wajah para pemainnya.

Sehari sebelumnya, Saddam Hussein masih diperlakukan sebagai sekutu yang berguna oleh banyak negara Barat. Ia dipandang sebagai benteng yang dapat menghambat laju Revolusi Islam Iran. Dukungan politik, bantuan militer, bahkan pembelaan di berbagai forum internasional mengalir deras. Banyak media internasional ikut membangun citra bahwa Saddam adalah mitra yang layak dipertahankan.

Namun sejarah politik memiliki ingatan yang pendek ketika kepentingan berubah.

Begitu tank-tank Irak memasuki Kuwait, narasi itu runtuh seketika. Tokoh yang sebelumnya dipelihara mendadak berubah menjadi simbol kejahatan dunia. Media yang dulu cenderung membungkam kekejamannya kini berlomba mengungkap fakta-fakta yang selama ini seolah tak terlihat. Dunia baru ramai membicarakan pembantaian dengan senjata kimia di Halabja. Dunia baru mengingat bahwa Irak adalah pihak yang memulai perang melawan Iran. Dunia baru menyadari bahwa rezim Saddam membangun kekuasaan melalui penindasan terhadap rakyatnya sendiri.

Pertanyaannya sederhana: apakah semua fakta itu benar-benar baru diketahui?

Sulit dipercaya bahwa berbagai pemerintahan besar, lembaga intelijen, dan media internasional baru memahami karakter Saddam setelah invasi Kuwait. Yang berubah sesungguhnya bukanlah fakta, melainkan kepentingan. Selama kepentingan mereka aman, berbagai pelanggaran dapat diabaikan. Ketika kepentingan itu mulai terancam, dosa-dosa lama kembali dibuka dan dijadikan alasan moral untuk bertindak.

Baca Juga  Zuhud: Syarat Tuhan untuk Mengangkat Derajat Manusia

Di titik inilah politik internasional sering kehilangan wajah etikanya. Moralitas berubah menjadi alat yang dipakai secara selektif. Keadilan tidak lagi berdiri di atas prinsip, melainkan mengikuti arah keuntungan.

Ironisnya, perubahan itu juga terjadi di pihak Saddam sendiri. Penguasa yang selama bertahun-tahun memusuhi gerakan-gerakan Islam tiba-tiba tampil sebagai pembela umat. Dalam berbagai pidatonya, ia mengajak bangsa-bangsa Muslim bersatu, menyerukan penyelamatan Islam, bahkan menuduh para pemimpin Arab sebagai kaki tangan Amerika.

Retorika itu terdengar dramatis, tetapi sulit menghapus rekam jejak yang telah berlangsung bertahun-tahun. Seorang penguasa tidak berubah menjadi pejuang Islam hanya karena situasi politik memaksanya mencari dukungan baru. Demikian pula, negara-negara yang sebelumnya menjadi sekutu dekatnya tidak otomatis berubah menjadi pembela hak asasi manusia hanya karena kepentingan ekonominya terganggu.

Semua perubahan itu memperlihatkan betapa cepatnya identitas politik berganti ketika kepentingan menjadi ukuran utama. Musuh hari ini bisa menjadi teman besok. Sebaliknya, sahabat kemarin dapat berubah menjadi ancaman terbesar.

Dalam konteks yang lebih luas, fenomena semacam ini bukan hanya terjadi pada Perang Teluk. Sejarah dunia dipenuhi aliansi yang dibangun bukan atas dasar nilai, melainkan manfaat. Ketika manfaat itu habis, persahabatan pun ikut berakhir. Yang tersisa hanyalah saling membuka aib dan menyusun narasi baru demi memperoleh simpati publik.

Karena itu, memahami konflik internasional tidak selalu memerlukan teori geopolitik yang rumit. Sering kali, cukup melihat siapa yang memperoleh keuntungan dan siapa yang kehilangan kepentingan. Di balik slogan demokrasi, keamanan, pembebasan, atau perlindungan hak asasi manusia, kerap tersembunyi pertarungan yang jauh lebih tua: perebutan pengaruh, sumber daya, dan dominasi.

Tradisi Islam telah lama mengingatkan tentang bahaya kerakusan semacam ini. Rasulullah saw menggambarkan suatu masa ketika manusia saling berebut dunia seperti binatang buas yang memperebutkan bangkai. Gambaran itu terasa sangat hidup ketika menyaksikan pertarungan para penguasa besar yang menjadikan bangsa-bangsa kecil sebagai arena perebutan kepentingan.

Baca Juga  Kekuasaan sebagai Hak dan Amanah: Pelajaran Kepemimpinan dari Imam Ali

Bangkai itu bukan sekadar minyak, wilayah, atau jalur perdagangan. Bangkai itu adalah dunia ketika diposisikan sebagai tujuan akhir. Pada saat itulah kekuasaan kehilangan nurani, diplomasi kehilangan kejujuran, dan perang dipoles dengan bahasa-bahasa moral agar tampak mulia di hadapan publik.

Yang paling menderita dalam perebutan itu bukanlah para pemimpin negara. Mereka tetap berada di ruang-ruang perundingan yang aman. Korban sesungguhnya adalah rakyat biasa: keluarga yang kehilangan rumah, anak-anak yang tumbuh di tengah dentuman bom, serta generasi yang harus mewarisi luka dari keputusan para elite.

Karena itu, pelajaran terbesar dari krisis Teluk bukan sekadar tentang siapa yang benar dan siapa yang salah. Peristiwa itu menunjukkan betapa berbahayanya dunia ketika dijalankan hanya dengan logika kepentingan. Selama ambisi menguasai lebih besar daripada komitmen terhadap keadilan, pergantian kawan dan lawan akan terus berulang. Wajah para pelaku boleh berubah, tetapi pola permainannya tetap sama.

Mungkin itulah sebabnya perebutan kekuasaan sering digambarkan seperti sekawanan burung pemakan bangkai yang saling mencabik demi memperoleh bagian terbesar. Dari kejauhan, mereka tampak sedang bertarung demi kehormatan. Padahal yang diperebutkan hanyalah sisa-sisa dunia yang suatu hari juga akan ditinggalkan. Sejarah kemudian mencatat bukan siapa yang paling kuat, melainkan siapa yang mampu mempertahankan prinsip ketika kepentingan menawarkan jalan yang lebih mudah.

Bagikan:
Terkait
Komentar