KHAMENEI.ID– Ada masa ketika agama tidak sekadar menjadi urusan iman, melainkan menjadi tenaga yang menggerakkan masyarakat. Ia masuk ke ruang sejarah, mengguncang tatanan yang mapan, membuka kemungkinan baru, dan membuat manusia bertanya kembali: untuk siapa kekuasaan bekerja, kepada siapa kekayaan berpihak, dan ke mana peradaban hendak diarahkan?
Gagasan tentang bi’tsah kebangkitan yang dibawa oleh kenabian berangkat dari titik itu. Islam, dalam pengertian ini, bukan hanya seperangkat ajaran tentang ibadah. Ia adalah seruan agar manusia bangkit dari keterbelakangan, ketundukan, dan ketidakadilan.
Karena itu, persoalannya bukan sekadar apakah dunia mengenal Islam, melainkan Islam seperti apa yang dikenal dunia.
Ada perbedaan besar antara Islam sebagai agama yang hidup dan Islam sebagai label yang dipakai oleh kekuasaan. Yang pertama menghidupkan kesadaran manusia. Yang kedua bisa saja justru menjadi alat untuk membungkamnya.
Di sinilah gagasan tentang kebangkitan Islam memperoleh relevansinya. Islam dipandang memiliki daya untuk mendorong pertumbuhan masyarakat, mengembangkan kemampuan manusia, sekaligus membangun peradaban yang tidak memisahkan kemajuan material dari kehidupan spiritual. Kemajuan bukan sekadar bertambahnya gedung, senjata, pasar, dan angka pertumbuhan ekonomi. Peradaban juga diukur dari bagaimana manusia diperlakukan di dalamnya.
Pertanyaan itu menjadi semakin penting ketika dunia modern memperlihatkan paradoksnya. Teknologi berkembang dengan kecepatan luar biasa, tetapi ketimpangan tetap melebar. Negara mampu mengirim manusia ke luar angkasa, tetapi sebagian manusia lain masih berjuang mendapatkan air bersih. Informasi bergerak dalam hitungan detik, tetapi kebencian dan propaganda dapat bergerak lebih cepat.
Dalam situasi seperti itu, agama yang menawarkan kritik terhadap kesewenang-wenangan tentu memiliki daya politik. Bukan karena agama harus berubah menjadi alat perebutan kekuasaan, melainkan karena setiap gagasan yang mengajarkan manusia untuk menolak penindasan pada akhirnya akan berhadapan dengan kepentingan yang diuntungkan oleh penindasan.
Dari sinilah muncul tuduhan, konflik, bahkan upaya membentuk citra tertentu tentang Islam. Atas nama Islam pula kekerasan dapat dipertontonkan. Kelompok-kelompok bersenjata diberi simbol keagamaan, sementara perang antarnegeri muslim terus berlangsung. Agama yang seharusnya menjadi jembatan justru dipaksa tampil sebagai sumber permusuhan.
Namun ada ironi yang lebih dalam: perpecahan di dunia Islam tidak selalu lahir dari perbedaan teologis semata. Ia dapat dipelihara oleh kepentingan politik.
Sebuah negara bisa didekati, negara lain dijauhi. Satu kelompok dipuji, kelompok lain dicurigai. Identitas nasional, mazhab, etnis, bahkan perbedaan sejarah dapat diubah menjadi bahan bakar konflik. Ketika itu terjadi, pertanyaan yang seharusnya diajukan bukan hanya “siapa musuh kita?”, melainkan juga: siapa yang paling diuntungkan ketika kita terus menganggap satu sama lain sebagai musuh?
Dalam sejarah politik, perpecahan hampir selalu memiliki harga. Dan sering kali harga itu dibayar oleh masyarakat biasa.
Negara-negara yang semestinya dapat bekerja sama karena memiliki kepentingan ekonomi, geografis, dan kebudayaan yang berdekatan justru menghabiskan energi untuk saling mencurigai. Sumber daya tersedot untuk konflik. Anggaran publik berubah menjadi belanja persenjataan. Sementara itu, pihak luar dapat dengan mudah masuk melalui celah yang terbuka.
Karena itu, persatuan dunia Islam bukan semata slogan emosional. Ia dapat dibaca sebagai persoalan politik yang sangat konkret: bagaimana masyarakat muslim mengenali kepentingan bersama di tengah perbedaan yang nyata.
Persatuan tentu tidak berarti menghapus mazhab, kebudayaan, atau identitas nasional. Persatuan bukan keseragaman. Ia justru membutuhkan kemampuan hidup bersama tanpa menjadikan perbedaan sebagai alasan untuk saling menghancurkan.
Di titik ini, makna kebangkitan Islam menjadi lebih luas. Kebangkitan bukan sekadar kemampuan mendirikan negara yang memakai simbol-simbol Islam. Kebangkitan juga berarti kemampuan masyarakat muslim membangun kemandirian, mengembangkan ilmu pengetahuan, menjaga martabat manusia, dan menolak agar kepentingannya ditentukan oleh kekuatan lain.
Ada satu ayat Al-Qur’an yang sering dikutip ketika berbicara tentang persatuan:
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا
“Berpegang teguhlah kamu semuanya pada tali Allah dan janganlah kamu bercerai-berai”
(QS. Ali Imran: 103)
Ayat itu terdengar sederhana, tetapi konsekuensinya tidak sederhana. Persatuan menuntut keberanian untuk keluar dari politik identitas yang sempit. Ia meminta manusia melihat kepentingan yang lebih jauh daripada kemenangan kelompoknya sendiri.
Sebab sebuah bangsa dapat memenangkan perang dan tetap kehilangan masa depannya. Sebuah pemerintahan dapat mempertahankan kekuasaan dan sekaligus kehilangan kepercayaan rakyatnya. Bahkan sebuah umat dapat merasa sedang membela agamanya, sementara tanpa sadar sedang menghancurkan rumahnya sendiri.
Maka tantangan kebangkitan Islam hari ini bukan hanya bagaimana memperkenalkan Islam kepada dunia, tetapi juga bagaimana umat Islam memperlihatkan wajah Islam melalui kehidupan mereka sendiri. Apakah Islam menghasilkan masyarakat yang lebih adil? Apakah ia melahirkan manusia yang merdeka berpikir? Apakah ia membuat perbedaan menjadi sumber pengetahuan, bukan permusuhan?
Pertanyaan-pertanyaan itu jauh lebih penting daripada sekadar siapa yang paling keras meneriakkan nama agama.
Pada akhirnya, kekuatan sebuah agama tidak terutama tampak dari banyaknya simbol yang berkibar, melainkan dari perubahan yang terjadi pada manusia yang mengimaninya. Islam akan menjadi kekuatan peradaban ketika ia mampu menghidupkan kembali keberanian manusia untuk berpikir, bekerja, bersatu, dan menolak ketidakadilan.
Mungkin di sanalah makna kebangkitan menemukan bentuknya yang paling sederhana: bukan ketika sebuah kelompok berhasil mengalahkan kelompok lain, melainkan ketika manusia berhenti membiarkan dirinya dipecah-pecah oleh kepentingan yang bukan miliknya.
Sebab umat yang terus bertengkar tentang siapa yang paling benar akan mudah dilupakan sejarah. Tetapi umat yang mampu menemukan kepentingan bersama, menjaga perbedaan, dan berdiri dengan martabatnya sendiri mungkin masih memiliki sesuatu yang layak diperjuangkan: masa depan.






