Ilmu Tanpa Spiritualitas: Ketika Pengetahuan Menjadi Alat Penindasan

KHAMENEI.ID– Di abad yang memuja teknologi, manusia sering terpesona oleh satu hal: kemajuan. Negara yang maju dianggap negara yang menguasai ilmu pengetahuan. Universitas berlomba mengejar riset. Industri berlomba menciptakan inovasi. Masyarakat pun percaya bahwa semakin tinggi ilmu, semakin tinggi pula peradaban. Namun ada pertanyaan yang jarang diajukan: ilmu untuk apa?

Pertanyaan itu menjadi penting ketika kita melihat kenyataan dunia hari ini. Ilmu pengetahuan telah melahirkan berbagai kemudahan, tetapi pada saat yang sama juga melahirkan senjata yang lebih mematikan, sistem pengawasan yang lebih canggih, eksploitasi ekonomi yang lebih halus, bahkan industri hiburan yang kadang merendahkan martabat manusia. Ilmu berkembang pesat, tetapi tidak selalu berjalan seiring dengan kemanusiaan.

Dalam perspektif Islam, ilmu memang merupakan kebutuhan mutlak. Namun tujuan menjadi masyarakat berilmu bukanlah meniru Barat secara utuh. Yang dikehendaki adalah menjadi bangsa yang berpengetahuan tanpa kehilangan arah moral. Sebab sejarah menunjukkan bahwa ilmu yang terlepas dari nilai-nilai spiritual dapat berubah menjadi kekuatan yang berbahaya.

Kita menyaksikan bagaimana ilmu digunakan untuk perang, penjajahan, kekerasan, perdagangan narkotika, hingga berbagai bentuk dominasi terhadap bangsa lain. Pengetahuan yang seharusnya menjadi cahaya justru berubah menjadi alat penaklukan. Dalam kondisi seperti itu, persoalannya bukan terletak pada ilmunya, melainkan pada tujuan yang menggerakkan ilmu tersebut.

Islam menawarkan pandangan yang berbeda. Ilmu tidak boleh berdiri sendiri. Ia harus berjalan bersama iman, akhlak, dan kesadaran spiritual. Pengetahuan tidak hanya diukur dari seberapa banyak informasi yang dikuasai seseorang, tetapi juga dari bagaimana pengetahuan itu digunakan untuk menghadirkan keadilan, kedamaian, dan kemaslahatan.

Karena itulah tradisi Islam klasik tidak pernah memisahkan kecerdasan intelektual dari kebersihan hati. Seorang ilmuwan bukan sekadar orang yang memahami rumus atau teori, melainkan seseorang yang memiliki tanggung jawab moral terhadap ilmu yang dimilikinya. Dalam peradaban Islam masa lalu, kemajuan ilmu pengetahuan berjalan berdampingan dengan penghormatan terhadap nilai-nilai kemanusiaan.

Baca Juga  Tiga Wajah Kesabaran: Mengapa Bertahan dalam Kebaikan Lebih Sulit daripada Menahan Penderitaan? 

Sejarah mencatat bahwa ketika dunia Islam menjadi pusat ilmu pengetahuan, lahirlah berbagai penemuan besar dalam bidang kedokteran, astronomi, matematika, dan filsafat. Namun kekuatan ilmu itu tidak digunakan untuk menjajah bangsa lain atau merampas hak-hak mereka. Kemajuan dipandang sebagai sarana untuk memuliakan manusia, bukan menundukkannya.

Semangat itu tergambar dalam sebuah doa indah dari Munajat Sya’baniyah:

إِلَهِي هَبْ لِي قَلْبًا يُدْنِيهِ مِنْكَ شَوْقُهُ وَلِسَانًا يُرْفَعُ إِلَيْكَ صِدْقُهُ وَنَظَرًا يُقَرِّبُهُ مِنْكَ حَقُّهُ

“Ya Tuhanku, anugerahkan kepadaku hati yang didekatkan kepada-Mu oleh kerinduannya, lisan yang kejujurannya terangkat kepada-Mu, dan pandangan yang dengan kebenarannya semakin mendekat kepada-Mu.”

Doa ini mengandung filosofi mendalam tentang hubungan antara ilmu dan spiritualitas. Seorang Muslim tidak hanya mencari pengetahuan, tetapi juga mencari kedekatan dengan Tuhan. Ia tidak sekadar mengasah akal, melainkan juga memelihara hati. Sebab ilmu yang besar tanpa ketulusan dan kesadaran moral dapat berubah menjadi bencana.

Di sisi lain, Islam juga menegaskan bahwa ilmu merupakan sumber kekuatan. Dalam sebuah ungkapan yang dinukil dari khazanah klasik disebutkan:

العِلْمُ سُلْطَانٌ مَنْ وَجَدَهُ صَالَ بِهِ وَمَنْ لَمْ يَجِدْهُ صِيلَ عَلَيْهِ

“Ilmu adalah kekuasaan. Siapa yang memilikinya akan mampu menguasai keadaan, dan siapa yang tidak memilikinya akan dikuasai oleh orang lain.”

Kalimat singkat ini terasa semakin relevan di era modern. Negara yang tertinggal dalam ilmu pengetahuan sulit mempertahankan kemandirian. Mereka bergantung pada teknologi, ekonomi, bahkan kebijakan yang ditentukan pihak lain. Kemerdekaan politik sering kali tidak cukup jika tidak disertai kemerdekaan ilmu.

Karena itu, membangun ilmu pengetahuan bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan. Sebuah bangsa yang ingin dihormati harus menguasai sains, teknologi, dan inovasi. Tanpa itu, mereka hanya menjadi pasar bagi produk bangsa lain dan penonton dalam percaturan global.

Baca Juga  Tekanan, Ancaman, dan Taubat: Jalan Republik dalam Menghadapi Dunia

Namun di sinilah letak persoalan yang lebih mendasar. Kekuatan ilmu bisa mengangkat martabat manusia, tetapi juga bisa menjadi alat penindasan jika kehilangan arah moral. Sejarah modern memperlihatkan bagaimana negara-negara yang unggul dalam teknologi terkadang merasa berhak mengatur, menekan, bahkan mengintervensi bangsa lain. Mereka memiliki kemampuan karena menguasai ilmu, lalu menggunakan kemampuan itu untuk mempertahankan dominasi.

Fenomena tersebut menunjukkan bahwa ilmu saja tidak cukup. Dunia tidak kekurangan orang pintar. Yang sering kurang adalah kebijaksanaan dalam menggunakan kepintaran itu. Manusia telah berhasil menaklukkan jarak, tetapi belum tentu mampu menaklukkan keserakahan. Manusia telah mampu mengirim pesawat ke luar angkasa, tetapi belum tentu mampu menjaga keadilan di bumi.

Karena itu, tantangan terbesar generasi masa kini bukan sekadar mengejar kemajuan teknologi, melainkan memastikan bahwa kemajuan itu tetap berpihak pada kemanusiaan. Ilmu harus menjadi sarana membangun perdamaian, bukan peperangan. Menegakkan keadilan, bukan ketimpangan. Menguatkan martabat manusia, bukan merendahkannya.

Pada akhirnya, ukuran keberhasilan sebuah peradaban tidak hanya ditentukan oleh seberapa tinggi gedung-gedungnya atau seberapa canggih teknologinya. Ukuran yang lebih penting adalah apakah ilmu yang dimilikinya membuat manusia menjadi lebih bermartabat.

Sebab ilmu yang disertai spiritualitas akan melahirkan peradaban yang beradab. Sebaliknya, ilmu yang kehilangan jiwa hanya akan menghasilkan kekuatan tanpa arah. Dan kekuatan tanpa arah, cepat atau lambat, akan berubah menjadi ancaman bagi manusia itu sendiri.

Bagikan:
Terkait
Komentar