KHAMENEI.ID– Ada masa ketika kebohongan tidak tampil sebagai kebohongan. Ia mengenakan pakaian kebenaran, mengutip slogan-slogan yang mulia, bahkan berbicara atas nama agama, keadilan, dan kepentingan rakyat. Pada saat seperti itulah masyarakat memasuki fase paling berbahaya: bukan ketika kebenaran hilang, melainkan ketika kebenaran dan kebatilan bercampur hingga sulit dibedakan.
Sejarah menunjukkan bahwa sebuah bangsa tidak selalu runtuh karena kekurangan orang baik. Kadang justru karena orang-orang baik kehilangan kemampuan membedakan mana yang benar dan mana yang sekadar tampak benar. Ketika batas itu mengabur, fitnah tumbuh. Bukan fitnah dalam arti gosip atau tuduhan semata, melainkan kekacauan moral dan sosial yang membuat manusia kehilangan arah.
Dalam pandangan Imam Ali a.s, sumber kekacauan itu bukan sekadar adanya kebatilan. Kebatilan yang telanjang justru mudah dikenali. Yang berbahaya adalah ketika kebatilan meminjam wajah kebenaran. Beliau menggambarkannya dengan sangat tajam dalam Nahj al-Balaghah:
وَلَكِنْ يُؤْخَذُ مِنْ هَذَا ضِغْثٌ وَمِنْ هَذَا ضِغْثٌ فَيُمْزَجَانِ، فَهُنَالِكَ يَسْتَوْلِي الشَّيْطَانُ عَلَى أَوْلِيَائِهِ
“Namun sebagian diambil dari yang ini dan sebagian dari yang itu, lalu keduanya dicampurkan. Di situlah setan menguasai para pengikutnya”
Kalimat singkat ini terasa sangat relevan pada zaman sekarang. Kebohongan modern jarang berdiri sendiri. Ia selalu menyisipkan sebagian fakta agar terdengar masuk akal. Informasi dipotong, konteks dihilangkan, lalu disusun kembali sehingga tampak seperti kebenaran. Akibatnya, masyarakat bukan hanya bingung, tetapi juga saling mencurigai.
Di titik inilah fitnah memperoleh ruang hidupnya.
Imam Ali menggambarkan suasana fitnah dengan bahasa yang begitu puitis sekaligus menggetarkan. Dalam salah satu khutbahnya beliau melukiskan keadaan manusia sebelum datangnya cahaya kenabian:
فِي فِتَنٍ دَاسَتْهُمْ بِأَخْفَافِهَا، وَوَطِئَتْهُمْ بِأَظْلَافِهَا… نَوْمُهُمْ سُهُودٌ وَكُحْلُهُمْ دُمُوعٌ
“Mereka berada dalam berbagai fitnah yang menginjak-injak mereka dengan kuku-kukunya dan menghancurkan mereka dengan telapak kakinya… Tidur mereka dipenuhi kegelisahan, dan celak mata mereka adalah air mata”
Fitnah digambarkan seperti seekor binatang liar yang mengamuk tanpa kendali. Ia tidak sekadar melukai, tetapi menggilas kesadaran manusia. Orang kehilangan ketenangan. Tidur berubah menjadi kecemasan. Air mata menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Gambaran itu mungkin lahir lebih dari empat belas abad silam, tetapi nuansanya terasa akrab dengan kehidupan modern yang dipenuhi polarisasi, propaganda, dan banjir informasi.
Namun jika ditarik lebih jauh, akar persoalannya ternyata bukan semata-mata perbedaan pendapat. Perbedaan adalah sesuatu yang wajar dalam setiap masyarakat. Yang berbahaya adalah ketika perbedaan berubah menjadi pertarungan tanpa aturan.
Karena itulah Imam Ali a.s menempatkan hukum sebagai pagar utama kehidupan bersama. Selama setiap pihak bersedia kembali kepada aturan yang disepakati, perselisihan tidak akan berubah menjadi kekacauan. Hukum menjadi garis pembatas yang mencegah masyarakat terseret oleh kepentingan kelompok atau hawa nafsu politik.
Dalam sebuah ungkapan yang dikutip dari beliau disebutkan:
انْقَطَعَتْ عَنْهُ أَلْسُنُ الْمُعَانِدِينَ
“Dengan berpegang pada hukum, terputuslah alasan orang-orang yang gemar mencari-cari kesalahan”
Pesannya sederhana, tetapi sangat mendalam. Ketika proses dijalankan secara adil dan sesuai aturan, ruang bagi para provokator untuk memelintir keadaan menjadi semakin sempit. Mereka kehilangan celah untuk membangun narasi yang menyesatkan.
Namun hukum saja belum cukup apabila masyarakat tetap hidup dalam kabut informasi. Di sinilah Imam Ali a.s menawarkan satu langkah yang sangat penting: mengungkap kenyataan.
Beliau tidak membiarkan wajah fitnah tetap tersembunyi. Dalam berbagai khutbah dan suratnya, Imam Ali a.s menjelaskan secara terbuka siapa yang memicu kekacauan, bagaimana propaganda bekerja, dan mengapa sebagian tokoh menggunakan simbol-simbol agama demi kepentingan politik. Beliau tidak melakukannya untuk mempermalukan seseorang, melainkan agar masyarakat mampu melihat persoalan dengan jernih.
Keterbukaan semacam ini bukan sekadar kritik. Ia adalah upaya menyelamatkan kesadaran publik.
Sebab fitnah selalu hidup dalam ruang yang gelap. Ia berkembang ketika fakta disembunyikan, ketika informasi dipotong-potong, atau ketika masyarakat dibiarkan menebak-nebak sendiri apa yang sebenarnya sedang terjadi. Sebaliknya, cahaya informasi yang jujur membuat fitnah kehilangan kekuatannya.
Dalam konteks yang lebih luas, pelajaran ini terasa semakin penting pada era media sosial. Debu fitnah kini tidak lagi berasal dari medan perang, melainkan dari layar telepon genggam. Satu potongan video, satu kutipan tanpa konteks, atau satu unggahan yang sengaja dipelintir dapat memecah belah ribuan bahkan jutaan orang dalam hitungan jam. Banyak orang merasa sedang membela kebenaran, padahal tanpa sadar sedang menguatkan kebohongan yang dibungkus dengan sebagian fakta.
Karena itu, membuka fakta bukan berarti memperkeruh suasana. Sebaliknya, transparansi adalah jalan untuk mengembalikan kejernihan. Semakin terang sebuah persoalan dijelaskan, semakin kecil peluang fitnah berkembang.
Tentu saja, keterbukaan yang dimaksud bukanlah membongkar aib demi sensasi atau mempermalukan lawan. Yang dimaksud adalah menjelaskan duduk persoalan secara jujur, menghadirkan bukti, dan menempatkan setiap peristiwa dalam konteks yang benar. Kebenaran tidak memerlukan teriakan. Ia hanya membutuhkan keberanian untuk ditampilkan apa adanya.
Pada akhirnya, fitnah selalu lahir dari kabut yang menyelimuti pandangan manusia. Selama wajah-wajah disamarkan dan fakta disembunyikan, masyarakat akan terus salah mengenali siapa kawan dan siapa lawan. Tetapi ketika hukum ditegakkan, informasi disampaikan dengan jujur, dan masyarakat diajak melihat kenyataan secara utuh, kabut itu perlahan akan tersibak.
Mungkin itulah pesan yang paling abadi dari Imam Ali a.s: musuh terbesar sebuah masyarakat bukan sekadar kebohongan, melainkan kebohongan yang berhasil menyamar sebagai kebenaran. Dan cara paling ampuh untuk mengalahkannya bukanlah menambah kebisingan, melainkan menghadirkan cahaya yang membuat setiap orang mampu melihat dengan mata yang jernih.







