KHAMENEI.ID– Di banyak ruang kerja, di balik meja-meja rapat dan laporan kinerja, manusia sering diam-diam terjebak pada satu hal yang tampak sederhana tetapi menentukan arah seluruh hidup: kepada siapa sebenarnya ia menaruh harapan. Apakah kepada Tuhan, atau kepada penilaian manusia yang selalu berubah-ubah?
Di titik inilah sebuah pesan lama kembali terdengar relevan, meski lahir dari tradisi klasik yang jauh dari riuh zaman modern: bahwa pekerjaan, jika kehilangan orientasi ilahiah, pelan-pelan akan kehilangan jiwanya sendiri.
Pesan itu tegas, bahkan terdengar seperti peringatan yang tidak memberi ruang kompromi: “Kerjakanlah pekerjaan itu karena Allah, bukan karena manusia menyukainya.” Sebab ketika ukuran keberhasilan hanya ditentukan oleh selera publik, maka yang lahir bukan lagi ketulusan, melainkan strategi. Bukan lagi pengabdian, melainkan pencarian validasi.
Namun jika ditarik lebih jauh, persoalan ini tidak sekadar soal niat bekerja. Ia menyentuh fondasi paling dalam dari psikologi manusia: tempat ia menggantungkan harapan. Sebab harapan bukan sekadar perasaan optimistis, melainkan pusat gravitasi batin yang menentukan ke mana seseorang akan jatuh ketika dunia tidak berpihak kepadanya.
Dalam sebuah riwayat yang sering dikutip dalam literatur keagamaan klasik, Tuhan seakan berbicara dengan nada yang sangat langsung kepada manusia yang menggantungkan harapannya kepada selain-Nya:
عِزَّتِي وَجَلَالِي لَأُقَطِّعَنَّ أَمَلَ كُلِّ مُؤَمِّلٍ غَيْرِي بِالْإِيَاسِ، وَلَأَكْسُوَنَّهُ ثَوْبَ الْمَذَلَّةِ فِي النَّاسِ، وَلَأُبَعِّدَنَّهُ مِنْ فَرَجِي وَفَضْلِي
“Demi kemuliaan dan keagungan-Ku, sungguh akan Aku putus harapan setiap orang yang menggantungkan harapannya kepada selain-Ku dengan keputusasaan, akan Aku pakaikan kepadanya pakaian kehinaan di hadapan manusia, dan akan Aku jauhkan ia dari kelapangan dan karunia-Ku.”
Dalam bahasa yang lebih sederhana, riwayat ini tidak sedang mengancam, tetapi sedang mengingatkan tentang satu hukum batin yang sering dilupakan: ketika pusat harapan manusia bergeser dari Tuhan kepada selain-Nya, maka ia kehilangan sesuatu yang tidak bisa digantikan oleh apa pun ketenangan yang tidak bergantung pada pujian atau penolakan orang lain.
Di sinilah kerja, dalam perspektif spiritual, berubah makna. Ia bukan lagi sekadar aktivitas untuk mencapai hasil, melainkan ruang pengabdian yang diuji oleh niat. Seseorang bisa saja melakukan pekerjaan yang sama, duduk di meja yang sama, berbicara dengan orang yang sama, tetapi dengan arah batin yang berbeda. Dan perbedaan itu, sering kali, menentukan apakah ia akan merasa lapang atau justru hampa di tengah kesibukan.
Namun realitas tidak sesederhana idealisme. Manusia hidup di tengah masyarakat, bekerja di tengah sistem, dan berinteraksi dengan penilaian publik yang nyata. Karena itu, gagasan “bekerja untuk Tuhan” sering kali disalahpahami sebagai ajakan untuk mengabaikan manusia. Padahal bukan itu inti pesannya.
Justru di sinilah paradoksnya: ketika seseorang benar-benar bekerja karena Tuhan, ia biasanya menjadi lebih tulus kepada manusia. Sebab ia tidak lagi menjadikan manusia sebagai sumber utama pengakuan, tetapi sebagai medan pengabdian. Ia tidak lagi sibuk mengejar tepuk tangan, tetapi fokus pada kualitas kehadiran dan manfaat.
Dalam konteks yang lebih luas, ini juga menjelaskan mengapa tradisi spiritual selalu menekankan konsistensi nilai. Ketika nilai itu melemah, ketika orientasi ilahiah bergeser menjadi sekadar slogan, maka yang ikut runtuh bukan hanya motivasi pribadi, tetapi juga kualitas kolektif sebuah masyarakat. Kerja menjadi transaksional, pengabdian menjadi formalitas, dan kejujuran berubah menjadi strategi komunikasi.
Sebuah peringatan yang tidak kalah penting muncul di sini: banyak keberhasilan yang tampak di permukaan sebenarnya berdiri di atas fondasi yang tidak stabil jika ia kehilangan keikhlasan. Ia mungkin terlihat besar, tetapi rapuh dari dalam. Sebaliknya, kerja yang mungkin tampak kecil tetapi lahir dari ketulusan sering kali memiliki daya tahan yang tidak terduga.
Maka pesan yang terus berulang dalam berbagai bentuk ajaran moral dan spiritual adalah satu: jangan memindahkan pusat harapan. Sebab ketika harapan dipindahkan sepenuhnya kepada manusia, kepada sistem, atau kepada pencapaian, manusia sedang meletakkan sesuatu yang tak stabil sebagai penopang utama hidupnya sendiri.
Di tengah dunia modern yang semakin terukur oleh angka, algoritma, dan penilaian publik, gagasan ini terdengar semakin asing, tetapi justru semakin dibutuhkan. Sebab manusia modern tidak kekurangan kesempatan untuk bekerja, tetapi sering kekurangan alasan untuk tetap tenang ketika hasil tidak sesuai harapan.
Pada akhirnya, bekerja untuk Tuhan bukan berarti menjauh dari dunia, melainkan menempatkan dunia pada posisi yang tepat. Ia tetap bekerja, tetap berusaha, tetap melayani manusia, tetapi tidak membiarkan dirinya dikendalikan sepenuhnya oleh reaksi manusia.
Di situlah ketenangan pelan-pelan tumbuh: ketika pujian tidak membuat seseorang terbang terlalu tinggi, dan penolakan tidak membuatnya jatuh terlalu dalam. Sebab ia tahu, pusat dari seluruh harapannya tidak berpindah ke tangan manusia yang berubah-ubah, tetapi tetap berada pada Yang tidak pernah bergeser.
Dan mungkin, dalam dunia yang semakin bising oleh tuntutan untuk terlihat berhasil, ketenangan semacam itu adalah bentuk keberhasilan yang paling sunyi, tetapi paling kokoh.







