KHAMENEI.ID – Setiap hari seorang Muslim mengulang doa yang sama dalam Surah Al-Fatihah. Minimal tujuh belas kali ia memohon,
اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ
“Tunjukilah kami jalan yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat; bukan jalan mereka yang dimurkai dan bukan pula jalan mereka yang sesat.” (QS. Al-Fatihah: 6–7).
Doa itu begitu akrab sehingga sering kali diucapkan tanpa lagi direnungkan. Padahal, menurut penafsiran Imam Ali Khamenei, susunan ayat ini menyimpan sebuah peringatan besar. Yang diminta seorang mukmin ternyata bukan sekadar memperoleh nikmat Allah, tetapi memperoleh nikmat yang tidak berakhir dengan penyimpangan.
Mengapa Al-Qur’an mengajarkan kita berdoa seperti itu?
Imam Ali Khamenei qs menjelaskan bahwa Al-Qur’an berbicara tentang sebuah kenyataan pahit yang bisa menimpa umat mana pun. Beliau menyebutnya sebagai irtija’ atau irtidad dalam makna kembali ke belakang, mundur setelah melangkah maju, kehilangan hasil perjuangan, dan menyia-nyiakan anugerah yang telah diberikan Allah swt.
Fenomena ini, menurut beliau, bukan terutama berkaitan dengan masyarakat yang sejak awal hidup dalam kesesatan. Justru ia mengancam orang-orang yang telah memperoleh petunjuk, masyarakat yang pernah bergerak menuju Allah, bahkan bangsa yang pernah menerima karunia-Nya. Mereka telah melangkah maju, tetapi kemudian kehilangan arah sehingga seluruh capaian spiritual itu terancam lenyap.
Karena itulah Al-Qur’an berkali-kali mengingatkan orang-orang beriman agar tidak mengalami kemunduran setelah memperoleh hidayah. Firman Allah swt:
وَمَا مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ ۚ أَفَإِنْ مَاتَ أَوْ قُتِلَ انْقَلَبْتُمْ عَلَىٰ أَعْقَابِكُمْ
“Muhammad hanyalah seorang rasul. Sebelum dia telah berlalu beberapa rasul. Maka apakah jika dia wafat atau terbunuh kamu akan berbalik ke belakang?” (QS. Ali ‘Imran: 144).
Dalam ayat lain Allah swt juga memperingatkan:
“Wahai orang-orang yang beriman, jika kamu menaati orang-orang kafir, niscaya mereka akan mengembalikan kamu ke belakang, lalu kamu menjadi orang-orang yang rugi.” (QS. Ali ‘Imran: 149).
Menurut Imam Ali Khamenei, ancaman terbesar bukan hanya tidak mendapatkan hidayah, melainkan kehilangan hidayah setelah pernah merasakannya. Karena itulah seorang mukmin tidak pernah boleh merasa aman hanya karena hari ini ia berada di jalan yang benar.
Di sinilah letak makna mendalam Surah Al-Fatihah.
Setiap hari Allah swt mengajarkan kita memohon:
“Tunjukilah kami jalan yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat; bukan jalan mereka yang dimurkai dan bukan pula jalan mereka yang sesat.” (QS. Al-Fatihah: 6–7).
Menurut Imam Khamenei, susunan doa ini menunjukkan bahwa penerima nikmat Allah tidak hanya terdiri dari satu kelompok.
Ada orang-orang yang memperoleh nikmat Allah, lalu tetap istiqamah hingga akhir. Mereka menjaga nikmat itu dengan iman, syukur, dan ketaatan sehingga tidak pernah menyimpang dari jalan lurus.
Namun ada pula orang-orang yang juga pernah menerima nikmat Allah, tetapi kemudian tergelincir. Mereka kehilangan petunjuk setelah sebelumnya mendapatkannya, sehingga nikmat yang dahulu menjadi kemuliaan justru berubah menjadi sebab datangnya kemurkaan Allah.
Karena itu, ketika seorang Muslim mengucapkan “ṣirāṭallażīna an’amta ‘alaihim”, ia sesungguhnya tidak sedang meminta menjadi bagian dari semua orang yang pernah memperoleh nikmat. Ia memohon agar termasuk golongan penerima nikmat yang tetap istiqamah, yaitu mereka yang “bukan orang-orang yang dimurkai dan bukan pula orang-orang yang sesat.”
Al-Qur’an sendiri memberikan dua contoh yang sangat jelas.
Contoh pertama adalah golongan yang berhasil menjaga nikmat Allah swt. Firman-Nya:
وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَٰئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ ۚ وَحَسُنَ أُولَٰئِكَ رَفِيقًا
“Barang siapa menaati Allah dan Rasul, mereka akan bersama orang-orang yang telah Allah beri nikmat, yaitu para nabi, orang-orang yang benar, para syuhada, dan orang-orang saleh. Mereka itulah sebaik-baik teman.” (QS. An-Nisa’: 69).
Dalam penafsiran Imam Ali Khamenei, inilah makna utama dari “alladzina an’amta ‘alaihim”. Mereka adalah manusia-manusia yang menerima nikmat Allah dan mampu mempertahankannya hingga akhir.
Sebaliknya, Al-Qur’an juga menghadirkan contoh kelompok yang pernah menerima nikmat, tetapi gagal menjaganya. Allah swt berfirman kepada Bani Israil:
يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اذْكُرُوا نِعْمَتِيَ الَّتِي أَنْعَمْتُ عَلَيْكُمْ وَأَنِّي فَضَّلْتُكُمْ عَلَى الْعَالَمِينَ
“Wahai Bani Israil, ingatlah nikmat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepadamu dan bahwa Aku telah melebihkan kamu atas seluruh umat.” (QS. Al-Baqarah: 47).
Ayat ini menunjukkan bahwa Bani Israil pernah menjadi penerima anugerah Allah. Mereka pernah memperoleh kedudukan yang mulia dan berbagai karunia yang besar.
Namun sejarah kemudian memperlihatkan bahwa sebagian dari mereka tidak mampu mempertahankan nikmat tersebut. Dalam riwayat yang dikutip Imam Khamenei, kelompok “al-maghdhubi ‘alaihim” dipahami sebagai mereka yang mengalami pengalaman pahit kehilangan nikmat Allah setelah sebelumnya mendapat petunjuk. Kisah itu menjadi peringatan bahwa nikmat Ilahi tidak otomatis bertahan apabila manusia mengingkarinya.
Karena itu, menurut beliau, Surah Al-Fatihah sesungguhnya mengajarkan dua permohonan sekaligus. Pertama, memohon agar Allah memasukkan kita ke dalam golongan orang-orang yang menerima nikmat-Nya. Kedua, memohon agar nikmat itu tidak berubah menjadi kesesatan dan kemurkaan akibat kelalaian manusia sendiri.
Inilah sebabnya doa tersebut harus diulang setiap hari. Seandainya memperoleh hidayah sekali sudah cukup, tentu Allah tidak akan mengajarkan kita untuk terus-menerus mengucapkan “ihdinaṣ-ṣirāṭal mustaqīm” dalam setiap rakaat salat. Pengulangan itu menunjukkan bahwa manusia senantiasa membutuhkan bimbingan agar tetap berada di jalan yang benar.
Pada akhirnya, Surah Al-Fatihah tidak hanya mengajarkan seorang mukmin untuk mengejar karunia Allah, tetapi juga menanamkan rasa takut kehilangan karunia tersebut. Nikmat terbesar bukanlah ketika Allah memberikannya untuk pertama kali, melainkan ketika Dia menjaga nikmat itu hingga akhir kehidupan.
Karena itu, setiap kali membaca “ghairil-maghdhūbi ‘alaihim waladh-dhāllīn”, seorang Muslim sesungguhnya sedang memohon sesuatu yang sangat agung: “Ya Allah, jangan hanya jadikan aku sebagai penerima nikmat-Mu, tetapi jadikan aku termasuk orang-orang yang mampu menjaga nikmat itu hingga akhir, tanpa terjerumus ke dalam kesesatan dan tanpa menjadi orang yang Engkau murkai.”







