KHAMENEI.ID – Apa yang membuat sebuah bangsa tetap bertahan ketika dihimpit perang, sanksi ekonomi, tekanan politik, bahkan kehilangan tokoh-tokoh terbaiknya?
Sebagian akan menjawab: kekuatan militer. Sebagian lain menyebut ekonomi, teknologi, atau diplomasi. Semua itu memang penting. Namun, menurut Imam Ali Khamenei qs, ada satu fondasi yang sering luput dari perhatian, padahal justru menjadi sumber ketahanan yang paling mendasar: iman kepada Allah dan keyakinan terhadap janji-Nya.
Imam Khamenei menegaskan bahwa perlawanan (muqawamah) tidak mungkin bertahan hanya dengan perhitungan material. Ketahanan sejati lahir ketika sebuah masyarakat memiliki kepercayaan bahwa perjuangan yang dijalankan berada di jalan yang benar dan bahwa Allah tidak pernah mengingkari janji-Nya.
Landasan keyakinan itu, menurut beliau, terdapat dalam firman Allah swt:
وَلَيَنصُرَنَّ اللَّهُ مَن يَنصُرُهُ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ
“Sungguh, Allah pasti akan menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sungguh, Allah benar-benar Mahakuat lagi Mahaperkasa.”
(QS. Al-Hajj [22]: 40).
Imam Khamenei memberi perhatian khusus pada bentuk penegasan dalam ayat tersebut. Menurut beliau, Al-Qur’an tidak sekadar mengatakan bahwa pertolongan Allah mungkin datang, tetapi menegaskan dengan penuh penekanan bahwa pertolongan itu pasti diberikan kepada mereka yang menegakkan jalan-Nya.
Namun janji itu, tegas beliau, bukanlah alasan untuk berpangku tangan. Pertolongan Ilahi menuntut adanya pembenahan diri, keteguhan, dan kesungguhan dalam menjalankan tanggung jawab.
Di sinilah beliau memperkenalkan satu konsep yang menurutnya sangat menentukan perjalanan sebuah masyarakat: husnuzan kepada Allah swt.
Imam Khamenei berulang kali mengingatkan bahwa seorang mukmin tidak hanya dituntut beriman kepada Allah, tetapi juga berbaik sangka terhadap janji-Nya. Sebab, menurut beliau, cara seseorang memandang janji Ilahi akan memengaruhi cara ia menghadapi berbagai ujian kehidupan.
Sebaliknya, sikap yang terus-menerus meragukan pertolongan Allah dipandang sebagai penyakit spiritual yang berbahaya. Al-Qur’an sendiri memberikan peringatan keras kepada mereka yang berprasangka buruk terhadap Allah swt:
الظَّانِّينَ بِاللَّهِ ظَنَّ السَّوْءِ ۚ عَلَيْهِمْ دَائِرَةُ السَّوْءِ وَغَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ وَلَعَنَهُمْ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَهَنَّمَ ۖ وَسَاءَتْ مَصِيرًا
“(Yaitu) orang-orang yang berprasangka buruk kepada Allah. Mereka akan mendapat giliran kebinasaan yang buruk. Allah murka kepada mereka, melaknat mereka, dan menyediakan bagi mereka neraka Jahanam. Itulah seburuk-buruk tempat kembali.”
(QS. Al-Fath [48]: 6).
Menurut Imam Khamenei, ayat ini tidak sekadar berbicara tentang keyakinan dalam hati, tetapi juga tentang cara menghadapi tantangan hidup. Ketika seseorang meyakini bahwa perjuangan pasti sia-sia, bahwa tidak ada harapan, atau bahwa pertolongan Allah tidak akan datang, sesungguhnya ia sedang terjebak dalam prasangka buruk terhadap janji Ilahi.
Sebaliknya, husnuzan melahirkan daya tahan. Ia membuat manusia tetap melangkah meskipun jalan terasa panjang dan ujian datang silih berganti.
Dalam ceramah tersebut, Imam Khamenei kemudian menunjuk pengalaman Iran sebagai ilustrasi dari keyakinan itu. Menurut beliau, bangsa Iran telah menghadapi berbagai tekanan selama bertahun-tahun: ancaman militer, embargo ekonomi, operasi intelijen, hingga gugurnya banyak tokoh dan warga negara.
Namun, beliau menilai bahwa tekanan-tekanan itu tidak berhasil mematahkan semangat masyarakat. Yang justru terjadi, menurutnya, adalah lahirnya daya tahan yang semakin kuat karena masyarakat tetap berpegang pada keyakinan bahwa janji Allah akan terwujud.
Imam Khamenei menggambarkan kondisi itu dengan mengutip perumpamaan Al-Qur’an tentang pohon yang baik:
أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَاءِ
“Akarnya kuat dan cabangnya menjulang ke langit.”
(QS. Ibrahim [14]: 24).
Dalam Al-Qur’an, pohon yang baik melambangkan keimanan yang kokoh. Akarnya menghunjam ke dalam bumi, sementara cabangnya terus tumbuh dan memberi manfaat.
Bagi Imam Khamenei, sebuah masyarakat yang dibangun di atas keyakinan seperti itu tidak mudah roboh oleh badai. Ia mungkin mengalami ujian, kehilangan, atau kesulitan, tetapi fondasinya tetap kokoh karena tidak bergantung sepenuhnya pada faktor-faktor material.
Yang menarik, pesan Imam Khamenei tidak berhenti pada konteks satu negara. Beliau memandang prinsip tersebut sebagai pelajaran yang dapat dipetik oleh seluruh dunia Islam.
Menurutnya, kemajuan umat Islam tidak hanya bergantung pada sumber daya alam, jumlah penduduk, atau posisi geografis. Semua itu penting, tetapi tidak cukup. Yang lebih mendasar adalah membangun karakter masyarakat yang memiliki kepercayaan diri, optimisme, dan keyakinan bahwa kerja keras yang berpijak pada nilai-nilai Ilahi tidak akan sia-sia.
Dalam dunia yang dipenuhi krisis, konflik, dan ketidakpastian, pesan ini terasa relevan. Banyak masyarakat kehilangan harapan bukan karena kekurangan kemampuan, melainkan karena terlalu cepat kehilangan keyakinan.
Padahal, sejarah menunjukkan bahwa perubahan besar hampir selalu lahir dari orang-orang yang tetap berdiri ketika keadaan tampak paling sulit.
Pada akhirnya, pemikiran Imam Khamenei mengingatkan bahwa kemenangan tidak selalu dimulai di medan pertempuran atau ruang diplomasi. Ia sering kali dimulai di dalam hati: dari keyakinan bahwa Allah tidak pernah mengingkari janji-Nya.
Ketika iman melahirkan keteguhan, keteguhan melahirkan ikhtiar, dan ikhtiar terus dipelihara dengan harapan, maka sebuah masyarakat memiliki fondasi untuk terus tumbuh—laksana pohon yang akarnya menghunjam kuat ke bumi dan cabangnya menjulang ke langit.
Itulah, menurut Imam Khamenei, jalan ketahanan yang bukan hanya berlaku bagi satu bangsa, tetapi dapat menjadi inspirasi bagi kebangkitan umat Islam di mana pun berada.







