KHAMENEI.ID– Di banyak tempat, ikatan keluarga dan kekerabatan masih menjadi fondasi utama kehidupan sosial. Orang saling mengenal karena hubungan darah, saling membantu karena kedekatan nasab, dan saling menjaga karena merasa berasal dari akar yang sama. Di tengah dunia modern yang semakin individualistis, kekuatan semacam ini sering dipandang sebagai sesuatu yang langka. Namun pertanyaannya: sampai di mana ikatan keluarga itu menjadi kekuatan, dan kapan ia berubah menjadi sumber perpecahan?
Islam memberikan jawaban yang menarik. Agama ini tidak pernah menghapus hubungan keluarga atau identitas suku. Sebaliknya, Islam justru memuliakan silaturahmi dan menempatkannya sebagai salah satu kewajiban moral yang sangat penting. Akan tetapi, pada saat yang sama, Islam juga mengingatkan bahwa kebanggaan terhadap keluarga, suku, atau kelompok tidak boleh berubah menjadi fanatisme yang merendahkan orang lain.
Di sinilah letak keseimbangan ajaran Islam yang sering kali luput dari perhatian.
Hubungan kekerabatan dalam Islam bukan sekadar tradisi sosial. Ia memiliki dimensi spiritual. Karena itulah konsep silaturahmi atau ṣilah ar-raḥim mendapat penekanan yang sangat kuat. Menjaga hubungan dengan keluarga dipandang sebagai amal yang mendatangkan keberkahan, sementara memutus hubungan keluarga dianggap sebagai perbuatan tercela.
Dalam masyarakat yang masih memiliki struktur kesukuan atau kekeluargaan yang kuat, nilai ini terlihat lebih nyata. Ketika seseorang mengalami kesulitan, keluarga besar hadir membantu. Ketika ada musibah, kerabat menjadi tempat bersandar. Ketika seseorang berhasil, keberhasilan itu dirayakan bersama. Solidaritas semacam ini adalah modal sosial yang sangat berharga.
Namun sejarah manusia juga menunjukkan sisi lain dari ikatan kesukuan. Banyak konflik lahir bukan karena perbedaan prinsip, melainkan karena fanatisme kelompok. Ketika loyalitas terhadap keluarga atau suku berubah menjadi kebencian terhadap pihak lain, hubungan yang semula menjadi rahmat berubah menjadi sumber permusuhan.
Islam menolak bentuk fanatisme seperti ini.
Nabi Muhammad saw pernah menghadapi masyarakat Arab yang sangat bangga dengan garis keturunan mereka. Sebelum Islam datang, seseorang dinilai berdasarkan siapa ayahnya, dari suku mana ia berasal, dan seberapa terpandang leluhurnya. Kebanggaan semacam itu sering melahirkan diskriminasi dan peperangan antarsuku yang berlangsung turun-temurun.
Pada saat penaklukan Mekah, Nabi saw berdiri di atas mimbar dan menyampaikan pesan yang mengguncang cara pandang masyarakat saat itu:
أَلَا إِنَّكُمْ مِنْ آدَمَ وَآدَمُ مِنْ طِينٍ
“Ketahuilah, kalian semua berasal dari Adam, dan Adam diciptakan dari tanah.”
Kalimat sederhana ini sesungguhnya adalah revolusi sosial. Nabi saw sedang menghancurkan tembok-tembok kesombongan yang dibangun atas dasar keturunan. Tidak ada manusia yang lebih mulia hanya karena sukunya. Tidak ada kelompok yang lebih tinggi hanya karena leluhurnya.
Dalam pidato yang sama, Nabi saw juga menegaskan bahwa ukuran kemuliaan bukanlah asal-usul, melainkan ketakwaan dan amal perbuatan. Bahkan beliau menyatakan bahwa seluruh kebanggaan jahiliah terhadap nenek moyang harus ditinggalkan. Segala dendam lama dan permusuhan kesukuan yang diwariskan turun-temurun harus dihentikan.
Pesan ini tetap relevan hingga hari ini.
Meskipun dunia telah berubah, fanatisme kelompok tidak benar-benar hilang. Ia hanya berganti bentuk. Jika dahulu orang berkonflik karena suku, kini sebagian orang bertengkar karena organisasi, golongan, komunitas, bahkan pilihan politik. Logikanya tetap sama: kelompokku selalu benar, kelompok lain selalu salah.
Padahal Islam mengajarkan bahwa persaudaraan memiliki lingkup yang jauh lebih luas daripada hubungan darah.
Hubungan keluarga memang penting. Ikatan suku bisa menjadi kekuatan sosial. Komunitas dan kelompok juga memiliki peran yang positif. Akan tetapi semua itu tidak boleh menjadi alasan untuk menutup mata terhadap kemuliaan orang lain atau menganggap diri lebih unggul.
Nabi saw mengingatkan bahwa seluruh manusia berasal dari tanah yang sama. Kalimat itu bukan sekadar informasi tentang asal-usul penciptaan manusia. Ia adalah pelajaran tentang kerendahan hati. Tanah tidak pernah membanggakan dirinya. Tanah menjadi tempat berpijak semua makhluk tanpa membedakan siapa pun.
Karena itu, semakin seseorang memahami hakikat dirinya, semakin kecil keinginannya untuk menyombongkan identitas kelompoknya.
Dalam tradisi sastra Timur terdapat ungkapan yang indah: “Jadilah rendah hati seperti tanah.” Ungkapan ini sejalan dengan pesan kenabian. Ketika manusia mengingat bahwa asal-usulnya hanyalah segenggam tanah, maka alasan untuk merasa lebih tinggi dari orang lain menjadi hilang.
Masyarakat modern sebenarnya sangat membutuhkan pelajaran ini. Kita hidup pada zaman ketika identitas sering dipakai sebagai alat pemisah. Orang lebih mudah mencari perbedaan daripada menemukan persamaan. Padahal kekuatan sebuah masyarakat tidak terletak pada keseragaman, melainkan pada kemampuannya merawat persaudaraan di tengah perbedaan.
Islam menawarkan jalan tengah yang elegan: peliharalah keluarga, kuatkan silaturahmi, hormati tradisi kekerabatan, tetapi jangan biarkan semua itu berubah menjadi fanatisme yang memecah-belah. Cintailah keluarga tanpa membenci yang bukan keluarga. Banggalah terhadap asal-usul tanpa merendahkan orang lain.
Pada akhirnya, silaturahmi bukan hanya tentang menjaga hubungan darah. Ia adalah latihan untuk memperluas lingkaran kasih sayang. Dimulai dari keluarga, lalu meluas kepada tetangga, masyarakat, hingga seluruh umat manusia.
Sebab kita mungkin berasal dari keluarga yang berbeda, suku yang berbeda, bahkan bahasa yang berbeda. Namun seperti pesan Nabi yang terus bergema melintasi zaman, kita semua berasal dari Adam, dan Adam berasal dari tanah. Dari kesadaran itulah persaudaraan sejati menemukan maknanya.







