Ghadir Khum: Ketika Kepemimpinan Islam Diumumkan di Tengah Padang Pasir

KHAMENEI.ID – Di tengah terik padang pasir yang membakar, ribuan orang berhenti melangkah. Mereka baru saja menyelesaikan Haji Wada’, haji terakhir Nabi Muhammad saw. Sebagian telah berjalan jauh meninggalkan rombongan, sebagian lain masih tertinggal di belakang. Namun pada hari itu, di sebuah tempat bernama Ghadir Khum, sejarah Islam seakan diminta berhenti sejenak.

Menurut pemikiran Imam Ali Khamenei qs, peristiwa Ghadir bukan sekadar kenangan keagamaan yang hanya relevan bagi satu kelompok muslim. Ia adalah sebuah peristiwa besar dalam sejarah Islam yang memuat pesan kepemimpinan, tanggung jawab sosial, dan arah masa depan umat. Karena itu, memahami Ghadir berarti memahami salah satu momen paling menentukan dalam perjalanan Islam.

Dalam tradisi Ahlulbait, Idul Ghadir bahkan disebut sebagai “Idullah al-Akbar”—hari raya terbesar Allah. Namun Khamenei menegaskan bahwa nilai Ghadir tidak terbatas pada komunitas Syiah semata. Peristiwa ini merupakan bagian dari sejarah Islam yang tercatat luas dan diriwayatkan oleh banyak ulama dari berbagai mazhab.

Peristiwa yang Sulit Diabaikan Sejarah

Menurut berbagai riwayat sejarah, setelah menyelesaikan Haji Wada’, Rasulullah saw menghentikan perjalanan besar kaum muslimin di Ghadir Khum. Mereka yang telah berjalan lebih dahulu dipanggil kembali. Mereka yang tertinggal ditunggu hingga tiba. Sebuah pertemuan raksasa pun terbentuk.

Sejumlah riwayat menyebut jumlah peserta mencapai puluhan ribu orang. Ada yang menyebut 90 ribu, ada yang mengatakan 100 ribu, bahkan 120 ribu orang. Di tengah panas yang menyengat, banyak jamaah harus meletakkan pakaian mereka di atas pasir agar kaki tidak terbakar.

Dalam suasana yang luar biasa itu, Nabi Muhammad saw berdiri di hadapan umatnya dan mengangkat tangan Imam Ali bin Abi Thalib as seraya bersabda:

Baca Juga  Bangsa yang Besar Tidak Lahir dari Kenyamanan, tetapi dari Pengorbanan

«مَنْ كُنْتُ مَوْلَاهُ فَهٰذَا عَلِيٌّ مَوْلَاهُ، اللّٰهُمَّ وَالِ مَنْ وَالَاهُ وَعَادِ مَنْ عَادَاهُ»

“Barang siapa menjadikan aku sebagai pemimpinnya, maka Ali adalah pemimpinnya. Ya Allah, cintailah orang yang mencintainya dan musuhilah orang yang memusuhinya.”

Bagi Syiah, hadis ini merupakan penetapan resmi Imam Ali as sebagai penerus kepemimpinan umat. Namun Imam Khamenei mengingatkan bahwa bahkan di luar perdebatan teologis mengenai imamah, peristiwa Ghadir tetap menyimpan pelajaran yang jauh lebih luas untuk seluruh kaum muslimin.

Ghadir dan Makna Wilayah

Dalam pandangan Khamenei, inti Ghadir adalah konsep wilayah—kepemimpinan yang berlandaskan nilai ilahi, keadilan, dan tanggung jawab sosial.

Ghadir bukan sekadar pengangkatan seorang tokoh. Ia merupakan deklarasi bahwa masyarakat Islam tidak boleh berjalan tanpa arah dan tanpa kepemimpinan yang jelas. Agama tidak hanya berbicara tentang ibadah pribadi, tetapi juga tentang tata kelola kehidupan bersama.

Di sinilah relevansi Ghadir terasa hingga hari ini. Dunia modern sering menghadapi krisis kepemimpinan: banyak kekuasaan berdiri di atas kepentingan ekonomi, popularitas, atau dominasi kelompok tertentu. Ghadir menghadirkan paradigma berbeda: kepemimpinan harus bertumpu pada integritas moral, ilmu, keadilan, dan pengabdian kepada masyarakat.

Karena itu, menurut Khamenei, kandungan hadis Ghadir tidak berhenti pada persoalan sejarah abad ketujuh. Pesannya tetap hidup selama manusia masih mencari model kepemimpinan yang adil dan bermartabat.

Mengapa Ghadir Penting bagi Seluruh Umat Islam?

Salah satu poin penting yang ditekankan Khamenei adalah bahwa Ghadir merupakan warisan bersama umat Islam.

Peristiwa tersebut diriwayatkan dalam banyak kitab hadis dan sejarah yang diakui oleh ulama Sunni maupun Syiah. Fakta sejarah tentang terjadinya peristiwa itu hampir tidak diperselisihkan. Yang berbeda adalah cara menafsirkan makna kata mawla dan implikasinya terhadap kepemimpinan pasca wafat Nabi.

Baca Juga  Ghadir, Kepemimpinan Islam, dan Perjuangan Menegakkan Pemerintahan Ilahi

Namun terlepas dari perbedaan tafsir tersebut, ada pesan universal yang bisa dipetik bersama: Islam menolak kekosongan arah. Nabi tidak meninggalkan umat tanpa pesan mengenai masa depan mereka. Ghadir menunjukkan bahwa persoalan kepemimpinan dan persatuan umat merupakan isu yang sangat penting dalam Islam.

Bagi generasi muda muslim, Ghadir juga mengajarkan pentingnya mempelajari sejarah secara mendalam, bukan sekadar menerima narasi yang sudah jadi. Khamenei mendorong kaum muda untuk membaca karya-karya ilmiah dan argumentatif agar memahami peristiwa ini secara lebih utuh dan objektif.

Dari Ghadir Menuju Masa Depan

Di tengah dunia yang semakin terpecah oleh konflik identitas, polarisasi politik, dan perebutan kepentingan, pesan Ghadir justru terasa semakin relevan. Ia mengingatkan bahwa masyarakat yang besar memerlukan kepemimpinan yang memiliki legitimasi moral, keberanian membela kebenaran, dan komitmen terhadap keadilan.

Bagi Imam Ali Khamenei, Ghadir bukan sekadar peristiwa masa lalu yang diperingati setiap tahun. Ia adalah sebuah paradigma. Sebuah pelajaran bahwa agama tidak hanya berbicara tentang hubungan manusia dengan Tuhan, tetapi juga tentang bagaimana masyarakat dibangun dan dipimpin.

Mungkin itulah sebabnya mengapa ribuan orang rela berdiri di bawah terik matahari pada hari itu. Sebab yang sedang diumumkan bukan sekadar nama seorang pemimpin, melainkan arah sebuah peradaban.

Dan lebih dari empat belas abad kemudian, gema peristiwa itu masih terus mengundang pertanyaan yang sama: seperti apa kepemimpinan yang layak memandu umat menuju masa depan?

Bagikan:
Terkait
Komentar