KHAMENEI.ID– Ada satu bahaya yang lebih mengerikan daripada kekalahan. Bahaya itu adalah kehilangan arah.
Dalam peperangan, seorang prajurit mungkin masih bisa bertahan ketika peluru menghujani medan tempur. Ia bisa berlindung, menyusun strategi, bahkan mundur sejenak untuk menyelamatkan diri. Namun ketika ia tak lagi mampu membedakan mana kawan dan mana lawan, saat itulah bencana sesungguhnya dimulai. Pelurunya bisa berbalik menghantam teman sendiri. Semangat juangnya tetap menyala, tetapi arah tembakannya salah.
Barangkali itulah gambaran paling tepat untuk menjelaskan keadaan sebagian masyarakat beragama hari ini.
Di tengah derasnya arus informasi, propaganda digital, pertarungan opini, dan polarisasi sosial, banyak orang merasa sedang membela kebenaran. Namun tanpa pemahaman yang cukup tentang zaman, mereka justru terjebak dalam permainan yang dirancang pihak lain. Mereka sibuk berperang, tetapi tidak lagi tahu siapa musuh sebenarnya.
Dalam sebuah nasihat yang dinisbatkan kepada Imam Ja’far ash-Shadiq a.s , terdapat ungkapan yang sangat relevan untuk masa kini:
وَالْعَالِمُ بِزَمَانِهِ لَا تَهْجُمُ عَلَيْهِ اللَّوَابِسُ
“Orang yang memahami zamannya tidak akan diserbu oleh berbagai kesamaran dan kebingungan”
Kalimat ini sederhana, tetapi mengandung pelajaran besar. Sebab persoalan manusia sering kali bukan karena kurang semangat, melainkan karena kurang memahami konteks. Banyak orang memiliki niat baik, tetapi niat baik yang tidak disertai pemahaman dapat berubah menjadi sumber masalah.
Imam Ja’far a.s memulai nasihatnya dengan sebuah rantai yang menarik. Ia mengatakan bahwa orang yang tidak menggunakan akalnya tidak akan beruntung. Dan orang yang tidak memiliki pengetahuan tidak akan mampu menggunakan akalnya dengan baik. Dari sana lahir kesimpulan yang penting: kebijaksanaan tidak tumbuh dari fanatisme, melainkan dari pengetahuan dan pemahaman.
Pengetahuan, dalam pandangan beliau, bukan sekadar kumpulan informasi. Ia adalah perisai. Sebuah pelindung yang menjaga manusia dari kesalahan langkah. Sebaliknya, kebodohan adalah pintu menuju kehinaan. Ketika seseorang tidak memahami apa yang sedang terjadi di sekitarnya, ia menjadi mudah digiring, diprovokasi, dan dimanfaatkan.
Gambaran ini pernah dijelaskan dengan analogi medan perang. Di tengah pertempuran, peluru artileri datang dari berbagai arah. Mortir meledak, tembakan bersilang di udara, dan suasana menjadi kacau. Dalam kondisi seperti itu, seorang prajurit bisa kehilangan orientasi. Ia tidak lagi tahu apakah suara ledakan yang didengarnya berasal dari musuh atau justru dari pasukannya sendiri yang sedang menyerang.
Kesalahan semacam ini sangat berbahaya. Sebab ketika orientasi hilang, seseorang dapat menembak teman sendiri sambil mengira dirinya sedang menyerang musuh.
Fenomena serupa sering muncul dalam kehidupan sosial dan keagamaan. Kita melihat orang-orang yang begitu bersemangat menyerang sesama Muslim yang berbeda mazhab, berbeda organisasi, atau berbeda pilihan politik. Seluruh energinya habis untuk membongkar kesalahan kelompok lain. Padahal bisa jadi, konflik yang mereka pelihara merupakan bagian dari strategi yang lebih besar untuk memecah belah masyarakat.
Musuh tidak selalu hadir dalam bentuk yang kasat mata. Ia bisa hadir sebagai narasi yang memecah persatuan, sebagai provokasi yang menyulut kebencian, atau sebagai informasi yang sengaja dirancang agar kelompok-kelompok tertentu saling mencurigai.
Di era media sosial, situasi ini menjadi semakin rumit. Setiap hari manusia dibanjiri ribuan informasi. Sebagian benar, sebagian setengah benar, dan sebagian lagi sengaja dipelintir. Orang yang tidak memiliki kemampuan membaca konteks mudah sekali menjadi korban. Ia membagikan berita yang belum diverifikasi. Ia ikut marah terhadap isu yang belum dipahami. Ia menghakimi sebelum mengetahui duduk persoalannya.
Padahal tradisi Islam sejak awal justru menekankan pentingnya ketenangan berpikir.
Dalam nasihat yang sama disebutkan bahwa ilmu adalah perisai, kejujuran adalah kemuliaan, pemahaman adalah kehormatan, dan akhlak yang baik menjadi jalan lahirnya cinta kasih di antara manusia. Menariknya lagi, disebutkan bahwa orang berakal cenderung menutupi kekurangan orang lain, sementara orang bodoh sering kali tergesa-gesa mempermalukan sesamanya.
Pesan ini terasa sangat kontras dengan budaya digital hari ini. Kita hidup di zaman ketika kesalahan orang lain bisa menjadi tontonan publik dalam hitungan menit. Banyak orang berlomba menjadi hakim, tetapi sedikit yang bersedia menjadi penengah. Banyak yang ingin terlihat paling benar, tetapi enggan memahami mengapa orang lain berpikir berbeda.
Karena itu, memahami zaman bukan berarti mengikuti semua tren yang ada. Bukan pula berarti larut dalam perubahan tanpa prinsip. Memahami zaman berarti mengetahui bagaimana tantangan bekerja, bagaimana opini dibentuk, bagaimana konflik diciptakan, dan bagaimana manusia dapat dimanipulasi.
Orang yang memahami zamannya tidak mudah terpancing. Ia mampu melihat persoalan dari jarak yang lebih luas. Ia tidak buru-buru menyimpulkan. Ia tahu bahwa setiap konflik memiliki lapisan-lapisan yang sering kali tidak tampak di permukaan.
Nasihat Imam Ja’far a.s juga mengingatkan bahwa orang yang menerjang suatu urusan tanpa ilmu sesungguhnya sedang mencelakakan dirinya sendiri. Sebaliknya, mereka yang berhati-hati terhadap sesuatu yang belum dipahaminya akan lebih selamat dari penyesalan.
Mungkin itulah salah satu penyakit terbesar zaman modern: kita terlalu cepat bereaksi dan terlalu lambat memahami. Kita lebih suka menjadi bagian dari keramaian daripada menjadi pencari kebenaran. Akibatnya, energi umat sering habis untuk pertengkaran internal, sementara persoalan yang lebih besar luput dari perhatian.
Pada akhirnya, memahami zaman adalah bentuk ibadah intelektual. Ia menuntut kerendahan hati untuk belajar, keberanian untuk berpikir, dan kesabaran untuk tidak tergesa-gesa mengambil kesimpulan.
Sebab dalam dunia yang penuh kabut informasi, kemenangan tidak selalu dimiliki oleh mereka yang paling keras bersuara. Kemenangan sering kali berada di tangan mereka yang mampu menjaga kejernihan pandangan. Mereka yang masih bisa membedakan mana kawan dan mana lawan. Mereka yang tidak kehilangan arah ketika semua orang berlari.
Dan mungkin, di tengah hiruk-pikuk zaman ini, itulah bentuk kecerdasan yang paling langka sekaligus paling dibutuhkan.







