KHAMENEI.ID– Ada kekuasaan yang membuat manusia semakin tinggi, tetapi ada pula kekuasaan yang justru membuatnya kehilangan ukuran tentang dirinya sendiri. Di situlah politik sering berubah menjadi permainan: siapa yang paling lihai membaca kelemahan lawan, siapa yang paling pandai menyusun siasat, siapa yang mampu mempertahankan kuasa lebih lama. Dalam permainan semacam itu, moralitas mudah dianggap sebagai beban.
Namun dalam pandangan Imam Ali bin Abi Thalib a.s, politik justru tidak pernah berdiri di luar akhlak. Cara seseorang memegang kekuasaan merupakan cermin dari cara ia memperlakukan dirinya sendiri di hadapan Tuhan. Politik yang lahir dari spiritualitas, karena itu, bukan sekadar cara mengatur negara. Ia seharusnya menjadi jalan bagi manusia untuk tumbuh.
Gagasan itu terasa ganjil di tengah dunia politik yang kerap menganggap kelicikan sebagai kecerdasan. Dalam logika kekuasaan, orang yang terlalu jujur bisa dianggap naif; mereka yang enggan berkompromi dengan kebohongan sering disebut tidak realistis. Padahal, bagi Imam Ali a.s, justru di situlah ujian politik dimulai: apakah kekuasaan masih dapat dijalankan tanpa mengorbankan kebenaran?
Imam Ali a.s pernah menggambarkan betapa kecilnya nilai kekuasaan bagi dirinya. Dalam salah satu khutbahnya ia berkata,
“Demi Allah, dunia kalian ini lebih hina bagiku daripada lendir yang keluar dari bersinnya seekor kambing”
Kekuasaan, dengan segala kemegahannya, tidak lebih berharga daripada sesuatu yang nyaris tak dianggap manusia.
Kalimat itu bukan sekadar ungkapan asketisme. Ia menunjukkan hubungan yang sangat penting antara kekuasaan dan moralitas. Seseorang yang tidak mabuk oleh kekuasaan akan lebih sulit diperbudak olehnya.
Imam Ali a.s memang menerima pemerintahan. Tetapi ia tidak menerimanya karena haus pada kursi. Ia menyebut dua alasan yang jauh lebih berat: rakyat datang dan menuntutnya memimpin, serta adanya tanggung jawab moral yang tidak memungkinkan orang berilmu tinggal diam ketika ketimpangan berlangsung. Dalam Nahj al-Balaghah, ia berkata:
لَوْلَا حُضُورُ الْحَاضِرِ وَقِيَامُ الْحُجَّةِ بِوُجُودِ النَّاصِرِ
“Seandainya bukan karena kehadiran orang-orang yang menuntutku dan tegaknya hujah karena adanya para penolong”
Lalu ia menyebut tanggung jawab yang lebih mendasar:
وَمَا أَخَذَ اللَّهُ عَلَى الْعُلَمَاءِ أَلَّا يُقَارُّوا عَلَى كِظَّةِ ظَالِمٍ وَلَا سَغَبِ مَظْلُومٍ
“Allah telah mengambil janji dari orang-orang berilmu agar mereka tidak membiarkan kezaliman orang yang kenyang dan penderitaan orang yang lapar”
Di titik ini, kekuasaan memperoleh makna yang berbeda. Ia bukan hadiah bagi orang yang berhasil memenangi pertarungan politik, melainkan beban bagi mereka yang dipercaya untuk mencegah ketidakadilan.
Karena itu, politik Imam Ali a.s tidak dapat dipisahkan dari spiritualitasnya. Ia berperang, tetapi bukan karena perang itu sendiri bernilai. Ia mempertahankan pemerintahan, tetapi bukan karena singgasana mempunyai harga bagi dirinya. Ketika kekuasaan diperlukan untuk menegakkan keadilan, ia mengambilnya. Ketika kekuasaan hanya menjadi kemewahan pribadi, ia melihatnya sebagai sesuatu yang hina.
Yang paling menarik adalah sikapnya terhadap tipu daya.
Imam Ali a.s dikenal sebagai sosok yang tidak kalah cerdas dalam membaca politik. Tetapi kecerdasan itu tidak ia biarkan berubah menjadi kelicikan. Dalam sebuah ungkapan yang terkenal, ia mengatakan:
لَوْلَا التَّقْوَى لَكُنْتُ أَدْهَى الْعَرَبِ
“Seandainya bukan karena ketaqwaan, aku adalah orang yang paling lihai dalam tipu daya di antara bangsa Arab”
Kalimat itu mengandung ironi yang dalam. Ia tidak mengatakan bahwa dirinya tidak mampu menipu. Ia justru mengatakan bahwa ia mampu tetapi memilih untuk tidak melakukannya.
Di sinilah politik dan moralitas bertemu pada titik yang paling sulit: batas.
Tanpa taqwa, kata Imam Ali a.s, manusia merasa tangannya bebas. Ia dapat berkata apa saja, sekalipun dusta. Ia dapat menuduh, memutarbalikkan kenyataan, mengingkari janji, bahkan mendekat kepada pihak yang bertentangan dengan jalan kebenaran jika semua itu menguntungkan dirinya.
Politik kemudian menjadi seni mencapai tujuan dengan cara apa pun.
Tetapi politik yang berakar pada moralitas mengenal batas yang tidak boleh dilampaui, bahkan ketika pelanggaran itu mungkin menghasilkan kemenangan. Ada kemenangan yang secara politik tampak gemilang, tetapi secara moral merupakan kekalahan.
Dalam konteks yang lebih luas, gagasan ini menyentuh persoalan yang masih hidup hingga sekarang: apa yang terjadi ketika politik dipisahkan dari moralitas?
Jawabannya tidak selalu terlihat dalam bentuk skandal besar. Ia bisa muncul secara perlahan, dalam kebohongan yang dianggap biasa, janji yang mudah dilupakan, manipulasi informasi, penghinaan terhadap lawan, atau pembenaran terhadap segala cara hanya karena tujuan akhirnya dianggap benar.
Pada tahap tertentu, masyarakat tidak lagi bertanya apakah sesuatu itu benar, melainkan apakah sesuatu itu menguntungkan.
Di situlah politik mulai menjadi penyakit bagi dirinya sendiri.
Sebab kekuasaan yang tidak dikendalikan moralitas bukan hanya merusak orang yang berada di puncaknya. Ia juga mengubah masyarakat yang berada di bawahnya. Jika kebohongan terus-menerus dipertontonkan sebagai kecerdikan, masyarakat belajar bahwa kejujuran adalah kelemahan. Jika pengkhianatan disebut strategi, kesetiaan perlahan kehilangan harga. Jika ketidakadilan dibenarkan atas nama kepentingan, manusia akhirnya terbiasa hidup tanpa rasa bersalah.
Gagasan Imam Ali a.s terasa tajam justru karena ia tidak menawarkan politik yang steril dari konflik. Pemerintahannya sendiri mengalami tiga perang besar dan menelan banyak korban. Tetapi dari tengah pergolakan itu ia meninggalkan sebuah ukuran: perjuangan politik tidak boleh membuat manusia kehilangan manusiawinya.
Mungkin karena itu, warisan politik Imam Ali a.s bukan terutama tentang bagaimana memenangkan kekuasaan. Ia lebih dalam dari itu: bagaimana seseorang tetap menjadi manusia ketika kekuasaan berada di tangannya.
Sebab politik pada akhirnya bukan hanya soal siapa yang memerintah. Ia adalah pertanyaan tentang nilai apa yang kita izinkan untuk memerintah diri kita sendiri.
Ketika moralitas masih menjadi sumbernya, politik dapat menjadi jalan menuju kemaslahatan. Tetapi ketika kekuasaan menjadi tujuan, segala sesuatu mudah berubah menjadi alat, termasuk kebenaran, agama, rakyat, bahkan hati nurani.
Dan mungkin di situlah pelajaran paling sunyi dari Imam Ali a.s: kekuasaan yang paling sulit ditaklukkan bukanlah kekuasaan atas orang lain, melainkan kekuasaan atas diri sendiri.







