Jihad Tabyin Fatimah Az-Zahra: Ketika Kebenaran Harus Disuarakan

KHAMENEI.ID– Sejarah sering mengingat para pahlawan melalui medan perang. Pedang yang terhunus, kemenangan yang diraih, atau darah yang tertumpah menjadi penanda keberanian. Namun, ada jenis perjuangan lain yang jauh lebih sunyi. Tidak berlangsung di tengah dentang senjata, melainkan di ruang-ruang tempat kebenaran mulai dikaburkan. Dalam situasi seperti itulah, kata-kata dapat menjadi benteng terakhir bagi sebuah peradaban.

Itulah yang diperlihatkan Fatimah Az-Zahra a.s. Putri Rasulullah saw itu tidak hanya dikenang karena kesalehan dan kedekatannya dengan Nabi Muhammad saw, tetapi juga karena keberaniannya menjaga kebenaran melalui apa yang hari ini sering disebut sebagai jihad tabyin perjuangan menjelaskan, meluruskan, dan menyampaikan fakta ketika kebingungan mulai menguasai masyarakat.

Masa itu bukanlah masa yang tenang. Wafatnya Rasulullah saw meninggalkan duka yang mendalam sekaligus membuka babak baru yang penuh gejolak. Perubahan politik berlangsung begitu cepat. Di tengah situasi yang serba tidak menentu, orang-orang dihadapkan pada berbagai narasi yang saling bertabrakan. Ketika banyak orang memilih diam, Fatimah a.s justru memilih berbicara.

Suaranya bukan sekadar luapan emosi seorang anak yang kehilangan ayah. Ia hadir sebagai suara nurani yang mengingatkan umat agar tidak kehilangan arah. Dalam waktu yang sangat singkat setelah wafatnya Rasulullah saw, Fatimah a.s menyampaikan dua pidato yang kemudian menjadi warisan intelektual dan spiritual yang sangat berharga.

Pidato pertama dibuka dengan kalimat yang sarat makna:

اَلحَمدُ لِلَّهِ عَلى‌ ما اَنعَمَ وَ لَهُ الشُّکرُ عَلى ما اَلهَمَ

“Segala puji bagi Allah atas nikmat-nikmat yang telah Dia anugerahkan, dan segala syukur atas ilham serta petunjuk yang Dia berikan”

Kalimat pembuka ini tampak sederhana. Namun, di baliknya tersimpan sebuah pesan penting. Bahkan ketika menghadapi tekanan dan ketidakadilan, orientasi seorang mukmin tetap dimulai dari rasa syukur kepada Allah. Kritik terhadap keadaan tidak boleh menghilangkan kesadaran bahwa segala nikmat dan petunjuk berasal dari-Nya.

Baca Juga  Persatuan Dunia Islam dan Ketakutan Amerika: Pandangan Imam Ali Khamenei tentang Politik Perpecahan

Namun jika ditarik lebih jauh, pidato tersebut bukan hanya berisi ungkapan syukur. Ia menjelma menjadi uraian mendalam tentang tauhid, kenabian, tujuan syariat, keadilan sosial, dan tanggung jawab umat menjaga amanat Rasulullah saw. Para ahli sastra Arab bahkan menempatkan pidato itu sejajar dengan khotbah-khotbah terbaik dalam Nahj al-Balaghah karena kekuatan bahasanya sekaligus kedalaman pemikirannya.

Di titik inilah jihad tabyin menemukan maknanya. Menjelaskan kebenaran bukan sekadar menyampaikan informasi. Ia membutuhkan keluasan ilmu, kejernihan berpikir, keteguhan moral, dan keberanian menghadapi risiko. Fatimah a.s tidak berbicara demi memenangkan perdebatan, tetapi demi menjaga agar masyarakat tidak kehilangan kompas sejarah dan nilai.

Pidato keduanya bahkan lebih menggugah. Ketika berbicara kepada perempuan Muhajirin dan Anshar, Fatimah a.s mengungkapkan perasaannya dengan kata-kata yang sangat tajam:

اَصبَحتُ وَاللَّهِ عائِفَةً لِدُنیاکُم قالِیَةً لِرِجالِکُم

“Demi Allah, pagi ini aku memandang dunia kalian dengan kebencian; aku tidak lagi ridha kepada laki-laki kalian dan berlepas diri dari sikap mereka”

Ungkapan itu sering dipahami sebagai ledakan kemarahan pribadi. Padahal, jika dibaca dalam konteks sejarah, yang dikritik Fatimah a.s bukanlah dunia sebagai ciptaan Allah, melainkan dunia yang telah membuat manusia rela mengorbankan prinsip demi kepentingan sesaat. Kritik itu diarahkan kepada masyarakat yang mulai membiarkan kebenaran tersisih oleh kompromi politik dan kepentingan kekuasaan.

Di sinilah relevansi pesan Fatimah a.s terasa begitu dekat dengan zaman kita.

Hari ini, manusia hidup di tengah banjir informasi. Berita datang tanpa henti, opini menyebar lebih cepat daripada fakta, dan kebohongan sering kali dikemas dengan bahasa yang meyakinkan. Di tengah hiruk-pikuk itu, menjelaskan kebenaran menjadi pekerjaan yang tidak kalah berat dibanding mempertahankannya.

Baca Juga  Jihad Nabi Muhammad: Perjuangan Mengubah Dunia yang Tenggelam dalam Kegelapan

Jihad tabyin bukanlah sekadar membalas setiap tuduhan atau memenangkan perdebatan di media sosial. Ia adalah upaya menghadirkan kejernihan di tengah kekacauan informasi. Ia mengajak manusia untuk memeriksa fakta, berbicara dengan ilmu, dan menjaga integritas meski suara kebenaran terdengar lebih pelan daripada gema propaganda.

Fatimah Az-Zahra a.s memberikan teladan bahwa diam tidak selalu merupakan pilihan yang bijaksana. Ada saat ketika membungkam diri justru membiarkan kesalahan tumbuh tanpa perlawanan. Namun, berbicara pun memiliki syarat: didasarkan pada ilmu, disampaikan dengan hikmah, dan diarahkan untuk membela nilai, bukan ego.

Dalam konteks yang lebih luas, perjuangan Fatimah a.s juga mengajarkan bahwa perempuan bukan sekadar saksi dalam perjalanan sejarah Islam. Ia adalah pembentuk sejarah itu sendiri. Dengan keluasan ilmu, keteguhan iman, dan keberanian moral, Fatimah a.s menunjukkan bahwa sebuah pidato yang lahir dari hati yang jujur dapat bertahan melintasi abad, bahkan ketika pelakunya telah lama tiada.

Barangkali itulah sebabnya dua pidato Fatimaha.s  tetap hidup hingga hari ini. Bukan semata karena keindahan bahasanya, melainkan karena keberaniannya menyuarakan kebenaran pada saat banyak orang memilih diam.

Pada akhirnya, jihad tabyin bukan hanya kisah tentang Fatimah Az-Zahra a.s. Ia adalah panggilan bagi setiap zaman. Selama masih ada kebenaran yang disamarkan, sejarah yang dipelintir, dan nilai yang dikorbankan demi kepentingan sesaat, perjuangan itu belum selesai. Dan mungkin, medan terbesarnya bukan lagi di luar diri kita, melainkan di dalam hati: keberanian untuk tetap mengatakan yang benar ketika dunia menawarkan kenyamanan untuk berdiam diri.

Bagikan:
Terkait
Komentar