Ketika Sebuah Gerakan Menjadi Sekolah Cinta dan Pengabdian

KHAMENEI.ID– Tidak semua gagasan besar lahir dari ruang-ruang kekuasaan. Sebagian justru muncul dari keyakinan bahwa sebuah bangsa hanya akan bertahan jika rakyatnya merasa memiliki negeri ini. Ketika hubungan antara negara dan masyarakat tidak lagi dibangun semata melalui institusi formal, melainkan melalui kesadaran, pengorbanan, dan rasa tanggung jawab bersama, sebuah kekuatan baru mulai tumbuh. Itulah yang terjadi ketika Imam Khomeini qs memperkenalkan konsep Basij pada akhir 1979.

Di tengah situasi Revolusi Islam Iran yang masih sangat muda, Imam Khomeini qs menyampaikan sebuah gagasan yang saat itu terdengar ambisius: pembentukan “tentara dua puluh juta rakyat”. Bagi sebagian orang, itu mungkin sekadar seruan politik. Namun waktu membuktikan bahwa yang sedang dibangun bukan hanya sebuah organisasi, melainkan sebuah budaya.

Basij lahir bukan sekadar untuk memenuhi kebutuhan pertahanan negara. Ia tumbuh sebagai ruang pendidikan karakter, tempat warga belajar bahwa membela tanah air tidak selalu dilakukan dengan mengangkat senjata. Kadang ia hadir dalam bentuk kerja sukarela, pengabdian sosial, membantu masyarakat ketika bencana datang, atau berdiri paling depan saat bangsa menghadapi krisis. Karena itu, keberadaan Basij perlahan melampaui fungsi militernya. Ia menjadi simbol partisipasi rakyat.

Keistimewaan gagasan ini semakin terlihat beberapa tahun kemudian. Sembilan tahun setelah pembentukan Basij, Imam Khomeini qs kembali menyampaikan pidato yang begitu emosional dan penuh penghargaan terhadap gerakan tersebut. Rentang waktu itu bukanlah masa yang singkat. Di dalamnya terjadi perang, pengorbanan, kehilangan, dan ujian berat yang harus dihadapi bangsa Iran. Semua pengalaman itulah yang membuat Imam melihat bahwa benih yang ia tanam telah berkembang menjadi pohon yang kokoh.

Yang menarik, pujian Imam kepada Basij tidak disampaikan dengan bahasa politik ataupun bahasa militer. Ia memilih diksi yang puitis, bahkan sangat spiritual. Dalam salah satu bagian pidatonya, beliau berkata:

Baca Juga  Amerika di Teluk Persia dan Jejak Panjang Permusuhan terhadap Revolusi Iran

“Basij adalah sekolah cinta dan madrasah para saksi kebenaran serta para syuhada tak dikenal, yang dari menara-menaranya berkumandang azan kesyahidan dan keberanian”

Ungkapan itu memperlihatkan cara pandang yang berbeda terhadap sebuah organisasi. Basyij tidak diposisikan sebagai mesin kekuatan, tetapi sebagai “sekolah cinta”. Sebuah sekolah yang mendidik manusia agar mencintai sesuatu yang lebih besar daripada dirinya sendiri. Cinta kepada nilai, kepada bangsa, kepada sesama manusia, bahkan kepada pengorbanan.

Dalam tradisi apa pun, cinta selalu melahirkan keberanian. Orang yang benar-benar mencintai tidak mudah menghitung untung dan rugi. Ia rela bekerja tanpa nama, berkorban tanpa meminta tepuk tangan, bahkan menghilang dari catatan sejarah selama keyakinannya tetap hidup. Karena itulah Imam menyebut para syuhada tak dikenal. Mereka mungkin tidak dikenang sebagai tokoh besar, tetapi keberadaan mereka menjadi fondasi berdirinya sebuah bangsa.

Di titik ini, Basij berubah makna. Ia bukan lagi identitas organisasi, melainkan sebuah cara memandang kehidupan. Bahwa manusia terbaik bukanlah yang paling terkenal, melainkan yang paling bermanfaat.

Imam Khomeini qs kemudian menggunakan metafora lain yang tak kalah indah. Ia menggambarkan Basij sebagai “pohon yang penuh buah”, dengan bunga-bunga yang memancarkan aroma musim semi, kesegaran keyakinan, dan kisah tentang cinta. Sebuah gambaran yang menunjukkan bahwa gerakan sosial yang sehat tidak menghasilkan ketakutan, melainkan harapan. Ia memberi kehidupan, bukan sekadar mempertahankan kehidupan.

Namun mungkin bagian paling menggetarkan dari pidato itu justru bukan metaforanya. Melainkan pengakuan pribadi Imam sendiri.

Beliau berkata, “Kebanggaanku adalah bahwa aku sendiri adalah seorang anggota Basij”

Kalimat ini memiliki makna yang jauh melampaui kerendahan hati. Seorang pemimpin revolusi yang mengubah arah sejarah negaranya justru memilih mengidentifikasi dirinya sebagai bagian dari rakyat biasa. Ia tidak meninggikan dirinya di atas gerakan yang ia dirikan. Sebaliknya, ia masuk ke dalamnya.

Baca Juga  Revolusi Imam Khomeini: Ketika Perubahan Besar Dimulai dari Hati

Di sinilah kepemimpinan menemukan bentuknya yang paling autentik. Pemimpin sejati tidak berdiri di puncak piramida sambil meminta penghormatan. Ia justru merasa terhormat ketika dapat menjadi bagian dari orang-orang yang bekerja tanpa pamrih.

Lebih menyentuh lagi ketika Imam mengatakan, “Aku mencium tangan kalian satu per satu” Sebuah ungkapan yang dalam budaya Timur merupakan bentuk penghormatan yang sangat tinggi. Kalimat itu seolah membalik seluruh logika kekuasaan. Biasanya rakyat mencium tangan pemimpinnya. Namun di sini, pemimpinlah yang menyatakan penghormatan kepada rakyat yang telah mengabdikan hidup mereka.

Dalam konteks yang lebih luas, pesan itu sesungguhnya tidak terbatas pada generasi pertama Basij. Imam tidak pernah membatasi penghargaan itu hanya bagi mereka yang hidup pada dekade 1980-an. Siapa pun yang menghidupkan semangat pengabdian, keikhlasan, dan keberanian moral adalah bagian dari pesan tersebut. Nilai itu melintasi zaman.

Barangkali di sinilah relevansi Basij pada masa kini. Dunia modern sering kali mengukur keberhasilan dari popularitas, jabatan, atau pengakuan publik. Padahal sejarah justru dibangun oleh orang-orang yang bekerja dalam diam. Mereka yang mengajar tanpa sorotan kamera, merawat korban bencana tanpa mengharap pujian, menjaga keamanan lingkungan, membantu tetangga, atau mengabdikan ilmunya untuk masyarakat. Mereka mungkin tidak mengenakan seragam tertentu, tetapi semangat yang mereka hidupkan tidak berbeda: mengutamakan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi.

Pada akhirnya, kekuatan sebuah bangsa tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologinya atau besarnya anggaran negaranya. Bangsa menjadi kuat ketika masih memiliki warga yang rela memberi tanpa harus dihitung, mencintai tanpa harus dipuji, dan berkorban tanpa harus dikenang.

Mungkin itulah sebabnya Imam Khomeini qs tidak menyebut Basij sebagai organisasi semata. Ia menyebutnya sebagai sekolah. Sebab sekolah sejati bukan hanya mengajarkan pengetahuan, melainkan membentuk manusia. Dan selama masih ada manusia yang menjadikan cinta, keberanian, serta pengabdian sebagai pelajaran hidupnya, sekolah itu sesungguhnya tidak pernah ditutup oleh waktu.

Baca Juga  Revolusi Iran dan Modal Sosial Ulama: Warisan Seribu Tahun yang Mengubah Sejarah
Bagikan:
Terkait
Komentar