Ketika Tugas Menjadi Jalan: Makna Sabar dan Tawakal

KHAMENEI.ID– Ada pekerjaan yang selesai ketika laporan ditandatangani, gedung berdiri, anggaran terserap, atau sebuah kebijakan mulai berjalan. Tetapi ada pekerjaan yang ukurannya jauh lebih panjang: ia meninggalkan bekas bukan hanya pada dunia, melainkan juga pada batin orang yang mengerjakannya.

Di situlah pekerjaan seorang pemimpin menemukan maknanya. Mengurus negara, lembaga, masyarakat, bahkan sebuah organisasi kecil, bukan semata urusan administratif. Di balik keputusan, target, rapat, dan berbagai persoalan yang harus diselesaikan, selalu ada pertanyaan yang lebih sunyi: untuk apa semua itu dilakukan?

Dalam sebuah pertemuan Ayatollah Sayyid Ali Khamenei qs dengan para pejabat negara, gagasan itu dirumuskan dengan sederhana: tugas seorang pemegang tanggung jawab memiliki dua dimensi sekaligus. Ia membangun kehidupan dunia, tetapi pada saat yang sama juga membentuk kehidupan batin orang yang menjalankannya. Pekerjaan yang dilakukan dengan benar bukan hanya membuat sesuatu menjadi lebih baik di luar diri, melainkan juga dapat memperbaiki manusia di dalam dirinya.

Namun pekerjaan semacam itu tidak mudah. Ada dua bekal yang sering kali justru paling menentukan ketika kemampuan teknis sudah tidak cukup: sabar dan tawakal.

Al-Qur’an menggambarkan keduanya dengan sangat indah:

فَنِعْمَ أَجْرُ الْعَامِلِينَ ۝ الَّذِينَ صَبَرُوا وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ

“Maka sungguh, sebaik-baik pahala bagi orang-orang yang beramal, yaitu mereka yang bersabar dan bertawakal kepada Tuhan mereka” (QS Al-‘Ankabut: 58)

Sabar dalam pengertian ini bukan sekadar menahan diri agar tidak marah. Ia jauh lebih aktif. Sabar adalah kemampuan untuk bertahan ketika jalan menjadi panjang, ketika hasil belum terlihat, ketika hambatan datang berulang-ulang, dan ketika seseorang mulai tergoda meninggalkan tujuan hanya karena perjalanan terasa melelahkan.

Karena itu, sabar sebenarnya adalah soal daya tahan kehendak.

Baca Juga  Ali bin Abi Thalib: Murid Terbaik Nabi yang Gugur Karena Keadilan

Seseorang bisa saja memiliki gagasan yang baik. Ia dapat memulai sesuatu dengan penuh semangat. Tetapi dunia jarang memberikan hasil secepat yang diharapkan. Di antara cita-cita dan kenyataan selalu terdapat jarak yang harus ditempuh. Di situlah kualitas seseorang diuji: apakah ia tetap berdiri ketika tepuk tangan berhenti, atau hanya bersemangat selama keadaan berpihak kepadanya?

Al-Qur’an bahkan menggunakan gambaran yang sangat tegas tentang daya tahan itu:

إِنْ يَكُنْ مِنْكُمْ عِشْرُونَ صَابِرُونَ يَغْلِبُوا مِائَتَيْنِ

“Jika di antara kamu ada dua puluh orang yang sabar, niscaya mereka dapat mengalahkan dua ratus orang” (QS Al-Anfal: 65)

Ayat itu berbicara dalam konteks peperangan, tetapi gagasan tentang kekuatan kehendaknya terasa melampaui medan perang. Dalam banyak pertarungan kehidupan, yang berhadapan bukan semata kekuatan dengan kekuatan. Yang bertemu adalah kehendak dengan kehendak. Pihak yang lebih dahulu kehilangan keteguhan sering kali telah kalah bahkan sebelum lawannya benar-benar menang.

Dalam konteks yang lebih luas, inilah salah satu persoalan manusia modern. Kita hidup dalam zaman yang memuja kecepatan. Segala sesuatu harus segera terlihat hasilnya. Bisnis dituntut tumbuh cepat, karier harus segera naik, kebijakan harus segera menunjukkan dampak, bahkan perubahan diri pun sering diharapkan berlangsung dalam hitungan hari.

Akibatnya, kegagalan kecil mudah dianggap sebagai tanda bahwa jalan yang ditempuh keliru. Hambatan dianggap alasan untuk berhenti. Padahal tidak semua keterlambatan berarti kegagalan. Sebagian hal memang membutuhkan ketekunan sebelum memperlihatkan buahnya.

Di titik ini, sabar bukan berarti pasif. Justru sebaliknya: sabar adalah kemampuan untuk terus bekerja tanpa membiarkan kegagalan sementara menghancurkan tujuan yang lebih besar.

Tetapi ada satu hal lagi. Ketekunan tanpa tawakal dapat berubah menjadi kelelahan yang membuat manusia merasa seluruh hasil berada di tangannya sendiri.

Baca Juga  Tidak Zalim Bahkan pada Musuh: Standar Tinggi yang Dilupakan Banyak Orang

Tawakal sering disalahpahami sebagai sikap menunggu. Duduk diam, lalu berharap Tuhan menyelesaikan persoalan. Menyerahkan pekerjaan sebelum pekerjaan itu dikerjakan. Dalam pemahaman seperti itu, tawakal menjadi alasan untuk tidak bertindak.

Padahal tawakal justru lahir setelah ikhtiar.

Kerjakan apa yang menjadi tanggung jawabmu. Gunakan kemampuanmu. Susun rencana. Hadapi persoalan. Ambil keputusan. Setelah itu, serahkan hasil akhirnya kepada Tuhan.

Ada kebijaksanaan yang dalam di sana. Manusia bertanggung jawab atas usaha, tetapi tidak pernah sepenuhnya berkuasa atas hasil. Ia dapat bekerja keras, tetapi tidak bisa memerintah keadaan agar selalu sesuai dengan kehendaknya. Ia dapat merancang masa depan, tetapi tidak dapat memastikan seluruh kemungkinan yang akan datang.

Tawakal mengajarkan batas itu tanpa mengajarkan keputusasaan.

Seorang pemimpin, misalnya, harus tetap bekerja meski belum tahu apakah seluruh kebijakannya akan berhasil. Seorang pegawai harus tetap menjalankan tugas dengan baik meski penghargaan mungkin tidak segera datang. Seseorang yang sedang membangun sesuatu harus tetap melangkah meski hasilnya belum tampak.

Sabar menjaga langkah agar tidak berhenti. Tawakal menjaga hati agar tidak hancur oleh hasil.

Gagasan ini kemudian menyentuh persoalan yang lebih besar tentang bagaimana manusia memandang pekerjaan. Jika pekerjaan hanya dianggap sebagai alat mencari penghasilan atau mempertahankan posisi, maka kegagalan mudah menjadi ancaman bagi harga diri. Tetapi jika pekerjaan dipandang sebagai amanah, setiap tugas memperoleh kedalaman lain. Keberhasilan memang penting, tetapi ketulusan usaha dan keteguhan menjalankan tanggung jawab juga memiliki nilai.

Pada akhirnya, mungkin itulah makna terdalam dari bekerja: membangun sesuatu di luar diri tanpa membiarkan diri sendiri runtuh di dalam prosesnya.

Dunia membutuhkan orang-orang yang mampu menyelesaikan pekerjaan. Tetapi dunia juga membutuhkan manusia yang sanggup bertahan ketika pekerjaan itu menjadi sulit, tetap bekerja ketika hasil belum terlihat, dan tetap rendah hati ketika hasil akhirnya datang.

Baca Juga  Taqwa: Saat Kita Benar-Benar Memegang Kendali Hidup

Sebab tidak semua yang kita tanam akan segera tumbuh di depan mata. Ada yang baru berbuah setelah kita pergi. Dan mungkin, di situlah sabar dan tawakal menemukan maknanya: tetap menanam dengan sungguh-sungguh, lalu percaya bahwa tidak ada kerja yang benar-benar sia-sia di hadapan Tuhan.

Bagikan:
Terkait
Komentar