Sekilas Kenangan Ayatollah Sayyid Mojtaba Hosseini Khamenei tentang Sang Pemimpin yang Syahid (Bagian 2)

Di wawancara sebelumnya, kita menyaksikan kedekatan antara ayah dan anak dalam keluarga Imam Ali Kaamenei qs yang tidak hanya dibangun oleh kasih sayang, tetapi juga oleh ilmu, pengabdian, dan keputusan-keputusan besar yang mengubah arah hidup. Dari sini percakapan bergerak ke babak berikutnya: bagaimana keputusan kembali ke Mashhad bukan sekadar pilihan keluarga, melainkan titik balik yang memicu lahirnya aktivitas dakwah dan pengaruh sosial yang semakin luas.

Pertanyaan: Bagaimana hubungan keilmuan antara Pemimpin Revolusi Islam dan almarhum Ayatullah Sayyid Javad Khamenei? Mohon ceritakan sedikit tentang hubungan ilmiah yang beliau miliki dengan ayahnya.

Imam Sayyid Mojtaba Khamenei: Tampaknya almarhum Ayatullah [Sayyid Javad Khamenei] pada awalnya mengajar satu pelajaran kepada paman saya, Sayyid Mohammad, dan pelajaran tingkat lebih rendah kepada ayah saya. Setelah beberapa waktu, pelajaran untuk keduanya digabungkan, dan mereka sama-sama mempelajari Sharh al-Lum’ah di bawah bimbingan almarhum Ayatullah.

Ayah saya pernah bercerita bahwa pada suatu masa, ketika beliau pulang dari kelas Ayatullah Milani dan ayahnya pulang dari makam setelah salat, mereka bertemu di jalan. Ayahnya akan bertanya apa yang diajarkan Ayatullah Milani hari itu. Ayah saya mulai menceritakan pelajaran tersebut, lalu ayahnya menambahkan penjelasan untuk melengkapi. Hal ini sengaja dilakukan agar ayah saya langsung berdiskusi ilmiah dengan seorang ulama senior setelah pelajaran penting. Metode ini sangat efektif karena membuat pelajaran tertanam kuat dalam ingatan dan memberi manfaat besar bila dilakukan terus-menerus.

Bahkan di usia muda, ayah saya kadang ikut serta dalam diskusi ilmiah ayahnya, baik diskusi kelompok maupun lainnya, dan turut menyampaikan pendapat. Pernah suatu kali beliau menemani ayahnya ke rumah Aqa Sayyid Hashem. Dalam kunjungan itu, terjadi perdebatan ilmiah antara ayah saya dan Sayyid Hashem. Setelah pulang, almarhum ayahnya menegur, bukan karena isi pendapatnya, tetapi karena cara penyampaiannya.

Baca Juga  Jawaban Pemimpin Tertinggi Revolusi terhadap Surat dari Sejumlah Aktivis Kemasyarakatan di Bidang Kependudukan

Saya pernah bertanya kepada ayah: “Sayyid Hashem adalah murid Ayatullah Naini, begitu juga almarhum kakek. Pernahkah Anda membandingkan keduanya dari sisi ilmiah?” Ayah menjawab bahwa sebagian orang meyakini almarhum Ayatullah Sayyid Javad jauh lebih unggul secara akademik. Sayyid Hashem sendiri sekitar sepuluh tahun lebih tua dan sezaman dengan Ayatullah Hakim.

Imam Khamenei juga pernah mengatakan bahwa ayahnya sangat mencintai belajar, terutama fikih, hingga akhir hayat. Salah satu akhlak terpujinya, saat mengajar Kifayah, beliau kadang berkata, “Penjelasan saya kemarin keliru.” Mengakui kesalahan secara terbuka dalam pengajaran bukanlah hal mudah, karena bisa dianggap melemahkan otoritas. Namun beliau tetap melakukannya.

Pertanyaan: Berdasarkan yang Anda sebutkan, dalam hal apa Imam Khamenei dipengaruhi oleh ayahnya?

Jawaban: Pertanyaan ini agak sulit dijawab. Mungkin komitmen beliau terhadap salat sunnah (nawafil) berasal dari ayahnya.

Pertanyaan: Lebih tepatnya, apa kesamaan antara kedua tokoh mulia ini?

Jawaban: Salah satunya adalah kezuhudan. Almarhum Ayatullah Sayyid Javad hidup zuhud meski dalam kemiskinan, sedangkan kezuhudan ayah saya murni pilihan. Beliau tidak menerima gaji konvensional. Bahkan dana yang beliau gunakan berasal dari hadiah pribadi orang-orang yang diberikan atas nama beliau.

Hadiah-hadiah berharga sering beliau sedekahkan. Sekitar 30 tahun lalu, saudara-saudara dari Yaman menghadiahkan batu akik Yaman yang sangat berharga; semuanya beliau berikan kepada orang lain. Suatu kali beliau menerima jubah mahal, lalu memerintahkan agar dijual dan hasilnya digunakan untuk membeli beberapa jubah bagi orang lain.

Ayah saya juga sering menyumbangkan hadiah berharga kepada Astan-e Quds Razavi. Banyak buku manuskrip dan benda berharga yang diterimanya langsung diserahkan ke sana. Bahkan sebuah Divan Hafez tulisan indah karya master kaligrafi pun beliau donasikan.

Baca Juga  Foto Syahid Ali Khamenei Dipublikasikan untuk Pertama Kalinya

Saya ingat saat kecil, saya tidak suka kata “miskin.” Namun suatu hari ayah berkata, “Saya bangga menjadi miskin.” Kalimat itu mengubah pandangan saya tentang kemiskinan selamanya.

Pertanyaan: Imam Khamenei pernah mengatakan tidak ingin menampilkan kemiskinan dalam kisah hidupnya. Bisakah Anda menjelaskan?

Jawaban: Beliau tidak membiarkan kehidupan keluarganya menjadi mewah. Perabot rumah tangga sangat sederhana: kompor gas tiga tungku lama masih dipakai hingga kini. Televisi lama bahkan tidak memiliki port input. Kursi di rumah terbuat dari plastik sederhana. Tempat tidur yang beliau gunakan sekarang adalah yang sama sejak 1981 setelah upaya pembunuhan terhadap beliau.

Pertanyaan: Selain zuhud, kesamaan apa lagi dengan orang tuanya?

Jawaban: Selain wawasan politik dan pengalaman luas, beliau memiliki keikhlasan dan kehangatan khusus. Kejujuran dan keterusterangan ini tampaknya berasal dari kedua orang tuanya.

Saya melihat keterusterangan itu pada nenek saya. Ia menegur orang yang bergosip atau tidak berhijab dengan cara lembut namun tegas. Begitu pula ayah saya. Saat di pengasingan di Iranshahr, kami melihat seorang pemuda makan di siang Ramadan di tempat umum. Ayah saya langsung menegurnya, meskipun saat itu beliau sendiri berada dalam pengasingan.

Baca juga: Sekilas Kenangan Ayatollah Sayyid Mojtaba Hosseini Khamenei tentang Sang Pemimpin yang Syahid (Bagian 1)

Bagikan:
Terkait
Komentar