Membangun Generasi Beriman dan Berbudaya

Pertemuan Imam Ali Khamenei dengan para pejabat Lembaga Pengembangan Pemikiran Anak dan Remaja menjadi momen untuk menyampaikan apresiasi mendalam atas seluruh jerih payah yang telah dilakukan. Pengamatan dari kejauhan pun cukup untuk menangkap besarnya dedikasi, terutama dalam menghadapi tantangan geografis dan keterbatasan publisitas. Penghormatan ini bukan sekadar seremonial, melainkan pengakuan atas beban berat yang dipikul oleh lembaga yang bertanggung jawab membentuk generasi penerus. Harapan yang dipanjatkan adalah agar setiap upaya yang dilakukan dengan ikhlas dan penuh cinta senantiasa diberkahi serta membuahkan hasil yang optimal.

Urgensi Pendidikan Anak dan Remaja

Jika para pemangku kebijakan dibidang budaya benar-benar menyadari hakikat persoalan anak dan remaja, maka mereka tidak akan ragu mengorbankan waktu dan tenaga, bahkan hingga larut malam, untuk mencurahkan perhatian penuh pada sektor ini. Perbedaan fundamental antara kondisi pendidikan masa kini dan dua puluh tahun silam menuntut pendekatan baru. Generasi saat ini bagaikan bahan mentah yang berada dalam genggaman kita; pertanyaan mendasarnya adalah: bentuk apa yang ingin kita ciptakan dari mereka? Bagaimana kita memvisualisasikan masa depan yang akan mereka bangun? Jika cita-cita Islam, kebangsaan, dan kejayaan Iran benar-benar dijunjung tinggi, serta upaya menebus keterpurukan akibat tirani berabad-abad terakhir dianggap serius, maka pendidikan anak dan remaja harus menjadi prioritas utama. Realitas menunjukkan bahwa sebagian pengelola budaya masih belum memandang persoalan ini dengan derajat kepentingan yang setimpal.

Kesadaran anak-anak kita saat ini, yang bahkan melampaui remaja, merupakan buah tak terbantahkan dari atmosfer revolusi—sesuatu yang tidak pernah ada pada masa lalu: kebebasan berpikir, rasa keingintahuan, dan semangat bertanya. Namun, akses informasi yang mereka miliki bukanlah sumber budaya yang netral; melainkan celah bagi pusat-pusat kebudayaan global untuk menanamkan agenda kolonialisme. Ketika kita mengkritik komoditas budaya yang rusak dari pihak asing—baik musuh negara maupun sekadar pihak yang tidak peduli—sering kali timbul kesalahpahaman bahwa kita ingin membatasi pengetahuan anak-anak. Padahal, kekhawatiran sesungguhnya adalah dominasi akses asing atas pikiran mereka. Seorang anak berada dalam pengawasan orang tua, guru, dan lembaga pendidikan, namun akses media dan produk budaya asing sering kali lebih kuat dan lebih luas daripada pengaruh kita sendiri. Inilah fakta yang patut diresapi, dan ia hadir tanpa peduli kita suka atau tidak. Konsekuensinya, kita harus mempercepat langkah, bekerja lebih giat, dan meyakini bahwa kita mampu mendidik generasi muda kita dengan lebih baik, lebih konkret, dan lebih cepat.

Baca Juga  Peran Strategis Pemudi dalam Membangun Masa Depan Iran Islam

Poin penting pertama adalah pengakuan bahwa setiap aktivitas pendidikan—baik di perpustakaan, melalui cerita, pengiriman buku, pembacaan, maupun karya seni yang menyasar anak—bergerak tepat pada inti persoalan. Mereka yang mengisi kekosongan zaman ini layak merasa bahagia dan yakin akan rida Ilahi, karena mereka sedang melakukan apa yang benar-benar harus dilakukan.

Peran Seni dan Sastra sebagai Pilar Pendidikan

Salah satu kekayaan terbesar negeri ini adalah tradisi seni dan sastra. Meskipun dalam beberapa cabang seni kita mungkin masih tertinggal atau meniru, namun secara historis dan natural, bangsa ini memiliki watak artistik dan sastra yang kuat. Dalam bidang sastra, terdapat dua tugas pokok: memajukan sastra itu sendiri, dan menggunakannya secara tepat di tingkat nasional, regional, bahkan global. Dulu, bahasa Persia menjangkau dari Konstantinopel hingga Asia Timur, menjadi bahasa administrasi, kesastraan, dan agama. Namun, pada akhir era Qajar hingga kekuasaan Mohammad Reza Pahlavi, bahasa dan sastra Persia mengalami kemunduran drastis akibat kebijakan para penguasa yang justru menjauhi bahasa ibu. Ironisnya, meskipun ada tokoh-tokoh besar, posisi internasional bahasa Persia berada di titik terendah karena penguasa di pusat kelahirannya sendiri merendahkannya. Mereka berbangga menggunakan istilah asing, dan bahkan saat berupaya mempersiakan kata, mereka terobsesi meniru bahasa asing—seperti menciptakan kata “tak” untuk meniru “atack” atau “chalens” untuk “challenge“. Ini adalah cerminan ketidakmampuan menghargai bahasa sendiri.

Pasca-Revolusi, bahasa Persia mulai bangkit. Kini, di kawasan Jaziratuh Arab, masyarakat yang sebelumnya tidak tahu bahasa Persia, dengan tekun mendengarkan siaran radio dan televisi Iran hingga mampu berbahasa Persia. Ini menunjukkan bahwa revolusi telah menyebarkan bahasa. Bahasa Persia kembali diminati sebagai bahasa kedua di universitas-universitas dunia, karena orang ingin mendengar langsung pesan-pesan Imam dan pemimpin revolusi yang tidak dapat tertangkap sepenuhnya melalui terjemahan. Bahasa Persia adalah bahasa yang kaya dan lentur. Lembaga seperti ini memiliki tanggung jawab besar untuk menggarap bahasa dan sastra, terutama secara artistik, karena generasi yang belajar di sini akan membawa pelajaran itu seumur hidup. Jika anak-anak kita menguasai bahasa Persia dengan baik, maka kelak ketika mereka menjadi penulis, penyair, pembuat program, atau seniman, karya mereka akan berbeda dengan generasi sebelumnya yang dibesarkan di lingkungan yang tidak menghargai bahasa ibu. Dengan demikian, lembaga ini dapat sekaligus memajukan sastra dan menggunakannya secara tepat di kalangan anak-anak.

Baca Juga  Pernikahan, Keluarga, dan Masa Depan Bangsa: Mengapa Islam Mendorong Generasi yang Kuat?

Seni sebagai Alat Komunikasi dan Perlawanan

Tidak ada yang dapat menggantikan bahasa seni. Bahkan dalam tulisan dan tuturan, gaya artistik menentukan daya serap. Sebuah ungkapan yang disampaikan secara artistik akan membekas, sedangkan yang sama tanpa seni akan kehilangan pengaruh. Di era sekarang, budaya imperialis dan agresif menggunakan seni sebagai kendaraan utama—film, drama, novel, dan karya artistik lainnya dikirim ke seluruh dunia. Mengapa kita masih meremehkan peran seni dalam kehidupan sehari-hari? Karya-karya seni yang telah dihasilkan oleh lembaga ini, seperti yang pernah ditayangkan di televisi, menunjukkan kecerdasan dan kualitas tinggi. Kita harus memperbanyak karya seni yang baik dan bermutu, bukan yang dangkal. Mendongeng adalah seni yang sangat efektif; dongeng-dongeng lama yang kita dengar dari nenek moyang mengandung hikmah yang dalam, bahkan membentuk kepribadian kita. Dongeng yang baik mampu menanamkan nilai-nilai sejak dini.

Fondasi Iman: Inti Segala Pendidikan

Yang terpenting dari semua upaya pendidikan adalah menanamkan iman. Tidak ada yang setara dengan iman dalam membentuk kepribadian anak. Ancaman terbesar dari kerajaan berita dan seni global adalah penyebaran jaringan kerusakan moral yang masif dan pengikisan keimanan, sehingga manusia tidak memiliki pegangan apapun. Maka, anak-anak harus dibesarkan dengan iman kepada Allah, kebenaran mutlak, dan Islam. Jika benih iman tertanam, maka kelak mereka dapat menjadi tokoh besar dalam bidang apa pun—politik, perdagangan, kesenian, atau lainnya—dengan karakter yang kokoh dan dapat diandalkan. Tanpa iman, mereka akan menjadi pribadi yang labil dan tidak dapat dipercaya dalam peran apa pun. Diatas fondasi iman, dapat pula dikembangkan sifat-sifat luhur seperti kebebasan berpikir, keberanian, keluhuran budi, dan toleransi, tanpa jatuh pada fanatisme dan kekakuan. Semua ini harus dijalin berporos pada iman.

Baca Juga  Kesetaraan dan Keadilan: Pandangan Islam tentang Perempuan

Akhirnya, meskipun semua ini terasa berat dan penuh perjuangan, semangat tinggi dan keyakinan bahwa ini adalah jalan Allah akan memudahkan segala rintangan. Doa dan harapan senantiasa menyertai agar setiap langkah mendapatkan taufik dan berkah dari-Nya.

Bagikan:
Terkait
Komentar