KHAMENEI.ID– Ada masa ketika dunia seolah kehilangan arah. Manusia masih bernapas, berdagang, membangun perkampungan, bahkan menyusun kebanggaan atas suku dan kekuasaan. Namun, di balik semua itu, ada sesuatu yang telah runtuh: keyakinan. Bukan sekadar keyakinan kepada Tuhan, melainkan juga keyakinan bahwa hidup memiliki tujuan yang lebih luhur daripada sekadar bertahan dan saling mengalahkan.
Begitulah wajah Jazirah Arab menjelang diutusnya Nabi Muhammad saw. Dalam banyak riwayat, masa itu disebut sebagai zaman jahiliah. Namun, jahiliah bukan sekadar berarti kebodohan karena tidak mengenal ilmu pengetahuan. Ia adalah keadaan ketika cahaya kebenaran tertutup oleh kabut hawa nafsu, fanatisme, dan kekerasan yang dianggap lumrah.
Imam Ali bin Abi Thalib a.s melukiskan masa itu dengan ungkapan yang begitu kuat dalam Nahjul Balaghah. Menurut beliau, masyarakat hidup di tengah fitnah yang memutus tali agama dan mengguncang tiang-tiang keyakinan. Segala sesuatu yang semestinya menjadi pegangan telah kehilangan kekuatannya. Orang-orang tidak lagi memiliki pijakan yang kokoh untuk membedakan benar dan salah.
Gambaran itu terasa begitu hidup. Fitnah bukan sekadar perselisihan atau kabar bohong sebagaimana dipahami hari ini. Fitnah telah menjadi udara yang dihirup masyarakat. Ia menguasai cara berpikir, membentuk budaya, bahkan menentukan arah kehidupan. Akibatnya, manusia kehilangan kemampuan melihat kebenaran dengan jernih.
Dalam deskripsi Imam Ali a.s, kehidupan saat itu bukan hanya suram secara spiritual, tetapi juga menyakitkan secara fisik dan sosial. Malam tidak lagi menjadi waktu beristirahat. Tidur seakan berubah menjadi keterjagaan yang panjang. Air mata menjadi teman sehari-hari.
Beliau menggambarkannya dengan kalimat yang puitis sekaligus memilukan:
كُحْلُهُمْ دُمُوعٌ وَنَوْمُهُمْ سُهُودٌ
“Celak mata mereka adalah air mata, dan tidur mereka hanyalah keterjagaan“
Kalimat itu bukan sekadar hiperbola sastra. Ia menunjukkan sebuah masyarakat yang hidup tanpa rasa aman. Kekerasan antarsuku dapat meledak kapan saja. Balas dendam diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya. Yang kuat menindas yang lemah, sementara perempuan, budak, dan anak-anak nyaris tidak memiliki perlindungan. Kehidupan berjalan, tetapi kemanusiaan perlahan mati.
Imam Ali a.s bahkan mengibaratkan fitnah itu seperti seekor kuda liar yang menginjak manusia dengan kuku-kakinya. Mereka bukan hanya diserang sekali, melainkan terus-menerus diinjak hingga kehilangan daya untuk bangkit. Gambaran tersebut memperlihatkan bahwa kekacauan telah menjadi sistem yang dianggap normal.
Di titik inilah kemunculan Islam menemukan maknanya yang paling dalam.
Sering kali orang memandang Islam hanya sebagai agama baru yang muncul di Makkah pada abad ketujuh. Padahal, jika melihat latar sejarahnya, Islam hadir sebagai cahaya yang menyala di salah satu tempat tergelap pada zamannya. Bukan di tengah peradaban besar seperti Romawi atau Persia yang telah memiliki tradisi intelektual panjang, melainkan di Jazirah Arab yang saat itu dipenuhi konflik suku, penyembahan berhala, dan ketimpangan sosial.
Pilihan tempat itu seolah menyampaikan sebuah pesan: cahaya tidak menunggu dunia menjadi terang untuk bersinar. Justru ia hadir ketika kegelapan mencapai puncaknya.
Nabi Muhammad saw tidak memulai dakwahnya dengan kekuatan politik ataupun pasukan bersenjata. Beliau datang membawa sesuatu yang jauh lebih mendasar: cara pandang baru tentang manusia. Bahwa setiap manusia memiliki martabat di hadapan Allah. Bahwa kekuatan tidak boleh menjadi alat penindasan. Bahwa kejujuran lebih berharga daripada kekuasaan, dan kasih sayang lebih mulia daripada kesombongan suku.
Perubahan besar selalu dimulai dari perubahan cara manusia memandang dirinya sendiri. Ketika hati kembali mengenal Tuhan, hubungan antarmanusia pun perlahan berubah. Masyarakat yang sebelumnya berdiri di atas kebencian mulai belajar hidup di atas keadilan dan persaudaraan.
Dalam konteks yang lebih luas, kisah ini bukan hanya tentang sejarah Arab. Ia adalah pelajaran tentang bagaimana sebuah peradaban dapat kehilangan arah meskipun tampak maju di permukaan.
Hari ini, dunia memiliki teknologi yang jauh melampaui masa lalu. Informasi berpindah dalam hitungan detik. Kota-kota menjulang tinggi, ilmu pengetahuan berkembang pesat, dan manusia mampu menjelajah ruang angkasa. Namun, semua kemajuan itu tidak otomatis membuat manusia lebih damai. Konflik, ketidakadilan, manipulasi informasi, dan krisis moral tetap menghantui berbagai bangsa.
Di sinilah gambaran Imam Ali a.s terasa begitu relevan. Fitnah tidak selalu hadir dalam bentuk peperangan fisik. Ia juga dapat menjelma menjadi kebingungan massal, ketika manusia sulit membedakan kebenaran dari kebohongan, kepentingan dari ketulusan, atau kebebasan dari hawa nafsu yang dibungkus slogan.
Karena itu, cahaya Islam tidak hanya dipahami sebagai peristiwa sejarah yang terjadi lebih dari empat belas abad lalu. Ia adalah simbol bahwa harapan selalu mungkin lahir dari tempat yang paling tidak diduga. Selama masih ada manusia yang mencari kebenaran, selalu ada kemungkinan bagi cahaya itu untuk kembali menyinari kehidupan.
Makkah menjadi saksi bahwa satu orang yang membawa cahaya dapat mengubah arah sejarah. Nabi Muhammad saw tidak menghapus kegelapan dengan pedang pada awal dakwahnya, melainkan dengan akhlak, keteladanan, dan keyakinan yang tidak pernah padam. Dari kota kecil di tengah padang pasir, lahirlah perubahan yang kemudian menjangkau berbagai penjuru dunia.
Mungkin itulah pesan paling abadi dari kisah ini. Kegelapan tidak pernah benar-benar menang karena ia hanya ada selama cahaya belum dinyalakan. Dan sejarah Nabi Muhammad saw menunjukkan bahwa seterang apa pun cahaya itu bermula dari satu titik kecil, ia mampu mengubah wajah dunia ketika menyentuh hati manusia.







