Mengapa Rasulullah Menekankan Kesempurnaan dalam Pekerjaan yang Tampak Sederhana? 

 

Dari Liang Kubur Sa’ad bin Mu’adz, Pelajaran Besar tentang Profesionalisme dalam Islam

Di tengah dunia yang semakin tergesa-gesa, ketika pekerjaan kerap dipandang sekadar rutinitas yang harus segera selesai, sebuah kisah klasik dari sejarah Islam menghadirkan jeda yang menggetarkan. Bukan tentang perang besar, bukan pula tentang pidato politik, melainkan tentang sebuah pemakaman. Namun dari pemakaman itulah lahir sebuah prinsip yang melampaui zaman: bahwa setiap pekerjaan, sekecil apa pun, layak dikerjakan dengan ketelitian dan kesempurnaan.

Kisah itu bermula dari peristiwa wafatnya Sa’ad bin Mu’adz, salah satu sahabat Nabi Muhammad SAW yang dikenal memiliki kedudukan mulia di sisi Rasul. Ketika ia dimakamkan, Nabi sendiri turun ke liang lahat, menata jenazahnya dengan penuh kehormatan. Di sanalah terjadi sebuah adegan yang tampak sederhana, tetapi sarat makna: ketika liang lahad itu sedang dirapikan, Rasulullah meminta bahan-bahan seperti bata, air, dan tanah agar bangunan liang kubur itu menjadi kokoh dan tertata dengan baik.

Sekilas, tindakan itu mungkin terlihat tidak perlu. Bukankah setelah beberapa waktu, semua itu akan hancur juga? Tubuh manusia kembali ke tanah, dan struktur kubur pun akan menyatu dengan alam. Namun pertanyaan semacam itu justru dijawab langsung oleh Nabi, bukan dengan penjelasan teknis, melainkan dengan sebuah prinsip yang menjadi fondasi etika kerja dalam Islam.

Nabi Muhammad SAW bersabda bahwa, “Allah menyukai ketika seseorang melakukan suatu pekerjaan, ia melakukannya dengan itqan—dengan kesempurnaan, ketelitian, dan kesungguhan.”

Dalam riwayat itu disebutkan:

إِنَّ اللهَ تَعَالَى يُحِبُّ إِذَا عَمِلَ أَحَدُكُمْ عَمَلًا أَنْ يُتْقِنَهُ

“Sesungguhnya Allah Ta’ala mencintai apabila salah seorang dari kalian melakukan suatu pekerjaan, ia melakukannya dengan itqan”

Jawaban ini tidak hanya menjelaskan tindakan saat itu, tetapi membuka cakrawala baru tentang makna kerja itu sendiri. Bahwa nilai sebuah pekerjaan tidak semata diukur dari hasil akhirnya, melainkan dari kualitas kesungguhan di dalam prosesnya. Bahkan dalam urusan yang secara kasat mata tampak “sementara” seperti liang kubur, kesempurnaan tetap menjadi prinsip yang tidak bisa ditawar.

Baca Juga  Menelusuri Cinta, Rahasia, dan Keteladanan dalam Islam dalam Diri Fathimah

Dalam konteks hari ini, prinsip itqan terasa semakin relevan. Dunia modern sering kali menuntut kecepatan di atas ketelitian, hasil instan di atas proses yang benar. Banyak pekerjaan diselesaikan sekadar “cukup selesai”, bukan “benar-benar selesai dengan baik”. Namun riwayat ini mengingatkan bahwa dalam pandangan spiritual, tidak ada pekerjaan yang terlalu kecil untuk diperlakukan dengan serius.

Menariknya, Nabi tidak menjawab pertanyaan yang diucapkan secara langsung, melainkan menjawab “pertanyaan yang belum diucapkan”. Seolah beliau tahu kegelisahan yang mungkin muncul di benak orang-orang di sekitarnya: mengapa harus begitu teliti dalam sesuatu yang akan hancur? Jawaban itu menjadi penegasan bahwa ketelitian bukan soal hasil duniawi, tetapi soal nilai di hadapan Tuhan.

Dalam tradisi Islam, itqan bukan sekadar etika kerja, tetapi bagian dari iman yang hidup. Ia menghubungkan antara tindakan manusia sehari-hari dengan kesadaran bahwa Allah hadir dalam setiap detail kehidupan. Maka, memperbaiki sesuatu dengan baik bukan hanya soal profesionalisme, tetapi juga bentuk ibadah yang diam-diam.

Kisah pemakaman Sa’ad bin Mu’adz ini dengan demikian tidak berdiri sebagai peristiwa historis semata. Ia menjadi cermin kecil yang memantulkan cara pandang besar tentang hidup: bahwa setiap tindakan manusia, bahkan yang paling sederhana sekalipun, memiliki bobot moral dan spiritual. Menggali tanah, merapikan kubur, menata pekerjaan, semuanya dapat menjadi jalan untuk menghadirkan nilai kesempurnaan yang dicintai Tuhan.

Di tengah dunia kerja modern yang sering kali terjebak dalam target dan angka, pesan ini terasa seperti koreksi yang lembut namun tegas. Bahwa kualitas bukan sekadar strategi, tetapi sikap batin. Bahwa kesempurnaan bukan kemewahan, tetapi kewajiban moral. Dan bahwa dalam setiap pekerjaan, selalu ada ruang untuk menghadirkan “itqan”—kesungguhan yang melampaui sekadar tuntutan hasil.

Baca Juga  Membersihkan Hati dengan Istighfar: Ketika Dosa Tak Lagi Terlihat, Tapi Terasa

Pada akhirnya, kisah ini meninggalkan satu refleksi yang sederhana namun dalam: bahwa hidup bukan hanya tentang apa yang kita kerjakan, tetapi bagaimana kita mengerjakannya. Sebab dalam cara itulah, nilai sebuah perbuatan benar-benar menemukan maknanya.

Baca Juga:

Gaya Hidup Sederhana Nabi Muhammad dan Teladan Kepemimpinan dalam Islam

Jangan Lari dari Dunia: Cara Islam Menyembuhkan Salah Paham tentang Akhirat

Manfaat Haji; Rumah Tuhan untuk Semua, dan Ilusi Kekuatan Musuh

 

Bagikan:
Terkait
Komentar