KHAMENEI.ID— Ada ironi yang sering luput dibicarakan dalam kehidupan beragama modern: seseorang bisa tampak sangat religius di ruang publik, tetapi menjadi pribadi yang melelahkan di dalam rumahnya sendiri. Lisannya fasih berbicara tentang iman, tetapi mudah menyakiti pasangan dan anak-anaknya. Ia menjaga citra di hadapan orang lain, tetapi kehilangan kelembutan di hadapan keluarga. Di titik inilah agama kadang berubah menjadi penampilan sosial, bukan akhlak yang hidup.
Padahal, dalam sebuah riwayat yang dinisbatkan kepada Imam Ali Zainal Abidin a.s, cucu Imam Husain a.s, ada ukuran yang sangat sederhana tentang kesempurnaan Islam seseorang. Ukuran itu tidak berbicara tentang popularitas ibadah, bukan pula tentang penampilan kesalehan yang rumit. Hanya empat hal tetapi justru empat hal yang paling sulit dijaga manusia modern.
Imam Sajjad a.s berkata:
اَربَعٌ مَن کُنَّ فیهِ کَمَلَ اِسلامُهُ وَ مُحِّصَت عَنهُ ذُنوبُهُ وَ لَقِیَ رَبَّهُ عَزَّ وَ جَلَّ وَ هُوَ عَنهُ راضٍ
“Ada empat perkara; siapa yang memilikinya, sempurnalah Islamnya, dosanya dibersihkan, dan ia akan bertemu Tuhannya dalam keadaan diridhai.”
Kalimat pembuka ini terasa sangat besar. Siapa yang tidak ingin dosanya dibersihkan dan pulang kepada Allah SWT dalam keadaan diridhai? Tetapi menariknya, jalan menuju itu ternyata tidak dibangun dengan sesuatu yang spektakuler. Ia justru dimulai dari hal-hal yang tampak biasa.
Yang pertama adalah menunaikan kewajiban kepada Allah SWT.
مَن وَفى للهِ عَزَّ وَ جَلَّ بِما یَجعَلُ عَلى نَفسِهِ لِلنّاس
Maknanya sederhana: menjalankan apa yang diwajibkan Tuhan kepada manusia. Dalam dunia hari ini, banyak orang ingin melakukan hal-hal besar demi agama, tetapi lalai pada kewajiban dasar yang justru menjadi fondasi. Ada yang bersemangat membicarakan isu umat, tetapi shalatnya berantakan. Ada yang rajin menasihati orang lain, tetapi amanah pekerjaannya sendiri diabaikan.
Agama akhirnya dipahami sebagai simbol heroik, bukan disiplin harian. Padahal, ukuran pertama kesalehan justru ada pada konsistensi terhadap kewajiban yang paling mendasar. Sesuatu yang sunyi, tidak selalu terlihat, dan sering tidak mendapatkan tepuk tangan sosial.
Yang kedua adalah kejujuran lisan.
وَ صَدَقَ لِسانُهُ مَعَ النّاسِ
“Lisannya jujur kepada manusia.”
Di zaman media sosial, ini menjadi semakin relevan. Kebohongan hari ini tidak selalu berbentuk dusta besar. Kadang ia hadir dalam bentuk pencitraan. Orang menampilkan hidup seolah penuh kebajikan, padahal kenyataannya berbeda. Ada yang memoles citra religius untuk mendapatkan pengaruh. Ada yang mengaku peduli moral, tetapi gemar memanipulasi informasi.
Manusia modern hidup dalam era ketika kebohongan bisa diproduksi secara massal dan dikemas secara menarik. Karena itu, kejujuran menjadi sesuatu yang mahal. Bukan hanya jujur dalam ucapan, tetapi juga jujur dalam niat, identitas, dan sikap hidup.
Imam Sajjad tampaknya ingin mengatakan bahwa kesalehan tidak akan pernah sempurna jika lisan telah kehilangan integritasnya. Sebab kebohongan bukan hanya merusak hubungan antarmanusia, tetapi juga perlahan menghancurkan nurani pelakunya sendiri.
Yang ketiga mungkin paling menarik sekaligus paling dalam:
وَ استَحیا مِن کُلِّ قَبیحٍ عِندَ اللهِ وَ عِندَ النّاسِ
“Memiliki rasa malu terhadap setiap keburukan di hadapan Tuhan dan manusia.”
Ini bukan berarti manusia tidak pernah berbuat salah. Justru riwayat ini mengakui bahwa manusia memang bisa jatuh dalam dosa. Tetapi ada perbedaan besar antara orang yang tergelincir lalu merasa malu, dengan orang yang melakukan kesalahan tanpa sedikit pun rasa bersalah.
Di sinilah letak krisis besar manusia modern: hilangnya rasa malu terhadap dosa.
Hari ini banyak orang tidak lagi takut memperlihatkan keburukan secara terbuka. Dosa dipamerkan sebagai hiburan. Kekasaran dianggap keberanian. Kelicikan dipuji sebagai kecerdasan. Bahkan sebagian orang merasa bangga melanggar batas moral selama mendapatkan keuntungan sosial atau ekonomi.
Padahal rasa malu adalah alarm batin. Ketika alarm itu mati, manusia bisa melakukan apa saja tanpa merasa ada yang salah. Ia tidak lagi sensitif terhadap dosa karena hatinya mulai terbiasa dengan kegelapan.
Imam Sajjad tidak menuntut manusia menjadi malaikat. Yang beliau tekankan adalah jangan sampai kehilangan kesadaran moral. Jangan menjadi pribadi yang kebal terhadap rasa bersalah.
Dan akhirnya, sampailah pada bagian yang terasa paling menohok:
وَ حَسُنَ خُلُقُهُ مَعَ اَهلِه
“Berakhlak baik kepada keluarganya.”
Kalimat ini pendek, tetapi menyimpan kritik sosial yang sangat besar. Sebab sering kali seseorang berhasil menjadi baik di luar rumah, tetapi gagal menjadi baik di dalam rumah. Ia ramah kepada teman, sopan kepada kolega, lembut kepada orang asing—tetapi keras kepada pasangan dan anak-anaknya sendiri.
Ada orang yang sepanjang hari menahan emosi di luar rumah, lalu melampiaskan seluruh kemarahannya kepada keluarga. Dari luar tampak saleh dan terhormat, tetapi suasana rumahnya dipenuhi ketegangan.
Dalam penjelasan riwayat ini disebutkan dengan sangat tajam: sebagian orang beriman bahkan bisa berubah “seperti Syimr” di rumahnya sendiri—kasar, meledak-ledak, dan menyakitkan. Penyebabnya macam-macam. Bisa karena tekanan pekerjaan, ego yang tak terkendali, atau kebiasaan merasa bahwa keluarga akan selalu memaklumi kemarahan mereka.
Padahal justru di rumahlah kualitas asli seseorang terlihat. Karena di ruang privat, topeng sosial biasanya jatuh. Orang tidak lagi sedang mempertahankan reputasi, melainkan memperlihatkan watak yang sebenarnya.
Mungkin karena itu ukuran kesempurnaan Islam dalam riwayat ini terasa sangat manusiawi. Ia tidak dimulai dari hal-hal besar yang sulit dijangkau, melainkan dari empat penjagaan sederhana: jangan tinggalkan kewajiban, jangan berdusta, jangan kehilangan rasa malu terhadap dosa, dan jangan menyakiti keluarga dengan akhlak yang buruk.
Empat hal itu terdengar ringan. Tetapi justru karena tampak sederhana, manusia sering meremehkannya. Padahal bisa jadi nasib spiritual seseorang lebih banyak ditentukan oleh cara ia berbicara kepada pasangan di rumah dibanding panjangnya ceramah yang ia sampaikan di depan umum.
Pada akhirnya, agama mungkin memang bukan pertama-tama tentang terlihat suci. Agama adalah tentang menjaga hati agar tetap hidup, menjaga lisan agar tetap jujur, menjaga rasa malu agar nurani tidak mati, dan menjaga rumah agar tidak menjadi tempat paling menyakitkan bagi orang-orang yang kita cintai.
Sebab ada banyak orang yang terlihat dekat dengan Tuhan di tempat ibadah, tetapi gagal menghadirkan rahmat Tuhan di dalam keluarganya sendiri.







