KHAMENEI.ID– Ada masa ketika sebuah perbedaan kecil di dalam pemerintahan tiba-tiba dibaca sebagai pertanda keretakan besar. Satu keputusan yang diperdebatkan, satu persoalan kelembagaan, atau satu ketegangan antarpejabat dapat berubah menjadi berita tentang “krisis”. Bukan karena persoalannya memang sebesar itu, melainkan karena ada pihak yang menunggu celah untuk membesarkannya.
Gambaran semacam itu muncul dalam pidato Ayatollah Sayyid Ali Khamenei qs ketika bertemu masyarakat Provinsi Fars. Ia menyinggung bagaimana sebuah persoalan yang, menurutnya, tidak terlalu besar dapat dengan cepat berubah menjadi kegaduhan internasional. Media asing, segera menarik kesimpulan bahwa telah terjadi keretakan di dalam sistem Republik Islam, munculnya pemerintahan ganda, bahkan ketidakpatuhan presiden terhadap pemimpin tertinggi.
Yang menarik bukan semata-mata tuduhan itu, melainkan cara sebuah konflik politik bekerja di hadapan publik: fakta yang kecil dapat memperoleh tubuh yang jauh lebih besar setelah masuk ke dalam mesin pemberitaan.
Dalam beberapa hari saja, satu persoalan administratif dapat berubah menjadi narasi tentang perpecahan negara. Satu perbedaan pandangan dapat ditafsirkan sebagai pertarungan kekuasaan. Di dunia politik, ukuran sebuah peristiwa sering kali tidak lagi ditentukan oleh bobot masalahnya, melainkan oleh seberapa keras ia dipantulkan oleh media.
Di titik ini, politik tidak hanya berurusan dengan keputusan. Ia juga berurusan dengan persepsi.
Syahid Ali Khamenei qs menggunakan perumpamaan yang keras: pihak-pihak yang menunggu kesempatan digambarkan seperti serigala yang mengintai. Mereka tidak selalu membutuhkan persoalan besar. Cukup sebuah celah. Dari celah itulah sebuah narasi dapat dibangun, diperbesar, lalu diarahkan untuk mengguncang kepercayaan publik terhadap pemerintahan.
Namun ada sisi lain dari pernyataan itu yang lebih penting. Ia menolak menjadikan perselisihan personal sebagai ukuran utama dalam menilai sebuah pemerintahan. Baginya, yang harus diperhatikan adalah pekerjaan, arah kebijakan, dan pelayanan kepada masyarakat.
Ia mengatakan bahwa dukungan diberikan bukan karena seseorang menyandang jabatan tertentu, melainkan karena pekerjaan yang dilakukan benar-benar membawa manfaat. Jika pemerintah bekerja dan melayani rakyat, dukungan diberikan. Jika ada usaha yang sungguh-sungguh, usaha itulah yang dinilai.
Cara pandang tersebut menyimpan sebuah pertanyaan yang relevan jauh melampaui konteks politik Iran: apa sebenarnya ukuran keberhasilan sebuah pemerintahan?
Apakah ia diukur dari seberapa rapi hubungan antarelite? Apakah dari seberapa jarang perbedaan pendapat muncul di ruang publik? Ataukah justru dari kemampuan negara mengubah kekuasaan menjadi pelayanan?
Sebuah pemerintahan yang bekerja tentu tidak selalu tampak harmonis. Orang-orang yang bekerja dapat berbeda pendapat. Institusi dapat memiliki kewenangan yang berbeda. Bahkan pemimpin dapat memiliki pandangan yang tidak sepenuhnya sama mengenai cara mencapai sebuah tujuan. Perbedaan semacam itu tidak dengan sendirinya berarti kehancuran.
Justru persoalannya menjadi lebih rumit ketika masyarakat dibiasakan menganggap setiap perbedaan sebagai tanda keretakan.
Dalam konteks yang lebih luas, kehidupan politik modern memang sering terjebak dalam obsesi terhadap konflik. Berita tentang dua pejabat yang berbeda pendapat lebih mudah menarik perhatian daripada berita tentang ribuan keputusan administratif yang berjalan tanpa kegaduhan. Perselisihan lebih mudah menjadi tajuk utama daripada pekerjaan rutin yang diam-diam menyelesaikan persoalan masyarakat.
Akibatnya, publik dapat kehilangan kemampuan membedakan antara perbedaan dan perpecahan.
Padahal keduanya tidak sama.
Perbedaan dapat menjadi bagian dari mekanisme pemerintahan. Ia bahkan dapat diperlukan agar sebuah keputusan tidak lahir dari keseragaman yang membutakan. Perpecahan adalah perkara lain: ketika kepentingan pribadi, perebutan kekuasaan, dan hilangnya orientasi bersama membuat institusi berhenti bekerja.
Karena itu, ukuran yang lebih masuk akal bukanlah ada atau tidaknya perbedaan, melainkan apakah negara masih mampu bekerja di tengah perbedaan tersebut.
Syahid Ali Khamenei qs juga menegaskan batas kewenangan antara dirinya dan pemerintah. Menurutnya, masing-masing pejabat memiliki tanggung jawab yang telah ditentukan konstitusi. Ia tidak bermaksud masuk ke dalam setiap keputusan pemerintah. Intervensi, dalam pandangannya, diperlukan hanya ketika sebuah kepentingan besar dianggap terancam atau terabaikan.
Pernyataan itu memperlihatkan satu ketegangan klasik dalam politik: bagaimana menjaga batas kewenangan sekaligus memastikan kepentingan yang lebih besar tidak dikorbankan.
Di sinilah sebuah pemerintahan diuji. Bukan ketika semua orang berbicara dengan suara yang sama, melainkan ketika perbedaan muncul dan institusi tetap mampu menjaga arah.
Sebab, pada akhirnya, negara bukan panggung untuk memperlihatkan bahwa para penguasanya selalu sepakat. Negara adalah mesin besar yang seharusnya tetap bergerak ketika para pengelolanya berbeda pandangan.
Ada sesuatu yang ironis dalam kegaduhan politik. Sering kali masyarakat justru lebih sibuk menyaksikan siapa yang menang dalam sebuah pertengkaran elite daripada bertanya apakah kehidupan mereka menjadi lebih baik setelah pertengkaran itu selesai.
Di tengah banjir informasi, pertanyaan yang paling sederhana justru mudah hilang: apa yang benar-benar dikerjakan?
Pertanyaan itu mungkin jauh lebih penting daripada siapa yang paling keras berbicara, siapa yang paling banyak diberitakan, atau siapa yang dianggap sedang berselisih dengan siapa.
Sebab sebuah negara tidak dibangun oleh kesan bahwa semuanya baik-baik saja. Ia dibangun oleh pekerjaan yang nyata, pelayanan yang sampai kepada rakyat, kebijakan yang berjalan, tanggung jawab yang ditunaikan, dan kekuasaan yang tidak kehilangan tujuan.
Dan mungkin di situlah kita perlu berhati-hati terhadap setiap kegaduhan. Tidak semua suara keras menandakan badai. Tidak setiap perbedaan berarti retak. Kadang-kadang, yang tampak sebagai krisis hanyalah bayangan yang dibuat terlalu besar oleh cahaya pemberitaan.
Pada akhirnya, waktu memiliki cara sendiri untuk menguji semua narasi. Ia akan menyingkirkan kegaduhan dan menyisakan sesuatu yang lebih sulit dipalsukan: hasil dari sebuah pekerjaan.







