KHAMENEI.ID – Tidak semua gerakan lahir dari kekuatan senjata. Sebagian justru bertahan karena memiliki keyakinan yang lebih kuat daripada rasa takut. Itulah yang membuat sebuah gerakan mampu melampaui batas negara, pergantian generasi, bahkan kehilangan para pemimpinnya. Dalam pandangan Imam Ali Khamenei qs, itulah hakikat muqawamah atau perlawanan—sebuah konsep yang selama beberapa dekade membentuk dinamika politik di Asia Barat.
Dalam salah satu ceramahnya, Imam Ali Khamenei menjelaskan bahwa perlawanan bukan sekadar respons terhadap konflik dengan Israel. Resistensi, menurutnya, adalah sikap menghadapi segala bentuk dominasi dan hegemoni yang dilakukan kekuatan-kekuatan yang ia sebut sebagai istikbar atau kekuatan arogan dunia. Amerika Serikat dipandang sebagai puncak dari struktur tersebut, tetapi bukan satu-satunya aktor yang menjadi sasaran kritik. Selama terdapat upaya dominasi atas bangsa lain, selama itu pula semangat perlawanan dianggap memiliki alasan untuk tetap hidup.
Namun menariknya, di tengah pembicaraan tentang perjuangan dan konfrontasi, Imam Khamenei justru meletakkan satu prinsip yang sering terlupakan: keadilan.
Ruh Baru Perlawanan
Dalam pandangan Imam Khamenei, salah satu tokoh yang memberi napas baru bagi gerakan perlawanan adalah Syahid Jenderal Qassem Soleimani. Ia tidak menggambarkannya semata sebagai seorang komandan militer, melainkan sebagai sosok yang membangun manusia, menghidupkan harapan, dan memperkuat jaringan perlawanan, baik secara spiritual maupun material.
Imam Khamenei mengungkapkan bahwa penilaiannya itu lahir dari pengalaman langsung menyaksikan aktivitas Soleimani selama bertahun-tahun. Menurutnya, peran utama Soleimani bukan hanya membantu memperkuat kemampuan pertahanan kelompok-kelompok perlawanan, tetapi juga menanamkan keyakinan, arah perjuangan, dan semangat moral kepada mereka.
Dalam ceramah tersebut, Imam Khamenei bahkan mengutip kesaksian Sayyid Hasan Nasrallah yang menyebut bahwa Soleimani telah menghidupkan kembali gerakan perlawanan. Bagi Imam Khamenei, kesaksian itu bukan sekadar pujian pribadi, melainkan pengakuan atas peran seorang pemimpin yang mampu menyatukan visi berbagai kelompok di kawasan.
Ia menggambarkan Soleimani sebagai orang yang tidak hanya menunjukkan jalan, tetapi juga menggandeng mereka yang sedang kehilangan arah. Di saat yang sama, ia memperkuat kapasitas mereka untuk bertahan menghadapi tekanan politik maupun militer.
Perlawanan Tidak Boleh Menghapus Keadilan
Di tengah pembahasan mengenai perjuangan melawan dominasi global, Imam Khamenei menyisipkan sebuah prinsip Al-Qur’an yang menurutnya menjadi fondasi moral setiap bentuk perlawanan. Ia mengutip firman Allah:
وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ أَلَّا تَعْدِلُوا ۚ اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ
“Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa.” (QS. Al-Ma’idah [5]: 8, Terjemahan Kemenag RI)
Bagi Imam Khamenei, ayat ini menjadi batas moral yang tidak boleh dilanggar. Musuh tetaplah musuh, tetapi permusuhan tidak boleh berubah menjadi kezaliman. Bahkan terhadap orang yang memusuhi Islam sekalipun, seorang Muslim tidak dibenarkan menghilangkan prinsip keadilan.
Ia mengungkapkan sebuah renungan yang sangat personal. Menurutnya, salah satu keadaan yang paling menyakitkan di Hari Kiamat adalah apabila seseorang dituntut oleh orang lain karena pernah berbuat zalim kepadanya, bahkan jika orang tersebut adalah musuh atau orang yang tidak beriman. Gambaran itu menunjukkan bahwa keadilan dalam Islam tidak bergantung pada identitas lawan, melainkan pada kebenaran tindakan.
Dengan kata lain, keadilan tidak mengenal pengecualian.
Melawan Dominasi sebagai Bagian dari Keadilan
Dalam pemikiran Imam Khamenei, perjuangan melawan dominasi global bukan sekadar pilihan politik, tetapi juga bagian dari tuntutan keadilan. Ia menilai bahwa banyak orang berbicara tentang keadilan sosial, hak asasi manusia, atau pembelaan terhadap kaum tertindas, tetapi melupakan bahwa penolakan terhadap kolonialisme, hegemoni, dan intervensi asing juga merupakan manifestasi dari nilai keadilan itu sendiri.
Karena itu, menurutnya, perjuangan menghadapi kekuatan-kekuatan yang dianggap menindas bangsa lain tidak dapat dipisahkan dari cita-cita menegakkan keadilan internasional.
Pandangan tersebut menunjukkan bahwa dalam kerangka berpikir Imam Khamenei, konsep resistensi tidak berdiri sendiri. Ia selalu diikat oleh prinsip-prinsip moral yang berasal dari ajaran Islam. Perlawanan tidak boleh berubah menjadi balas dendam tanpa batas. Kemenangan tidak boleh diraih melalui kezaliman. Dan perjuangan tidak boleh kehilangan kompas etiknya.
Ketika Keadilan Menjadi Ukuran Perjuangan
Ceramah Imam Ali Khamenei menghadirkan satu pesan yang menarik untuk direnungkan. Di tengah dunia yang semakin terpolarisasi, ketika konflik sering melahirkan kebencian yang membabi buta, ia justru mengingatkan bahwa ukuran utama perjuangan bukanlah seberapa besar kebencian kepada lawan, melainkan seberapa teguh seseorang menjaga keadilan.
Dalam perspektif ini, perlawanan bukanlah proyek untuk melanggengkan permusuhan, melainkan usaha mempertahankan martabat manusia dari dominasi dan penindasan tanpa meninggalkan nilai-nilai moral yang diajarkan Al-Qur’an.
Boleh jadi di sinilah letak tantangan terbesar setiap gerakan: tidak hanya mampu bertahan menghadapi tekanan, tetapi juga tetap adil ketika memiliki alasan untuk membenci. Sebab, menurut pemikiran Imam Ali Khamenei, kemenangan yang mengorbankan keadilan bukanlah kemenangan yang diajarkan Islam.







